
Sabtu ini, Indi terbangun dengan perasaan tiba-tiba kangen kediaman orang tuanya. Biasanya dulu di rumah, pagi selalu ramai dengan pembicaraan dengan Ayah, Bunda, dan Irene. Sekarang, tiba-tiba ada perasaan kangen rumah. Bukan hanya kangen rumah, Indi juga tiba-tiba kangen dengan masakan Bundanya.
"Duh, kok tiba-tiba kangen masakan Bunda," kata Indi pagi itu.
Hingga Satria terbangun. Pria itu mencari di mana istrinya berada. Rupanya Indi masih di sisinya, hanya saja Indi bersandar di head board sembari merapikan rambutnya yang sekarang tak begitu panjang.
"Kenapa pagi-pagi bengong, Sayangku?" tanya Satria.
"Hm, gak apa-apa kok, Mas. Gak tahu nih, aku tiba-tiba kangen rumah. Kangen masakannya Bunda," balas Indi.
Satria tersenyum dia mendekat dengan wajah di perut istrinya itu. Kedua tangan Satria pun melingkari perut istrinya. Sementara Indi pun tersenyum, dia mengusapi rambut suaminya itu.
"Mau ke rumahnya Bunda?" tanya Satria sekarang.
"Boleh, Mas?" tanya Indi.
"Boleh-boleh saja kok. Mandi bersama dulu yuk," ajak Satria.
"Modus deh," balas Indi.
Satria tertawa. Rupanya Indi tahu akal-akalan dari suaminya. Hingga Satria bisa tertawa.
"Asupan vitamin dulu, Sayang. Yuk, habis ini kita ke rumah Ayah dan Bunda," balas Satria.
Satria begitu bersemangat, dia segera bangun dan mengajak istrinya mandi bersama. Biasanya kalau mandi bersama, tak hanya sekadar mandi. Bahkan sudah satu jam berlalu, tapi keduanya belum menyelesaikan mandinya. Alhasil, hampir satu setengah jam barulah keduanya menyelesaikan mandinya. Indi terlihat lelah, sementara Satria justru sekarang wajahnya cerah merekah.
"Makasih, Sayang ... pagi yang indah," kata Satria.
Indi pun memeluk suaminya itu. "Asalkan Mas Satria bahagia," kata Indi.
Satria membalas pelukan itu dan mengecup kening istrinya. "Jangan hanya aku yang bahagia, tapi kamu juga. Kita bahagia bersama dalam pernikahan kita ini. Kalau pun kamu tidak mau, boleh menolak kok, Sayang."
Ya, itu adalah menurut Satria. Dia tidak ingin hanya dia yang bahagia. Akan tetapi, Satria ingin bahwa dia dan Indi sama-sama bahagia dalam pernikahan ini. Sama-sama menggapai kebahagiaan dalam berumahtangga, karena rumah tangga ini yang menjalani mereka berdua.
"Aku bahagia bersamamu kok," balas Indi.
__ADS_1
"Yang benar?" tanya Satria.
"Iya, bahagia, Mas Ningrat," jawab Indi.
"Harus bahagia. Kalau kamu kurang bahagia selama bersamaku, aku akan sedih banget," balas Satria.
Itu adalah harapan Satria, dalam pernikahan ini tidak hanya dirinya yang bahagia. Akan tetapi, Indi juga akan bahagia. Keduanya bisa bahagia bersama. Bahkan, Satria juga mengatakan bahwa Indi bisa menolaknya juga. Jika sampai istrinya tidak bahagia, Satria akan merasa sedih karenanya.
"Jadi ke rumah Yayah enggak Mas? Keburu siang," kata Indi.
"Iya, yuk ... sapa tahu benar-benar ngidam nih Istriku," kelakar Satria.
Dengan Indi yang tiba-tiba menginginkan masakan Bundanya, membuat Satria agaknya mulai berpikir bisa saja istrinya itu sudah berisi. Jika benar, tidak lama lagi kebahagiaan keduanya akan bertambah.
Mengendarai mobil lebih dari setengah jam di kota Gudeg, akhirnya mereka tiba juga di kediaman Ayah Pandu. Ada beberapa pegawai batik yang mengambil stok untuk dibawa ke Pasar Beringharjo. Beberapa pegawai itu juga ramah menyapa Indi dan Satria.
"Lama enggak kelihatan Mbak Indi?" tanya seorang pegawai.
"Iya Mbak, minggu lalu dari Solo," balas Indi.
"Aamiin, Bapak. Matur nuwun," balas Satria.
