
Di dalam Oemah Jamu itu Indi mencoba bekerja dengan tenang. Para staf dari Sido Mulya dan tim desainer yang Indi bawa dari kantor ayahnya juga tidak bertanya aneh-aneh. Sebab, memang pernikahannya tidak diumumkan kepada siapa pun. Untuk seluruh pekerja di kantor ayahnya saja tidak ada yang tahu.
Yang tahu benar-benar hanya keluarga Hadinata, keluarga Eyang Agus dari Solo, keluarga Eyang Dirja, dan keluarga Pak Agus. Sementara dari kalangan keluarga Satria, Bu Galuh dan Sitha yang datang. Sebenarnya, mungkin saja Rama Bima mengetahui dari Bu Galuh atau Sitha, yang pasti Rama Bima tidak datang.
Hingga Senin, ketika Indi kembali bekerja Karina tahu kalau Indi adalah istrinya Satria. Sekaligus, Karina tahu bahwa wanita yang menjadi pilihan Satria rupanya adalah desainer dari Oemah Jamu. Yang masih menjadi pertanyaan Karina adalah kenapa Satria bisa jatuh cinta kepada wanita sangat sederhana seperti Indi. Karina pikir Satria akan menyukai wanita modern dan tampil stylist sepertinya.
"Kenapa bisa kamu menikah dengan Satria?" tanya Karina kepada Indi sekarang.
"Simpel, kami saling mencintai," balas Indi.
"Walau kamu tahu, dia jodohku?" tanya Karina.
"Tahu, tapi cinta dan perasaan di hati tidak bisa dipaksakan. Jauh sebelum dia dijodohkan denganmu, kami sudah berhubungan terlebih dahulu," balas Indi.
Indi hanya mencoba memberitahukan yang sebenarnya bahwa hubungannya dengan Satria sudah berlangsung sejak mereka kuliah. Hanya saja, memang mereka baru jadian menjelang skripsi. Sebelumnya mereka berteman dekat di kuliah.
"Kamu terlalu percaya diri, Indi. Harusnya kamu tahu bukan bahwa Satria sudah dijodohkan denganku. Apakah pantas wanita baik-baik menikahi pria yang nyata-nyata dijodohkan dengan orang lain?" tanya Karina.
Sorot mata tajam Karina tampak mengintimidasi Indi, tapi Indi justru tersenyum di sana. Sebab, jika Rama Bima bisa menerima satu kekurangan terbesar dalam dirinya, pastilah dia sudah menikah dengan Satria beberapa bulan sebelumnya.
"Aku biasa saja, yang pasti aku tidak merebut suami wanita lain," balas Indi.
"Sialan kamu, In!"
Karina terlihat sangat kesal dan dia sangat tak suka dengan Indi yang begitu percaya diri. Usai itu, Indi memilih beranjak pergi dan menyelesaikan desainnya. Selain itu, Indi juga mengamati langsung pemasangan beberapa kayu dan juga untuk furniture yang sudah dirancang sesuai dengan konsep.
Wanita itu benar-benar fokus dengan pekerjaannya. Bahkan ketika ada anggota timnya yang bertanya, Indi pun tak segan untuk membantu. Bekerja secara tim, jadi Indi memang tak segan untuk membantu ke sana dan ke sini.
Akhirnya sepanjang hari bekerja terlewati. Namun, sebelum jam bekerja usai, di Oemah Jamu kedatangan Rama Bima. Praktis beberapa pengerja menyapa sang pemilik Oemah Jamu itu tersebut.
__ADS_1
Selain itu, rupanya Rama Bima juga menyempatkan untuk menemui Indi dan menanyakan berapa persen progress Oemah Jamu ini.
"Berapa persen progressnya, apakah bisa soft launching pada bulan depan?" tanyanya.
"Sejauh ini sudah 70%, semua ruangan sudah, dan usai ini beralih untuk ruang terdepan," balas Indi.
Tidak hanya itu, Indi dan Karina juga beberapa staf menemani sang Owner mengecek beberapa sudut yang memang sudah selesai. Pemilihan bahan, disesuaikan dengan konsep Jawa terasa begitu kental. Ada beberapa batik yang menghiasi dinding untuk menambah kesan tradisional dan etnik dalam tempat itu.
"Kira-kira bisa tidak kalau saya merekrutmen karyawan sekarang?" tanya Rama Bima.
"Menurut Karin bisa Rama. Masih ada waktu untuk memberikan training. Kurang lebih satu bulan, bisa mulai rekrutmen dari sekarang," jawab Karina.
Beberapa detik setelahnya, Indi kemudian mengemukakan pendapatnya. "Maaf, Pak ... kalau menurut saya tunda dulu satu atau dua pekan, supaya bagian terdepan sudah terdesain dengan baik. Setelah itu, kita buat promosi dengan menunjuk Oemah Jamu ini, dengan layouting yang sedemikian rupa. Sehingga jauh lebih siap dan untuk wawancara pun bisa sekaligus di tempat ini," jawab Indi.
