Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Kebiasaan Baru


__ADS_3

Malam itu, ketika semua orang tua sudah pulang, Satria dan Indi hanya berdua dan tentu bersiap untuk mengasuh Si Kembar. Sekaligus belajar bersama bagaimana mengasuh Nakula dan Sadewa hanya berdua saja di rumah. Oleh karena itu, tadi Indi berbicara kepada suaminya untuk beradaptasi dengan hal yang baru.


"Tenang, Sayang. Aku baca bayi yang baru lahir masih mengikuti kebiasaan mereka selama di dalam perut ibunya. Kapan dia bangun, dan sebagainya. Nah, bayi kan waktu tidurnya lebih banyak. Kita istirahat saja di saat mereka istirahat. Jadi, biar tubuh kita juga tidak capek," kata Satria.


Mendengar ucapan suaminya, Indi menganggukkan kepalanya. Hal yang baru saja disampaikan oleh Satria sebelumnya sudah pernah dia baca. Memang bayi di awal masa kehidupannya usai dilahirkan akan mengikuti kebiasaan selama di dalam perut setidaknya selama 40 hari pertama kehidupannya.


"Iya, Mas. Mas Satria enggak makan dulu? Mumpung Nakula dan Sadewa bobok, Papanya makan dulu," kata Indi.


"Iya, aku mau ambil makan malam. Mama sekalian yah? Aku suapin yah."


Akhirnya Satria memilih turun dan mengambil makan malam. Memang Satria tidak meminta Indi mengambilkan, karena Satria tahu bahwa istrinya masih sakit. Sehingga Satria paham bahwa dia juga tidak perlu dilayani sang istri terlebih dahulu. Ketika bisa mengerjakan sendiri akan dikerjakan sendiri terlebih dahulu.


Hanya beberapa menit, Satria kembali dengan membawa nampan yang berisi dua piring nasi, sayur, dan lauk. "Aku bawakan makan malam sekalian, Yang. Makan sekalian yah," kata Satria.


Di dalam kamar, akhirnya keduanya makan malam bersama. Sebenarnya Satria ingin menyuapi Indi, tapi Indi menolak. Dilayani suami membuat Indi merasa sungkan. Toh, kalau hanya menyangga piring dan mengangkat sendok Indi masih bisa.


"Makan yang banyak Mama Indi ... biar nanti ASInya berlimpah. Dua jagoan pasti kuat nanti loh minumnya," kata Satria.


Indi tersenyum. Sekarang memang kala makan harus penuh nutrisi tinggi supaya bisa memproduksi ASI. Indi juga diberitahu Bu Galuh kalau bayi laki-laki biasanya minumnya jauh lebih banyak dari pada bayi perempuan. Sehingga Indi juga harus memperhatikan makanan dan juga nutrisi tiap makannya.

__ADS_1


"Iya, tadi sudah diberitahu Ibu juga kok, Mas. Katanya dulu kamu begitu. Minum ASI-nya banyak banget," balas Indi.


"Emang tadi Ibu bilang begitu yah?" tanya Satria.


"Iya, Ibu bilang begitu kok," balas Indi.


"Sayangnya, Papanya puasa dulu. Sekarang jadi milik Nakula dan Sadewa," balas Satria dengan begitu absurd.


Sontak saja, Indi memincingkan matanya. Geli sendiri dengan jawaban suaminya itu. Kan sedang membahas masa lalu, bukan hal yang aneh-aneh.


"Apaan sih, Mas," balas Indi.


Indi menganggukkan kepalanya. "Benar, puasa lama, Mas. Bisa 40 hari. Katanya juga ada yang belum 40 hari sudah selesai. Namun, nanti kalau sudah aku mau memasang kontrasepsi dulu ya, Mas. Maunya nanti punya baby lagi, tapi mengatur jarak kehamilan yah," balas Indi.


Satria justru menyambut baik dengan rencana Indi. Memang sangat baik untuk mengatur jarak kehamilan. Setidaknya Nakula dan Sadewa bisa mendapatkan ASI ekslusif hingga dua tahun. Sebab, gizi terbaik terbaik di dalam ASI, dengan demikian tumbung kembang Nakula dan Sadewa akan berjalan optimal. Selain itu, Indi pernah membaca bahwa jarak kelahiran yang terlalu dekat juga berisiko membuat Ibu rentan sakit seperti kekurangan Zat besi dan anemia di kehamilan berikutnya. Selain itu, Indi juga ingin sehat secara mental dan osikil. Kebutuhan mental ini akan berpengaruh terhadap bonding orang tua dengan anaknya.


"Oke, Sayang. Aku sih selalu mendukung. Intinya kita atur bersama-sama. Untuk urusan menahan dan puasa, aku bisa menjalaninya kok. Dulu awal pernikahan kan juga berpuasa lama. Sehingga, sekarang aku juga akan menjalaninya lagi," balas Satria.


***

__ADS_1


Tengah Malam Kemudian ....


Satria terbangun kala mendengarkan suara tangisan bayinya. Sementara Indi masih tidur. Mungkin saja Indi masih kelelahan. Untuk itu, Satria yang bangun lebih dulu, dia melihat kedua putranya yang rupanya sekarang sama-sama terbangun, tapi yang menangis hanya Sadewa saja.


"Cup, cup, cup ... putranya Papa kok menangis. Papa cek dulu yah," kata Satria.


Sebelum membangunkan Indi, Satria memilih mengecek bayinya dulu. Mungkin saja diapersnya penuh atau ada bagian pakaian yang membuatnya tidak nyaman. Rupanya Nakula tidak apa-apa, tapi Satria menggantikan diapersnya. Sedangkan Sadewa pup kala itu. Sebagaimana bayi yang baru lahir hingga beberapa hari kemudian pupnya masih hitam, Satria berinisiatif membersihkannya sendiri. Tidak ada rasa jijik, justru Satria juga belajar dan juga turut terlibat untuk mengasuh anak-anaknya. Satria sangat tahu bahwa tugas pengasuhan itu bukan hanya tugas Ibu, tapi seorang Ayah juga. Setelah, kedua bayinya bersih, Satria barulah membangunkan Indi dengan perlahan.


"Sayang ... bangun dulu, yuk. Nakula dan Sadewa terbangun, minta ASI," kata Satria.


Indi pun terbangun, dia kemudian menggendong dua bayi kembarnya dan kemudian memberikan ASI secara langsung untuk keduanya. Sementara Satria merapikan box bayi Nakula dan Sadewa sekaligus mencuci tangannya. Diapers yang kotor pun dipisahkan oleh Satria.


"Bangunnya sejak tadi yah, Mas?" tanya Indi.


"Iya, tadi yang Sadewa pup. Sudah aku bersihkan kok," kata Satria.


"Kenapa enggak membangunkan aku? Kan tinggal dibangunkan," balas Indi.


"Tidak apa-apa. Kamu kan juga ku bangunkan, tinggal berikan ASI saja. Santai saja, Sayang. Aku bisa kok. Kan aku udah bilang aku akan turut merawat kamu dan bayi-bayi kita," balas Satria.

__ADS_1


Tengah malam, hati Indi merasa begitu terharu dengan perlakuan suaminya. Teringat dulu kala Indi sakit, Satria yang sangat telaten merawatnya sendiri. Sekarang, untuk dua bayinya Satria juga terlibat aktif dan begitu telaten dengan bayi-bayinya. Sungguh, akhlak suaminya sungguh mulia. Mau terlibat dan membersamai untuk mengasuh Nakula dan Sadewa.


__ADS_2