Untuk keluarga Hadinata sendiri, mereka yang sudah bekerja di batik Hadinata sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Sehingga hubungan antara juragan dengan pengerjanya sangat baik. Kadang Bunda Ervita juga sering membantu packing atau ikut berjualan ke Pasar sebentar. Di Kafe Batik, jika kewalahan karena banyak orderan juga dulu kadang Indi dan Irene turut membantu. Benar-benar bisnis keluarga dan dikelola keluarga Hadinata dengan mengedepankan asas gotong royong dan kekerabatan yang kuat.
"Assalamualaikum Yayah, Nda ...."
Indi menyapa dengan memasuki rumah orang tuanya. Sudah ada Bunda Ervita dan Ayah Pandu yang berjalan ke ruang tamu. Pasangan orang tua itu sangat senang karena anaknya datang.
"Yang dari Solo, baru sekarang ke rumahnya Yayah," kata Ayah Pandu.
"Kenalan dulu dengan keluarga mertua, Yah," balas Indi.
"Ya benar, memang begitu adanya. Sama seperti keinginan kamu dulu ingin diterima keluarga Negara. Setelah diterima yah kenalan. Kata orang enggak kenal, enggak sayang. Biar disayang Rama dan Ibunya Satria," balas Ayah Pandu.
"Sudah disayang kok, Yah. Malahan lebih disayang daripada Satria," balas Satria.
__ADS_1
Bunda Ervita tertawa. "Benar begitu. Di sini, Bunda yang lebih disayang Eyang Hadinata. Ayah Pandu lebih disayang Eyang yang di Solo. Memang begitu. Orang tuamu ya orang tuanya Indi, begitu juga sebaliknya," balas Bunda Ervita.
"Berarti Ayah dan Nda lebih sayang Mas Satria dong?" tanya Indi.
"Sayang kalian berdua, dua-duanya anak kami," balas Ayah Pandu.
"Nda, masak apa? Indi tiba-tiba kangen masakannya Nda tuh," kata Indi sekarang.
"Waduh, jangan-jangan putrinya Nda sedang hamil ini. Tiba-tiba kangen masakannya Nda," balas Bunda Ervita dengan tertawa.
"Gak tahu sih, Nda. Badannya Indi juga belum ada yang aneh kok. Masih sehat-sehat aja. Cuma bangun tidur tadi tiba-tiba kangen rumah dan masakannya Nda," cerita Indi.
"Ada kalanya orang tidak menyadari kehamilannya kok Mbak. Pengen apa, tahu-tahunya ngidam," kata Bunda Ervita lagi.
"Gak mual dan muntah yah, Nda?" tanya Indi.
"Enggak harus. Ada kok yang hamil sehat banget, gak mual dan muntah sama sekali. Bunda hamil kamu itu mual dan muntah, tapi pas hamil Irene sehat banget," cerita Bunda Ervita lagi.
"Bisa yah? Indi kalau boleh milih, Indi yang sehat aja deh," balasnya dengan tertawa.
Ayah Pandu kemudian juga berbicara. "Kalau beneran hamil ya bersyukur. Ayah dan Nda jadi punya cucu," balasnya.
"Doakan saja, Yah ... kalau diberi lebih cepat, kami juga enggak menolak," balas Satria.
"Aamiin, kami selalu mendoakan kalian," jawab Ayah Pandu.
Usai itu, mereka makan bersama. Hari ini Bunda Ervita memasak Sayur Asam, Tempe dan Ikan Asin Goreng, dan Sambal Terasi. Hanya sebatas menu sederhana saja. Namun, untuk Indi itu adalah masakan yang sangat lezat. Usai mengisi piring kosong suaminya, Indi terlihat begitu lahap memakan makanannya. Terlebih Sambal Terasi yang sedikit pedas seolah menggugah selera makannya.
"Kangen banget loh, Nda ... sama masakannya Nda," kata Indi.
"Kamu makannya lahap banget, Mbak," balas Bunda Ervita.
"Iyah tuh, Nda. Indi nambah boleh, Nda?"
"Boleh, boleh saja. Calon cucunya Nda, kangen masakannya Eyang Nda yahhh," balas Bunda Ervita dengan tertawa.
__ADS_1
Bunda Ervita dalam hati sangat yakin kalau putrinya itu mungkin saja sekarang tengah hamil. Walau belum menyadarinya. Namun, tak biasanya Indi makan selahap ini. Bisa saja, memang hamil muda dan belum menyadari ada kehidupan baru di dalam rahimnya.