Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Babies Girl or Boy?


__ADS_3

Bisa mengetahui dan melihat sendiri bagaimana dia janin saling berhadap-hadapan membuat Indi dan Satria begitu merasa gemas. Dalam ruang yang tidak begitu luas, hanya rahim saja, tapi keduanya tinggal dan tumbuh bersama hingga usia kehamilan mencapai 40 minggu nanti.


"Janinnya sehat berarti ya Dokter?" tanya Indi sekarang.


"Sangat sehat, Mom. Berat badannya juga mencukupi. Sudah mulai terasa denyutannya Babiesnya belum nih?" tanya Dokter Arsy.


Indi tampak menggelengkan kepalanya. "Mungkin saya yang kurang peka ya, Dokter. Belum kerasa soalnya."


"Ditunggu bagaimana nanti tendangan dari kedua buah dan hatinya. Mom pengen melihat jenis kelamin buah hatinya tidak?" tanya Dokter Arsya.


Indi dan Satria sama-sama menganggukkan kepalanya. Tentu mereka sangat senang jika sudah mengetahui jenis kelamin bayinya. Selain itu, Indi dan Satria juga tidak memiliki request khusus. Mau anak laki-laki atau perempuan sama saja untuk keduanya.


"Mom sama suaminya pengennya Twins berjenis kelamin apa nih?" tanya Dokter Arsy.


"Apa saja tidak masalah kok, Dokter," balas Satria sekarang.


Indi yang masih menjalani pemeriksaan dengan USG turut menganggukkan kepalanya. Dia sepenuhnya seperti Satria. Anak adalah anugerah dari Allah. Mau berjenis kelamin laki-laki atau perempuan tidak masalah untuk keduanya. Dari keluarga Hadinata dan Negara juga sama-sama tidak memaksakan harus memiliki bayi dengan jenis kelamin tertentu. Yang selalu ditekankan Bunda Ervita dan Bu Galuh adalah Indi selalu sehat dan juga persalinan nanti juga berjalan lancar dan selamat.


"Oke, saya akan melihat jenis kelamin Dedek Bayinya yah."


Transducer pun di arahkan dengan tangan Dokter Arsy yang seolah memutar di perutnya Indi dan ada sedikit tekanan di sana. Hingga akhirnya Dokter Arsy tersenyum terlebih dahulu.


"Mamanya akan menjadi yang paling cantik ini di rumah ... selamat yah kedua bayinya berjenis kelamin laki-laki. Babies Boy," kata Dokter Arsy.


Indi dan Satria sama-sama tersenyum lagi. Tidak mengira bahwa keduanya dikaruniai Allah dua bayi laki-laki. Sungguh, Indi bahagia. Dua bayi laki-laki, artinya dia memiliki banyak jagoan di rumah untuk menjaganya.


"Alhamdulillah," balas Indi dan Satria bersama-sama.

__ADS_1


Usai itu pemeriksaan dengan USG pun diakhiri, Dokter Arsy mencetakkan dahulu hasil pemeriksaan USG. Sementara ada perawat yang membersihkan sisa USG di perutnya Indi, merapikan bajunya kembali, dan kemudian Indi turun dari brankar, sudah ada tangan Satria yang menyambutnya dan membantu Indi untuk duduk.


"Nanti saya akan mulai memberikan Kalsium yah, Mom. Sudah memasuki masa pembentukan tulang rawan untuk bayinya. Mom dan Suami juga kalau berhubungan dibolehkan. Sudah mulai ada plasenta sehingga bayi sudah lebih kuat. Namun, hindari terlalu banyak stimulasi di area dada yah," kata Dokter Arsy.


Indi dan Satria sama-sama menganggukkan kepalanya. Jujur, sejak Indi hamil, keduanya jarang berhubungan. Semua itu karena Satria ingat bahwa bayinya tak boleh terlalu banyak terkena cairan berisikan hormon Prostalglandin miliknya. Untung saja Satrianya sabar dan tidak uring-uringan. Satria sabar karena berpikir ingin kedua janinnya juga sehat selalu.


"Baik Dokter. Walau sebenarnya takut," balas Indi.


Dokter Arsy kemudian tersenyum. "Tidak apa-apa, Bu. Kan sudah mau 20 minggu juga. Janinnya juga baik dan sehat, juga jangan menekan perut yah. Kasihan babynya," imbuh Dokter Arsy.


