Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Perjodohan Penuh Paksaan


__ADS_3

Selang sepekan kemudian, di kediaman Bima Negara di Solo, Jawa Tengah digelar pertemuan dua keluarga yaitu keluarga Negara dan Atmaja. Tentu yang akan dibahas sekarang adalah rencana perjodohan antara Satria dan Karina. Agaknya Rama Bima benar-benar ingin menjalin kekeluargaan dengan keluarga yang sudah dia kenal sejak lama itu.


Lebih daripada itu, Karina juga dinilai sangat Rama sebagai sosok yang tepat untuk mendampingi Satria. Gadis dari keluarga baik-baik, modern, dan lulusan dari Belanda. Di mata sang Rama seolah Karina tidak memiliki cela.


"Mas, sebaiknya pertimbangkan dulu. Satria tidak mencintai Karina. Perjodohan ini tidak akan berhasil," kata Bu Galuh kepada suaminya.


Sebagai seorang ibu, Bu Galuh sangat tahu bahwa satu-satunya wanita yang dicintai Satria hanya Indi. Dalam diam, sesekali Bu Galuh mengetahui Satria bersujud di atas sajadah. Tangannya menengadah, pemuda itu benar-benar bersujud dan merendahkan diri di hadapan Allah. Sebatas menerka bahwa yang Satria minta adalah jalan supaya dia dan Indi bisa bersatu. Selain itu, Satria bekerja dengan lebih keras. Dia ingin membuktikan kepada Rama nya, bahwa dia bisa bekerja dengan sangat baik.


"Jangan ikut campur. Hanya Karina yang layak untuk Satria," balas Bu Galuh.


"Biarkan pernikahan kita saja yang terjalin tanpa cinta, tapi jangan biarkan Satria juga mengalaminya. Tidak ada yang lebih indah selain menghabiskan waktu bersama yang sangat panjang dengan orang yang kita cintai."


Bu Galuh hanya berkaca pada dirinya sendiri. Selama ini pernikahan yang dia alami dan jalani tidak ada kasih sayang. Ibarat bunga, sudah tidak semerbak dan mewangi. Beberapa kelopaknya pun kusam. Akan tetapi, akar yang masih tertanam di dalam tanah tak urung dicabut, membuat bunga itu tidak menunjukkan pesona terindahnya.


Bu Galuh tidak ingin Satria atau pun Sitha nanti akan menghabiskan hidup dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh air mata. Yang ada yang kesesakan. Anak-anak yang dilahirkan pun juga tidak melihat keharmonisan kedua orang tuanya. Hanya melihat hal-hal formalitas belaka.


"Kamu tidak usah mengajari aku, aku ini Rama nya Satria. Aku sangat tahu apa yang harus aku lakukan untuk putraku itu."


Di sisi lain, Rama Bima masih mengeraskan hatinya. Dia tidak menerima masukan dari istrinya. Dia berdalih bahwa dirinya sangat mengenal Satria.


"Lebih baik kamu siapkan minuman dan camilan, Keluarga Atmaja akan segera tiba," kata Rama Bima sekarang.


Akhirnya, Bu Galuh menuju ke dapur. Dengan hati yang berat, dia menyeduh teh dan membuat camilan. Ketika pelayan di rumahnya, Bu Galuh berusaha untuk mengelola emosinya. Tetap tersenyum, walau hatinya terluka.


Hingga akhirnya keluarga Atmaja datang dan Rama Bima serta Ibu Galuh menyambut kedatangan keluarga Atmaja.


"Mari, mari ... silakan masuk," kata Rama Bima yang memasang wajah sumringah, penuh senyuman.


"Sudah lama tidak bertemu. Kamu masih awet muda," balas Pak Atmaja.

__ADS_1


"Berkat ramuan jamu tradisional, yang sukses bikin awet muda," balas Rama Bima dengan terkekeh geli.


"Mari silakan masuk," kata Bu Galuh.


Akhirnya seluruh keluarga Atmaja duduk di ruang tamu. Sekilas mengenal keluarga Atmaja, bahwa Atmaja Surya Diharja adalah seorang duda dengan dua anak yang pertama adalah Karina, dan yang kedua adalah Karan yang sekarang berada di Belanda. Istrinya Soraya Atmaja sudah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu. Sejak kepergian istrinya, Atmaja sendiri yang membesarkan Karina dan Karan seorang diri.


