
Beberapa pekan setelahnya, agaknya Nakula dan Sadewa yang meminta adik kian gencar. Terlebih ketika mereka usai melihat acara kartun di televisi, di mana diceritakan ada anak-anak kecil yang sudah memiliki adik bayi. Membuat Nakula dan Sadewa bertanya-tanya mengenai sosok adik itu.
"Mma, Dedek itu ...."
Sadewa menunjuk ada tetangganya yang baru saja memiliki bayi. Terlihat seorang ibu muda yang sedang menjemur bayinya di teras rumah. Melihat itu, Indi menganggukkan kepalanya. Indi malahan senang karena putranya itu mengamati sekelilingnya.
"Sadewa tahu kalau itu Adek?" tanya Indi.
"Ya, ayi ...."
Yang dimaksudkan oleh Sadewa kalau adik itu adalah ya bayi. Dengan cara berpikir yang masih sederhana, Sadewa sudah tahu kalau adik itu ya adalah bayi, yang lebih kecil dari dirinya.
Lagi-lagi Indi malahan tertawa. Anak-anak memang bisa kritis sesuai dengan usianya. Sadewa sudah menunjukkan itu.
"Auu, Mma ... ayi," kata Sadewa lagi.
"Sadewa sudah berdoa belum kepada Allah? Dulu Papa pernah bilang kan? Kalau adek, Sadewa dan Nakula harus berdoa dulu memohon kepada Allah. Biar nanti ada Adik bayi di perutnya Mama," kata Indi yang berusaha memberikan penjelasan dengan sederhana.
Sadewa kecil akhirnya menganggukkan kepalanya."Dah, oa ... ma Alloh," jawabnya dengan menangkupkan kedua tangannya.
"Coba, gimana berdoanya?"
"Nang auu dek, Allah ...."
Dengan begitu lucunya Sadewa mengatakan itu. Seolah anak kecil itu melakukan reka adegan. Sesuatu yang lucu untuk Indi, tapi sekaligus membuat Indi yakin anaknya sedang belajar.
"Nang-Nang ang Adek mana?" tanya Sadewa yang dia maksudkan adalah di antara dia dan Nakula, siapa yang adeknya.
"Kalau menurut Mama sih kalian berdua ini sama. Usianya sama, hanya selisih beberapa detik saja. Saudara kembar, twins," balas Indi.
Walau ada beberapa orang mengatakan yang lahir belakangan di sebut kakak, atau yang lahir duluan adalah kakak, tapi menurut Indi ya keduanya adalah saudara kembar. Tidak ada kakak dan adik. Hanya selisih beberapa menit hingga detik saja. Di dalam kandungan saja keduanya juga berada dalam satu kantong rahim yang sama. Jadi itulah pendapat Indi sendiri.
"O ...."
__ADS_1
Sadewa menjawab dengan huruf O, sembari mengangguk-angguk. Entah tahu atau tidak, tapi Sadewa hanya mengangguk saja. Indi kemudian mengusap-usap puncak kepala putranya itu.
"Yuk, kita masuk ke dalam. Kita lihat Nakula sedang ngapain sama Papa di dalam," ajak Indi kepada putranya.
Masuk ke dalam rumah dengan menggandeng tangan kecil Sadewa, mereka menuju ke ruang bermain. Rupanya Nakula bersama dengan Papa Satria dengan bermain puzzle blok yang bentuknya besar-besar. Sadewa pun berlari dan ikut bermain. Walau Nakula tidak mau bangunan dari blok yang sudah dia buat, disentuh oleh Sadewa.
"No, Nang ... Ewa, No!" Nakula berteriak dan hampir menangis. Sadewa atau Dewa tidak boleh menyentuh miliknya.
Satria kemudian menahan Sadewa. "Itu punyanya Nakula, jangan yah. Sini, Dewa bikin sendiri, Papa bantuin," kata Satria.
"Ppa ama Kula," kata Nakula lagi.
Agaknya Nakula sedang sensitif. Sejak bangun di pagi hari tadi Nakula hanya mau dengan Papanya. Anak-anak memang ada fase seperti itu. Sadewa yang hari itu lebih kalem, akhirnya mengalah. Dia mendekat ke Mamanya lagi.
"Mma, aen," pintanya.
Indi kemudian menganggukkan kepalanya. Dia menemani Sadewa bermain terlebih dahulu. Kadang anak juga tantrum walau tidak menangis sepanjang hari, sama seperti Nakula yang memang tidak menangis, tapi maunya dengan Papanya dulu.
