
Menjelang siang hari, Rama Bima mengajak keluarganya makan siang bersama. Bukan ke restoran dengan cita rasa Western Food, tetapi Rama Bima mengajak keluarganya untuk bersantap siang di Restoran Indonesia yang bernama Kantjil & De Tijger. Olahan makanan Indonesia dari nasi bungkus hingga aneka menu lainnya seperti Rendang, Bakso, bahkan Sambal Goreng Terong tersedia di sini. Selain itu, restoran ini mengusung konsep Art Deco yang memukau.
Indi dan Satria juga kagum, menyantap makanan khas Nusantara di negeri asing itu memberikan sensasi yang luar biasa. Lebih dari itu, Indi dan Satria juga menemukan populasi orang Indonesia di Belanda. Bahkan ada beberapa rumah makan khas Indonesia yang ada di negeri Ratu Juliana itu.
"Wow, makanan nusantara di Amsterdam, luar biasa sekali," kata Indi.
"Dulu Rama mengunjungi restoran ini sewaktu Rama masih muda. Sekarang, Rama kembali ke Holland dan membawa keluarga besar Rama," balas Rama Bima.
Rupanya Rama Bima sendiri juga memiliki nostalgia dan mengingat kenangan beberapa dekade lalu, ketika dia masih begitu muda dan mengunjungi restoran ini. Dari dekorasi hingga menu makanan tidak ada yang berubah. Itu seolah membangkitkan kenangan tersendiri.
"Waktu ke sini sudah menikah dengan Ibu belum, Rama?" tanya Indi.
"Sudah, manten anyar. Masih menjadi pengantin baru, tapi Ibu kamu tidak ikut karena sedang mengandung Satria. Hamil muda waktu itu," cerita Rama Bima.
"Kalau ikut bisa Baby moon, Ibu," kata Indi kepada Bu Galuh.
"Waktu hamil Satria, Ibu itu mabuk, Mbak Indi. Lemas dan sering muntah, jadi Ibu berada di Solo saja."
Ibu, Satria, dan Sitha menganggukkan kepalanya. Mereka sekarang juga mengetahui cerita Rama Bima dan Bu Galuh. Pernah Long Distance Married juga antara Amsterdam dan Solo. Tentu sangat tidak mudah, terlebih kendala dengan komunikasi.
"Ayo, dimakan dulu. Nang-Nang makan dengan Sup yah. Sudah bisa makan seperti orang dewasa sekarang, teksturnya kasar. Eyang Rama belikan Sup Iga untuk Nang-Nang," kata Rama Bima.
__ADS_1
Indi sembari makan dan mengisi perutnya, sembari menyuapi Nakula dan Sadewa yang makan dengan begitu lahap. Nasi dan Sup Iga, walau nasinya agak Indi lembekkan dengan sendoknya sehingga teksturnya menjadi lebih halus.
"Lapar kelihatannya Mbak," kata Sitha yang sekarang membantu Indi membersihkan bibir Nakula dan Sadewa dengan menggunakan tissue.
"Iya, Tha. Mungkin selama di pesawat cuma minum ASI dan makan roti khusus baby saja. Baru sekarang makan nasi lagi," jawab Indi.
"Mamanya Nang-Nang juga makan yang banyak loh, Mbak Indi. Apalagi kamu full memberikan ASI untuk Nakula dan Sadewa, jadi harus cukup energi dan nutrisinya," kata Bu Galuh.
"Yang dikatakan Ibu benar, Sayang. Kamu juga makan yang banyak," balas Satria.
Indi tersenyum, senang ketika mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari mertuanya. Sebagai menantu ketika diperlakukan sebagai anak sendiri rasanya sungguh bahagia. Itu juga yang Indi rasakan sekarang.
"Habis ini, Rama ajak kalian ke Museum Maritim yah. Kalian harus belajar sisa-sisa sejarah Jawa yang tersimpan di negeri ini," kata Rama Bima.
Setelah itu, Rama Bima mengajak keluarganya menuju Museum Maritim. Indi dan Satria tidak perlu menggendong Nakula dan Sadewa, mereka membawa stroller dari Jogja, di mana satu stroller bisa dipakai dua bayi sekaligus. Satria yang mendorong stroller itu, bahkan Satria juga menggendong ransel yang tentu saja berisikan semua perlengkapan Nakula dan Sadewa mulai dari diapers hingga tissue, dan pakaian ganti, semuanya ada di dalam ransel itu.