Dia hanya memberikan asumsi bahwa strategi promosi dan rekrutmen sekarang sudah berbeda. Pembuatan banner promosi juga menunjukkan keunikan dan daya jual, Indi hanya ingin melakukan branding untuk Oemah Jamu itu. Rekrutmen dan sekaligus promosi yang bisa dilakukan bersama-sama.
Indi kemudian menunjukkan strategi rekrutmen yang dia dapatkan dari sebuah youtube. "Dari rekrutmen hotel ini, tim akan melayout sedemikian rupa apa keunikan tempat ini dan nilai jualnya. Saya rasa Oemah Jamu ini juga memiliki nilai jual yang tinggi, yang dijangkau bukan hanya kalangan tua, tapi generasi milenials juga. Bagaimana jamu yang adalah minuman tradisional dan lekat dengan orang tua bisa juga dikonsumsi anak-anak muda."
Indi menjelaskan semuanya. Walau strategi promosi dan marketing bukan keahliannya, tapi Indi memang belajar sendiri. Sayang jika Oemah Jamu yang bagus dan mengusung konsep etnik ini tidak menunjukkan nilai jualnya.
"Heh, jangan sok yah kamu," cibir Karina kepada Indi.
"Bukan sok, tapi open rekrutmen harus dengan timing yang tepat. Sembari rekrutmen kita bisa sebar banner atau semacamnya untuk promosi, dengan demikian rekrutmen dan promosi bisa sekaligus berjalan," balas Indi.
Sungguh, Indi tidak takut dengan Karina. Timing yang tepat itu sangat dibutuhkan dalam sebuah bisnis. Hal ini Indi pelajari langsung dari Kafe Batik milik Bundanya, di mana keduanya berjalan bersama. Bahkan, Kafe Batik adalah ruangan khusus di mana anak-anak dan anak muda bisa belajar membatik. Semua itu difasilitasi dan menjadi nilai jual tentunya.
"Sudah tidak usah bertengkar," kata Rama Bima.
Sementara itu Karina masih terlihat kesal dengan Indi. Di mata Karina tetap saja Indi sok-sokan saja dan juga berusaha mengambil hati Rama Bima.
__ADS_1
"Baiklah, saya akan menunda rekrutmen untuk dua pekan ke depan. Karina nanti siapkan tim promosi dan buat layouting yah," kata Rama Bima kepada Karina.
"Baik, Rama," balas Karina.
Merasa sudah tidak ada yang dibicarakan, Indi memilih pergi. Sudah sore, dan bisa saja Satria sudah menjemputnya. Maka dari itu, Indi segera mengambil tasnya. Namun, kala dia mau pulang Rama Bima memanggilnya lagi dan menghentikan langkah kakinya.
"Bisa saya berbicara sebentar?" tanya Rama Bima.
Indi menganggukkan kepalanya. Apakah ini akan terkait pernikahannya dengan Satria yang dilaksanakan dua hari yang lalu? Itu hanya sekadar terkaan Indi saja.
"Ya, ada apa?" tanya Indi dengan sopan.
"Jadi, benar kamu sudah menikah dengan Satria? Kenapa sekarang kamu bersikap biasa saja?" tanya sang Rama.
"Tidak perlu menunjukkan semua perasaan secara berlebihan, Bapak," balas Indi.
"Tentu kamu tahu bukan kalau saya ...."
"Ya, saya sangat tahu kalau pernikahan kami tanpa restu dari Anda," jawab Indi memotong ucapan Rama Bima.
Rama Bima mengamati Indi, tapi terlihat Indi yang gigih dan tidak melepaskan apa yang sudah menjadi miliknya.
"Kalau sampai kapan pun, saya tidak memberikan restu dan pernikahan kalian tidak bahagia?"
Indi yang semula menunduk kemudian menatap pria jelang paruh baya di hadapannya itu. "Semua orang tua menginginkan anak-anaknya bahagia, Bapak. Anak walau sudah besar dan dewasa, ketika mereka sakit, orang tua turut merasakannya. Saya percaya sepenuhnya kepada Allah. Kebahagiaan dan yang lain akan silih berganti dalam hidup manusia, tapi Allah yang maha pengasih dan maha penyayang menyayangi hambanya. Orang tua yang adalah wali Allah di dunia tentunya akan menyayangi dan mengasihi anak-anaknya."
Rama Bima terdiam, kemudian Indi berpamitan kepada ayahanda suaminya itu."Baiklah, Bapak Bima Negara, saya mohon pamit," pamit Indi.
Rama Bima benar-benar tidak menyangka kalau wanita yang dinikahi Satria adalah wanita yang tergolong suka berdebat. Walau begitu Rama Bima sendiri percaya bahwa rumah tangga yang tanpa restu tidak akan pernah bahagia.
__ADS_1