Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Positive!


__ADS_3

Keesokan harinya, Satria benar-benar mengajak Indi ke Rumah Sakit, khususnya ke Poli Kandungan. Sebelumnya Satria sudah mendaftarkan Indi terlebih dahulu, sehingga harapannya sih mereka tidak akan menunggu terlalu lama. Kali ini Satria hanya berdua saja dengan Indi, tapi keduanya jujur kala menitipkan Nakula dan Sadewa ke rumah Eyangnya karena ingin periksa. Bukan periksa kandungan, tapi karena Satria mengaku kurang enak badan, sehingga akan periksa ke Dokter terlebih dahulu.


Untung saja Bunda Ervita dan Ayah Pandu percaya. Sehingga, keduanya tidak merasa bersalah menitipkan Nakula dan Sadewa. Tujuan mereka juga memang ke Rumah Sakit.


"Rasanya seperti baru kemarin mengantar kamu ke Rumah Sakit, sekarang nganterin kamu lagi ke Rumah Sakit," kata Satria.


"Sudah empat tahunan lalu, Mas. Enggak kerasa saja," balas Indi.


"Mungkin kalau waktunya itu benar-benar dinikmati rasanya tidak lama ya, Sayang. Mengalir begitu saja," balas Satria.


"Bisa jadi. Kita terlalu melewati momen demi momen berdua, berempat, dan nanti ber-berapa lagi," balas Indi dengan terkekeh perlahan.


Ya, saat mereka baru menikah, momen keseharian dijalani berdua saja. Hingga kemudian lahirlah Nakula dan Sadewa bagi keduanya, sehingga hari-hari di jalani berempat. Lantas, setelahnya ... akan dijalani lagi dengan adik dari Nakula dan Sadewa.


"Pasti, Sayang. Yang pasti kita akan menjalani momen itu bersama. Tidak akan pernah melewatkannya," balas Satria.


Hingga akhirnya Satria yang mendaftarkan Indi. Sama seperti dulu, jika Satria bisa, dia lebih senang jika istrinya duduk saja. Kecuali untuk pertanyaan yang memang harus dijawab oleh Indi seperti kapan Haid Pertama dan Haid Terakhir. Otomatis Satria tidak bisa menjawab itu.


"Kamu mirip banget kayak pas aku hamil Nang-Nang dulu," kata Indi.


"Menikah bukan hanya hangat saat masih menjadi pengantin baru. Kalau bisa sepanjang waktu itu hangat, Sayang. Romantis sampai tua," balas Satria.


Apa yang dikatakan Satria membuat Indi tersenyum. Jujur, di dalam hati Indi juga menginginkan bisa selalu hangat dengan suaminya. Biasanya semakin lama tahun-tahun pernikahan akan terasa hambar. Api itu perlahan padam, hanya menyisakan rasa suam-suam saja. Tak ayal kehidupan rumah tangga hanya sebatas bertahan dan menjalaninya saja. Namun, ketika ada momen yang selalu dijalani, ada api yang selalu dipercikkan, semakin lama rasa hangat itu bisa bertambah.


"Menua bersama dalam kehangatan yah, Mas," kata Indi.

__ADS_1


"Benar, Sayangku. Sampai nanti aku keriput dan rambutku memutih, jangan bosen. Jangan padamkan api cinta kita yah," balas Satria.


Indi lagi-lagi tersenyum. Tak bisa membayangkan suaminya yang tampan itu semakin tahun akan semakin menua, kulit keriput, dan rambut yang memutih. Akan tetapi, andai itu terjadi Indi akan selalu jatuh cinta kepada suaminya itu.


"Mungkin kamu akan akan tetap tampan dengan rambut yang memutih nanti," kata Indi.


"Masak? Hanya rambutku yang memutih, hatiku tetap merah untuk selalu mencintaimu," balas Satria.


Lantaran banyak obrolan dan ucapan Satria yang mengandung begitu banyak glukosa. Lebih dari setengah jam menunggu juga tidak berasa. Tahu-tahu nama Indi sudah dipanggil begitu saja.


"Mom Indira," panggil seorang perawat.


"Ya."


Indi dan Satria kemudian berdiri dan bersama-sama memasuki ruangan Dokter Arsy. Dokter Spesialis Kandungan yang dulu membantu Indi selama mengandung Nakula dan Sadewa.


