
Mendengar nasihat dari orang tua, malam harinya menjadi waktu bagi Satria dan Indi untuk mengobrol bersama. Memang selalu ada waktu ketika Nakula dan Sadewa sudah tertidur, keduanya menyempatkan waktu untuk berdiskusi bersama. Tak jarang berbicara dari hati ke hati, sekadar cerita pun tidak menjadi masalah bagi keduanya.
"Mas, boleh bicara," kata Indi perlahan.
Satria yang saat itu sebenarnya sedang berselancar dengan handphonenya, akhirnya memilih untuk meletakkan handphonenya. Caranya menghargai sang istri adalah menaruh handphone. Berbicara dengan saling pandang, tidak terinterupsi dengan handphone di tangan.
"Kenapa, Sayang?" tanya Satria perlahan.
"Yang disampaikan Ibu tadi benar deh, Mas. Dua kali hamil, dan mendapatkan empat anak rasanya sudah sangat cukup. Jadi, saatnya berkata cukup deh, Mas. Empat anak cukup," kata Indi.
Mendengar apa yang disampaikan oleh Indi, Satria akhirnya menganggukkan kepalanya. "Aku setuju saja sih, Sayang. Saatnya berkata cukup. Membesarkan Nakula, Sadewa, dan adik-adiknya."
"Jadi, nanti setelah melahirkan, aku akan memilih memasang kontrasepsi saja ya, Mas. Kita berdua fokus untuk membesarkan keempat anak kita," kata Indi lagi.
"Benar, Sayangku. Aku juga memikirkan apa yang dikatakan Ibu tadi supaya keempat anak kita tumbuh sehat, mendapatkan pendidikan yang baik, dan mereka menjadi manusia yang bermanfaat untuk sesamanya. Aku jadi mikir, apakah aku sudah menjadi orang yang bermanfaat untuk sesamaku apa belum?" tanya Satria kepada dirinya sendiri.
Seakan apa yang dikatakan oleh Bu Galuh barusan menjadikan titik refleksi tersendiri untuk Satria. Dalam hidup yang bisa dikatakan singkat, ketika bisa menjadi manfaat untuk orang lain rasanya akan sangat senang dan bahagia. Batin yang bahagia.
"Setidaknya, jadilah seseorang yang bermanfaat untuk keluargamu dulu. Dimulai dari diri sendiri dan keluarga sih, Mas. Apa artinya di luar sana kita begitu hebat, Orang-orang mengelu-elukan kita, tapi keluarga sendiri sangat rapuh. Jangan sampai seperti itu," balas Indi.
Mendengar apa yang disampaikan oleh Indi, Satria menganggukkan kepalanya. "Iya, kadang mereka yang besar di luar. Keluarganya justru carut-mawut. Sudahkah aku bermanfaat untukmu, Yang?"
__ADS_1
Ditanyai oleh sang suami seperti itu, Indi malahan duduk lebih dekat. Bumil muda itu segera menyandarkan kepalanya di lengan sang suami dan tersenyum. "Sangat bermanfaat kok, Mas. Bukan hanya untukku, tapi juga untuk Nakula dan Sadewa dan adik-adiknya nanti. Mas adalah suami dan Papa yang baik."
Mendengar pengakuan dari sang istri, Satria memeluk istrinya itu. Pengakuan istrinya selalu saja bisa membesarkan hatinya. Tak hanya itu, Satria lantas mengecup kening istrinya itu.
"Sering-sering manja begini, Sayang ... aku suka. Apa karena kamu baru hamil yah, bawaannya manja dan nempel gini," kata Satria.
"Kadang kalau mau manja dan nempel-nempel, Papanya sudah disabotase oleh Nakula dan Sadewa duluan. Mamanya ke geser deh, Papanya dikuasai Nakula dan Sadewa aja," balas Indi.
"Kalau aku boleh request sih, kali ini pengen anak cewek, Sayang. Tidak harus semuanya cewek. Ceweknya satu aja tidak apa-apa. Kan bisa kembar fraternal," kata Satria kemudian dengan tiba-tiba.
Indi kemudian tersenyum. "Semoga saja Allah berikan yah, Mas. Aku juga pengen, tapi kadang aku lebih ke pasrah saja. Semua yang Allah berikan pastilah baik adanya. Lucu juga kan kalau memiliki anak perempuan. Daddy's little girl gitu," balas Indi.