"Kalau Karina sudah bertemu, lalu Karan mana?" tanya Rama Bima.


"Karan ada di Belanda. Dia masih menempuh pendidikan bisnis di sana," balas Pak Atmaja.


"Luar biasa, semua anakmu lulusan luar negeri. Anak yang bisa mengangkat derajat orang tua yah," balas Rama Bima.


"Ya, begitulah, Bim ... semoga saja nanti Karina dan Karan bisa menjunjung nama ayahnya ini. Walau, sebenarnya Karina dan Karan sudah mulai berpikiran terbuka tidak lagi terkungkung dengan adat dan tradisi. Beda dengan kamu dan keluarga yang masih mempertahankan pakem dan tradisi yah?" tanya Pak Atmaja.


Rama Bima menganggukkan kepalanya. "Harus, budaya ini kalau bukan kita yang melestarikannya siapa lagi?" tanya Rama Bima.


Keduanya tertawa. Sementara Bu Galuh mulai menyajikan minuman racikan teh melati yang tadi dia seduh dengan menyajikan aneka jajanan tradisional seperti Sosis Solo, Naga Sari, dan Kue Talam. Aneka jajanan yang cocok menemani minum teh.


"Satria nya di mana, Rama?" tanya Karina kemudian.


"Baru ke Mushola depan," balas Rama Bima.


Karina menganggukkan kepalanya. Sementara Pak Atmaja terus merespons dengan menganggukkan kepalanya. Sudah jarang pria yang menunaikan sholat. Sementara, Satria sedang sholat di Mushola keluarga yang tidak jauh dari rumahnya.


Hampir lima belas menit, barulah Satria datang. Pemuda itu juga kaget melihat keluarga Atmaja datang di sana. Hingga Rama Bima memanggil Satria dan mengajaknya untuk bergabung


"Sini, Sat ...."


"Ada apa, Rama?" tanyanya.

__ADS_1


"Beri salam dulu, ini Ayahnya Karina, Pak Atmaja," kata Rama.


Akhirnya Satria berjabat tangan dan memberikan salam. Usai itu, dia turut duduk di sana. Sebagai anak, Satria hanya mendengarkan pembicaraan Rama nya dan Pak Atmaja yang lebih mendominasi.


"Kita sudah berteman lama. Sudah saling mengenal juga lama. Mengingat Satria dan Karina sudah sama-sama besar sekarang, bagaimana kalau kita menjodohkan mereka berdua," kata Rama Bima.


"Ide yang bagus. Memang sudah selayaknya pertemanan kita berubah menjadi kekeluargaan. Karina akan menjadi istri yang baik untuk Satria," balas Pak Atmaja.


"Karina sih sama sekali gak menolak. Karina juga sudah mengenal Satria sejak lama. Mendampingi Satria bukan pilihan yang buruk," jawabnya.


Sementara wajah penuh keberatan ditunjukkan Bu Galuh dan Satria. Ibu dan anak itu sama-sama sepakat, tidak setuju dalam hatinya dengan perjodohan ini. Tidak akan membawa kebahagiaan pada akhirnya nanti.


"Satria cakep gitu, so pasti dia bukan pilihan yang buruk dong," balas Pak Atmaja.


"Ya, iya, Ayah. Ayah juga tahu," balas Karina.


Di satu sisi Satria mulai membuka mulutnya untuk berbicara. Sebab, dia tidak ingin dijodohkan dengan siapa pun, termasuk dengan Karina. Hatinya sudah memiliki pilihan yang lain dan itu adalah Indi.


"Maaf ... Satria tidak bisa," balasnya.


Seketika pandangan Rama Bima, Pak Atmaja, dan Karina sendiri teralihkan kepada Satria. Rama Bima sudah menahan emosi, jangan sampai putranya berbicara yang macam-macam.


"Biarkan saja, Satria. Dia memang baru semangat bekerja," balas Rama Bima.


"Yang benar?" tanya Karina.


"Iya, biarkan saja. Satria memang begitu. Dia pasti akan setuju," balas Rama Bima.


Seolah sang Rama hendak memaksakan kehendaknya. Biarkan saja Satria tidak memiliki ruang untuk berbicara, yang pasti Rama Bima akan memaksa Satria untuk mau menerima perjodohan ini. Dengan atau tanpa kesediaan Satria, perjodohan ini akan tetap berlangsung.

__ADS_1


__ADS_2