"Waalaikumsalam. Halo, apakabar. Wah, ketemu lagi setelah lebih dari tiga tahun kan?" tanya Dokter Arsy.


Rupanya Dokter Arsy juga masih mengingat bahwa Indi adalah salah satu pasiennya. Walau sudah tiga tahun, tapi Dokter Arsy masih mengingat Indi. Senang rasanya bisa bertemu lagi dengan Dokter yang pernah membantunya.


"Iya, Nakula dan Sadewa sendiri sudah 3,5 tahun sekarang. Berarti lebih dari empat tahun jika dihitung masa kehamilan sembilan bulan," balas Indi.


"Wah, terhitung lama. Nah, sekarang apa yang bisa dibantu Mom. Ingin memasang kontrasepsi atau yang lain?" tanya Dokter Arsy.


Sebelum menjawab, Indi tersenyum terlebih dahulu. Kemudian pelan-pelan barulah Indi menceritakan kepada Dokter Arsy. "Sebenarnya begini, Dokter. Saya tidak ingin memasang kontrasepsi sih, tapi beberapa hari lalu suami saya mual dan muntah di pagi hari. Seperti morning sickness, lalu saya ngobrol kan dengan Bunda saya, katanya bisa saja suami mual dan muntah itu karena Couvade Syndrom. Jadi, saya berinisiatif untuk melakukan tes kehamilan. Rupanya hasilnya positif, dua garis. Jadi, saya datang untuk semakin memperjelas apakah beneran positif," cerita Indi.

__ADS_1


"Baik, Mom. Kalau dihitung dari Haid Pertama Haid Terakhir termasuk hampir dua bulan. Jadi, bisa saja. Akan tetapi, kita cek bersama-sama yah, Mom."


Mulailah Indi dipersilakan untuk naik ke atas brankar. Kemudian karena mengingat kehamilan masih muda dan melihat rahim serta bakal janin dengan lebih jelas, maka Dokter Arsy melakukan USG Transvagi-nal kepada Indi.


"Saya menggunakan USG Transvagi-nal yah, Mom. Tarik napas, dan ... jangan berpikiran yang aneh-aneh sekarang," kata Dokter Arsy.


Indi sedikit menghela napas karena dimasuki transducer dengan tiba-tiba rasanya tidak nyaman. Namun, memang USG ini disarankan untuk Bumil yang tengah hamil muda. Kemudian, Dokter Arsy mempersilakan Indi dan Satria untuk melihat ke monitor.


"Test kehamilannya kapan, Mom?" tanyanya.


"Sekitaran tiga hari yang lalu," jawab Indi.


Dari jawaban yang Indi berikan sekaligus Satria mengetahui kapan istrinya itu melakukan test kehamilan sembunyi-sembunyi. Namun, Satria tidak marah sama sekali karena memang itu Indi lakukan untuk memberikan kejutan baginya. Ada alasan yang kuat di balik sikap Indi itu.


"Dua garis yah, Mom?" tanya Dokter Arsy lagi.


"Benar, Dokter. Dua garis, saya menggunakan testpack digital, dan hasilnya positif yang tertera di layarnya, Dokter."


Dokter Arsy menganggukkan kepalanya. Kemudian Dokter Arsy menjelaskan hasil yang terlihat di monitor juga kepada Indi dan Satria.


"Jadi, hasilnya sesuai dengan test kehamilannya yah Mom. Mom positif di sini," kata Dokter Arsy.


Seketika Indi dan Satria saling tatap untuk sesaat. Wajah keduanya sama-sama tersenyum sekarang. Hasilnya benar-benar positif. Bukan hanya sebatas apa yang tertera di testpack. Akan tetapi, hasil dengan USG juga menunjukkan hal yang sama.


"Alhamdulillah," kata Indi dan Satria bersamaan dengan lirih.

__ADS_1


"Benar, hasilnya positif. Selamat yah Mom Indi dan suami, kembali dipercaya Allah untuk memiliki buah hati lagi, menambah momongan," kata Dokter Arsy.


Menambah momongan juga adalah kepercayaan dari Tuhan. Ada yang sekian tahun lamanya menikah dan tidak menggunakan kontrasepsi, tapi belum dikarunia keturunan. Hanya yang memiliki satu anak, berniat menambah momongan, tapi juga belum Allah beri. Sehingga memang buah hati itu adalah ridho dari Allah. Pemberian terindah dan manusia harus bertanggung jawab untuk apa yang Allah berikan.


__ADS_2