"Nang ikin apa?" tanya Nakula yang perlahan mendekat ke Sadewa dan seperti menengok apa yang sedang dibikin Sadewa bersama Mamanya.
Nakula kemudian duduk di dekat Sadewa, dia kelihatan tertarik dengan apa yang dibuat saudara kembarnya itu. Indi kemudian berbicara kepada Sadewa.
"Main bersama yah. Kalian berdua adalah saudara, saling sayang, tidak berantem yah," kata Indi.
"Ya Mma," jawab Sadewa.
Satria tersenyum, istrinya bukan hanya istri dan Mama yang baik. Akan tetapi, Indi selalu bisa menjadi penengah dan pendamai antara Nakula dan Sadewa. Sekarang saudara kembar itu duduk dan main bersama-sama. Kembar bukan berarti mereka tenang sepanjang waktu. Ada kalanya juga keduanya berantem, berebut mainan, atau tantrum bersamaan. Namun, kala kadang keduanya tidak akur, tapi Indi tergolong sabar menghadapi keduanya.
"Papa, tadi Sadewa mau adik bayi lagi," cerita Indi kepada suaminya.
"Ya, udah. Ayo, disegerakan Mama," jawab Satria dengan begitu entengnya.
Indi malahan memukul lengan suaminya itu. "Enteng banget sih jawabnya," balas Indi.
__ADS_1
"Ya, mau gimana lagi? Nanti malam yah," kata Satria.
"Inget, Pa. Kalau merencanakan sesuatu hasilnya malahan tidak bagus. Nanti malahan Nakula dan Sadewa enggak mau bobok. Ujung-ujungnya Papa uring-uringan," balas Indi.
Satria sekarang yang giliran tertawa. Kebiasaan anak-anaknya seperti itu. Beberapa kali kalau dirinya sedang butuh dengan Indi yang ada malahan Nakula dan Sadewa tidak segera tidur. Kalau pun sudah tidur nanti mereka akan terbangun ketika hasrat Satria sudah di ujung tanduk.
"Ppa, ana da Ayi," cerita Sadewa sekarang. Jari telunjuknya seolah menunjuk rumah tetangga yang ada di depannya.
"Di mana, Sadewa?"
"Ana ... itu," jawabnya.
Satria kemudian menatap Indi, meminta istrinya untuk menjelaskan di mana Sadewa melihat bayi. Agaknya hanya Indi yang memahami bahasa bayi kedua putranya itu.
"Tadi Sadewa waktu di depan rumah sama Mama melihat ada adek bayi, Pa. Tetangga di depan rumah baru saja memiliki bayi kecil. Baru dijemur di depan. Sadewa bilang tadi mau adek bayi seperti itu," cerita Indi.
"Ewa dah doa loh," kata Sadewa lagi yang mengatakan dia sudah berdoa kepada Allah.
"Gimana berdoanya? Papa pengen tahu dong," balas Satria.
Sekarang Sadewa memeragakan bagaimana dia berdoa. Anak kecil itu menangkupkan kedua telapak tangan dekat ke wajahnya.
"Ewa au dedek, Allah," katanya dengan menunjukkan wajah polos dan juga binar matanya.
Satria sekarang tertawa. Tidak hanya sekadar lucu, tapi Sadewa juga menggemaskan, selain itu juga kritis. Dia tahu bagaimana cara meminta kepada Allah walau memang pemahamannya masih begitu sederhana. Satria kemudian menganggukkan kepalanya.
"Kalau punya adik bayi, Sadewa akan jadi kakak yang baik enggak?" tanya.
"Hum, aik," jawabnya dengan menganggukkan kepalanya.
"Kakak yang baik itu bagaimana coba? Papa pengen tahu," tanya Satria lagi. Ini adalah bentuk pertanyaan stimulasi supaya Sadewa bisa mengatakan apa yang ada di pikirannya walau kemampuan verbalnya belum sempurna.
"Aen cama," katanya. Menurut Sadewa, kakak yang baik adalah kakak yang mengajak adeknya main bersama.
__ADS_1
Satria kemudian memeluk putranya itu. Semoga saja nanti kalau memang Tuhan memberikan momongan lagi Nakula dan Sadewa bisa menjadi kakak yang baik untuk adiknya. Sekarang, sepasang anak kembar saja keduanya sering berantem dan merebutkan mainan. Semoga nanti keduanya benar-benar bisa mengajak adiknya main bersama.