Menyudahi pemeriksaan, Indi dan Satria berpamitan kemudian mereka menuju ke apotek dan membayar semua biaya pemeriksaan. Satria yang berdiri dan mengurus semuanya, sementara Indi duduk. Dia tersenyum sendiri mengamati suaminya dan juga bagaimana nanti dua bayinya tumbuh.


"Kok bengong, Sayang?" tanya Satria.


"Ngebayangin di rumah kita nanti dihuni para pria," balas Indi.


Indi kemudian berbicara kepada suaminya. "Kebalikan dengan di rumahku, Yayah lah yang menjadi pelindung dan penjaga untuk Nda, aku, dan Irene. Sementara nanti di rumah kita, ada tiga cowok. Para penjaga Mamanya," cerita Indi.


"Benar. Di rumah kamu, Yayah Pandu yang paling tangguh yah. Berarti Yayah kamu hebat, Yang. Bisa memahami tiga wanita. Tak mudah memahami hati wanita, tapi Yayah bisa loh," balas Satria.


"Maksudnya?"


"Kan wanita itu kadang bilangnya terserah, padahal mau nya apa. Ditanya pengen apa terserah, setelah dibeliin gak sesuai yang diminta. Nanti ngambeknya diem. Heheheh, Yayah paling kuat berarti," balas Satria.


Indi kemudian memanyunkan bibirnya. Mungkinkah Yayahnya selama ini seperti itu. Namun, kalau mengingat ketika jalan-jalan ke Mall dengan Yayahnya, pastilah Yayah yang akan menuruti keinginan Nda, Indi, dan Irene. Yayah yang selalu menyerahkan dompetnya kepada Bunda Ervita untuk membayar semuanya. Yayah Pandu bukan hanya sabar, tapi sangat bisa momong istri dan anak-anaknya.


"Besok kita balikan, penjaganya Mama yang jauh lebih banyak. Usai Twins, program hamil cewek aja, Sayang. Biar rame rumahnya. Biar punya baby girl yang secantik Mama Didi," balas Satria.

__ADS_1


Indi lagi-lagi tersenyum. Bayinya saja belum dilahirkan, suaminya sudah membayangkan untuk memiliki baby girl. Bagaimana persalinan nanti belum terbayang bagaimana rasanya.


"Atas nama pasien Mom Indira," panggil Apoteker di sana.


Akhirnya Indi dan Satria sama-sama berdiri. Apoteker itu menjelaskan beberapa obat yang harus diminum oleh Indi. "Ini vitamin asam folatnya untuk Dedek Bayinya, lalu yang ini adalah kalsium, dan satu lagi penambah darah. Diminum sehari satu kali setelah makan."


"Ya, makasih."


Setelah itu, Indi dan Satria sama-sama pulang ke rumah. Hari sudah menunjukkan jam delapan malam. Satria kepikiran untuk membeli makan malam sekalian, supaya tidak keluar rumah lagi. Selain itu, Indi juga sudah capek, kasihan juga.


"Mampir beli makan yah, Sayang. Kamu mau beli apa?" tanya Satria.


"Apa saja sih, Mas. Yang penting makan kok," balas Indi.


Satria kemudian melihat tempat makan yang sekiranya ada di samping kanan dan kirinya. Indi kemudian menunjuk satu restoran dan berkata kepada suaminya.


"Mas, mau itu boleh. Nasi Bebek Hainan," katanya.


"Boleh saja, sebentar yah kita parkir dulu. Mau take away atau makan di situ?" tanya Satria.


"Pulang aja yah, Mas. Capek. Pengen mandi dan bertemu kasur yang empuk."


Akhirnya Satria saja yang turun dan membeli dua Nasi Hainan dengan Bebek Peking. Sementara Indi menunggu di dalam mobil. Rasanya memang kalau pulang bekerja dan langsung periksa bayi rasanya sangat melelahkan. Namun, tidak ada yang lebih membahagiakan selain mengetahui bahwa janinnya tumbuh sehat dan mengetahui perkembangan janinnya. Indi menunggu dengan mengusapi perutnya.


"Sehat yah, babies boynya Mama. Nanti jadi pria yang baik dan penyabar seperti Papa Satria yah," gumam Indi.


Figur Satria memang Indi harapkan akan menjadi teladan untuk dua buah hatinya yang berjenis kelamin laki-laki. Sosok pria sabar, pengertian, dan penuh tanggung jawab.

__ADS_1


__ADS_2