Berjalan di area kota Amsterdam, akhirnya mereka tiba di Museum Maritim Belanda yang berada di Amsterdam. Bangunan dengan gaya Belanda yang bercat putih inilah yang dikunjungi oleh keluarga Negara.
Bangunan kuno ini memiliki replika kapal kargo dari abad 17. Selain itu, pameran yang ada di dalam museum maritim ini meliputi berbagai jenis kapal, peta perdagangan jalur laut, instrumen bahari, hingga berbagai foto-foto. Semua benda yang didisplay tentu saja memiliki nilai sejarah yang tinggi.
"Kamu lihat ini?" tanya Rama Bima kepada Satria, Indi, dan Sitha sembari menunjuk potret lama, kumpulan orang-orang mengenakan pakaian Jawa di depan kapal besar.
__ADS_1
"Foto, Rama ... orang Jawa," jawab Satria.
Ya, Satria mengidentifikasi bahwa itu adlaah foto-foto orang Jawa berdasarkan pakaian yang mereka kenakan. Ada yang memakai jarik, batik, dan baju beskap. Wajah dalam foto itu juga begitu khas dengan wajah orang Jawa.
"Benar, ini adalah orang Jawa yang dibawa ke Belanda," balas Rama Bima.
"Dibawa ke Belanda dalam rangka apa Rama?" tanya Indi.
"Kerajaan Belanda dulu adalah bangsa pelaut dan penjajah. Rama spesifikkan setidaknya ada wilayah yang dijajah Belanda yang pertama Hindia Belanda atau Nusantara, dan satu lagi adalah Suriname. Ada alasan khusus kenapa Belanda menjajah dua wilayah ini. Belanda menjajah Nusantara karena rempah-rempahnya, sedangkan Belanda menjajah Nusantara karena tebu atau kalau diolah menjadi gula. Ini adalah foto orang-orang Jawa yang dibawa ke Belanda, lalu mereka dibawa lagi melalui Samudra Atlantik, dipekerjakan sebagai pekerja di pabrik gula yang berada di Suriname. Jadi, populasi Jawa di Belanda ini ada dan populasi suku Jawa di Suriname hingga 15% dari jumlah penduduknya."
Rama Bima menjelaskan semuanya dengan begitu detail. Sementara hati Indi tersentuh membaca keterangan di foto itu dengan angka tahun 1890, ketika kapal besar membawa orang-orang Jawa yang berjumlah kurang lebih 30.000 jiwa menuju ke Suriname. Ada sejarah yang tersimpan di Amsterdam, sejarah yang bahkan orang Jawa sendiri tak mengetahuinya.
Selain itu, wajah-wajah orang Jawa ada dari kelompok usia anak-anak, muda, dan tua. Kesempatan yang sangat berharga untuk Indi, Satria, dan Sitha bisa belajar sejarah walau harus jauh-jauh ke Amsterdam.
"Rempah-rempah ini yang membuat mereka menjajah kita. Jadi, sekarang kita tahu sumber daya Nusantara itu luar biasa dan melimpah. Ada populasi orang-orang Jawa di luar negeri yang tak kita ketahui," kata Rama Bima lagi.
"Indi melihat peta ini kok kasihan yah, Rama. Mereka diberangkatkan menuju Paramaribo, Suriname dengan kapal melalui Samudra Atlantik dengan durasi perjalanan selama tiga bulan. Bahkan di antara orang-orang Jawa ini ada yang dieksekusi mati, hingga terjun ke laut. Penjajahan itu nyata yah," kata Indi.
"Memang nyata Mbak Indi. Catatan sejarah saja membuktikan. Maka, cintai budaya kita. Dilestarikan. Hal yang tersembunyi seperti ini kadang kita mendapatkan faktanya justru jauh di luar negeri," kata Rama Bima.
Indi, Satria, dan Sitha sama-sama menganggukkan kepalanya. Tidak salah ketika belajar sejarah. Hati mereka seakan tergugah, dan lebih mensyukuri hidup sekarang, hidup yang merdeka, walau setiap harinya ada perjuangan yang harus mereka tuntaskan satu per satu.
Jangan melupakan sejarah! 🇮🇩
__ADS_1