Satria menganggukkan kepalanya. "Iya, yang secantik Mama Indira."
"Loh, itu kenangan masa kecil yang tak terlupakan, Sayang. Main di sawah, kotor-kotor. Demi keong loh. Nanti kalau sudah dibuat sate. Aku kadang juga tertawa kok waktu kecil aku bisa seperti itu."
"Kalau punya baby girl, enggak main ke sawah dan cari keong," balas Indi.
"Dan harus dijaga baik-baik supaya enggak diincar keong racun," canda Satria dengan tiba-tiba.
Kalimat itu seperti candaan, tapi penuh makna. Sebab, menurut beberapa orang di Jawa, memiliki anak perempuan harus dijaga lebih ekstra dari anak laki-laki. Menjaganya dengan baik, supaya bergaul dengan orang yang baik, dan juga tidak diperdayakan pria hidung belang seperti keong racun.
__ADS_1
"Benar yah, Mas. Uhm, mengingat beberapa bulan lagi anak kita sudah empat. Jadi, sudah yah Mas. Kita fokus mengasuh dan membesarkan anak-anak. Jangan nambah lagi. Takutnya kalau tambah lagi, jadinya dua lagi. Anak kita bisa benar-benar setengah lusin nanti," balas Indi.
"Benar, Sayang. Untuk ukuran keluarga muda masa kini jumlahnya terhitung banyak. Kalau orang zaman dulu banyak anak, banyak rezeki. Kalau sekarang ya sudah tidak tepat, mereka tidak hanya dilahirkan, tapi harus dijaga dan dirawat, diberi pendidikan tinggi supaya menjadi orang."
Satria berpendapat demikian. Memang dulu kala masyarakat Jawa pada khususnya selalu beranggapan bahwa banyak anak banyak rejekinya. Padahal masa penjajahan, di mana pangan begitu mahal, tapi keluarga di Jawa bisa memiliki anak hingga belasan. Alhasil, anak-anak menderita kelaparan, ada yang dibuang hingga ke Suriname oleh pemerintah kolonial dengan iming-iming untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik.
"Sayang, kalau kamu mau... melahirkan nanti operasi saja. Bisa kok di sterilisasi. Jadi penghasil sel ovum itu di ambil. Kalau penghasil sel ovumnya diambil kan bisa tidak memproduksi sel ovum," kata Satria.
"Aku sebenarnya takut dioperasi itu, Mas. Yah, melahirkan itu sakit, cuma kayaknya aku lebih siap mendapatkan obrasan deh, daripada pembedahan di perutku."
Mendengar apa yang Indi katakan Satria mendesis. Teringat bagaimana dulu Indi pasca bersalin, sampai Satria sendiri yang trauma selama empat bulan. Sekarang, Satria menjadi memikirkan hal itu.
"Sshhsss, aku keingat yang dulu. Kalau hamil dan melahirkan lagi, berarti aku melukai kamu lagi ya, Sayang?" tanyanya.
Dengan cepat Indi menggelengkan kepalanya. "Sudah, jangan mengingat-ingat yang dulu. Aku tidak apa-apa. Hayo, Mas gak bisa trauma lagi loh. Masak yah mau trauma lagi. Jangan dong."
"Gak tega lihat kamu sesakit itu, Sayang. Bayang-bayang persalinan itu rasanya sangat luar biasa. Yang melihat saja sakit, apalagi yang menjalaninya," balas Satria.
"Asal Mas Satria di sisiku. Aku menjadi memiliki kekuatan lebih kok. Aku bisa menahan rasa sakit. Oleh karena itu, temani aku lagi yah? Kita sambut babies kita bersama-sama," kata Indi.
Dengan cepat Satria menganggukkan kepalanya. "Siap, Sayangku. Kita akan menyambut babies kita bersama-sama. Aku akan selalu mendampingi kamu. Sama seperti waktu kita menyambut Nakula dan Sadewa, kita akan melakukannya lagi nanti."
__ADS_1
Satria mempererat pelukannya. Dia berjanji akan membersamai persalinan istrinya. Bergandengan tangan dan berbagi rasa sakit kala persalinan nanti akan tiba.