Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Sebelum Kembali ke Jogjakarta


__ADS_3

Malam itu rasanya semuanya merasa bahagia. Bukan hanya Indi yang mendapatkan ngidamnya yang kesampaian yaitu kue Gandos Rangin, Satria juga senang bisa memenuhi apa yang dimaui istrinya, dan Rama Bima senang bisa berbagi dengan banyak orang. Kehamilan Indi seolah benar-benar membawa kebahagiaan tersendiri.


"Sudah ngidamnya? Mumpung masih di Solo, ngidamnya apa bilang ke Rama," kata Rama Bima.


Indi setengah tertawa, Rama nya itu terlihat benar-benar berubah. Sosok kaku dan arogan semasa dulu sudah berubah sepenuhnya. Bahkan Rama yang sekarang terlihat lebih sayang dan hangat dengan anak, istri, dan menantu. Indi kira beradaptasi dengan keluarga suaminya tak akan mudah. Namun, sekarang keluarga suaminya itu sangat menyayanginya.


"Sudah semuanya Rama. Terima kasih banyak, seharian ini makan aneka wisata kuliner Solo yang enak-enak," balas Indi.


"Sama-sama Mbak Indi, orang tua itu senengnya ya seperti ini membahagiakan anak dan menantu," balas Rama Bima.


"Benar Mbak Indi. Sering-sering yah main ke Solo. Nanti pengajian empat bulanan, sampaikan ke Ayah dan Bundanya diminta keluarga Rama saja yah. Sampaikan juga Ayah dan Bundanya Mbak Indi rawuh (datang dalam bahasa Indonesia) ke Solo," kata Bu Galuh.


Indi lagi-lagi tersenyum."Padahal hamilnya baru delapan minggu, Ibu," balasnya.


"Ya, tidak apa-apa. Nanti kan tinggal dua bulan lagi. Empat bulanan di Solo, nanti tujuh bulanan di Solo atau Jogja boleh. Tenang saja," balas Bu Galuh.


"Matur nuwun, Ibu," balas Indi.


Sitha yang mendengarkan juga tersenyum. Anak SMA itu senang karena sekarang keluarganya lebih longgar. Kakaknya yang menikah, tapi bisa memberikan perubahan. Tidak lagi menerapkan kehidupan yang kaku, menurut pakem, tapi lebih ada kelonggaran, ada toleransi juga.


"Sitha juga senang kalau Mbak sering main ke Solo. Kita belum ngemall bersama loh, Mbak," kata Sitha.


"Lain kali yah, kita jalan-jalan bareng. Besok Mbak dan Mas Satria balik ke Jogjakarta dulu. Kan Senin sudah mulai masuk bekerja," balasnya.


"Oke, Mbak. Sering main ke Solo."


Begitu sudah tiba di rumah, Satria memilih mandi terlebih dahulu. Itu semua karena dia berkeringat saat mengejar penjual Gandos Rangin tadi. Sementara Indi sudah rebahan di tempat tidur.

__ADS_1


"Sudah tidur, Sayang?" tanya Satria.


"Belum, aku masih nungguin Mas Satria kok," jawabnya.


Satria tersenyum. Dia kemudian menyusul istrinya itu. "Sudah segar, tadi berkeringat banyak banget. Gini kan udah segar. Kamu suka juga kan," kata Satria.


Betapa tak pengertiannya Satria, dia tahu istrinya itu suka kalau dia sudah mandi dan wangi. Indi pun segera masuk dalam pelukan suaminya itu.


"Makasih tadi udah capek-capek ngejar Bapak penjual Gandosnya yah Mas," kata Indi.


"Iya, Sayangku. Buat kamu dan Adik Babies, pasti aku lakuin semuanya. Kata orang dulu, kalau ngidam dan enggak kesampaian, bayinya nanti bisa ncess, Sayang. Nah, aku kan udah menuruti semua, bayinya gak mainan ludah dan ncess yah," kata Satria.


Indi kemudian tertawa."Ah, itu cuma mitos, Mas. Semua bayi akan mengalami tuh fase bermain ludah. Kan bisa karena mau tumbuh gigi atau mulutnya gak nyaman. Gak ada hubungannya. Orang Jawa aja yang menghubung-hubungkan," balas Indi.


"Pinter kamu, Sayang," balas Satria.


"Yah, kamu ngidam pengen apa pun ya bilang saja. Aku akan siap sedia beliin semua. Ngidam apa lagi?" tanya Satria.


"Mau dipeluk Papanya Adik Bayi," balas Indi.


Satria sekarang yang tertawa. Jujur, kadang kala jika Indi manja seperti ini Satria merasa senang. Dia tak ragu untuk memeluk istrinya itu, mengecupi keningnya. Satria ingin mencurahkan kasih sayangnya untuk buah hatinya sejak dalam kandungan. Sebab, membersamai anak bukan hanya saat si bayi sudah lahir, melainkan sejak si bayi berada di dalam kandungan.


...🍀🍀🍀...


Keesokan Harinya ....


Pagi hari sebelum kembali ke Jogjakarta, Bu Galuh dan Rama Bima mengajak Indi ke Pasar Gedhe terlebih dahulu. Pasar Gedhe sendiri adalah pasar tradisional terbesar di kota Solo. Rupanya Bu Galuh membelikan banyak oleh-oleh untuk Indi dan untuk Besannya.

__ADS_1


"Nanti nitip untuk keluarga Pak Pandu yah," kata Bu Galuh.


"Kok malahan repot-repot, Bu," balas Indi.


"Gak repot, kan buah tangan untuk keluarga juga," balas Bu Galuh.


Setelah itu, Indi dan Satria diajak menikmati Dawet Bu Dhermi yang ada Pasar Gedhe. Es Dawet Telasih itu menjadi kuliner khas Solo dan selalu diburu wisatawan ketika berkunjung ke kota Bengawan.



"Minum es Dawet dulu. Belum lengkap main ke Solo, kalau belum beli ini," kata Bu Galuh lagi.


Indi senang sekali. Mertuanya baik, tanpa dia meminta, tapi mertuanya sudah membelikan berbagai makanan yang enak. Satria sampai menambah hingga dua mangkok karena Es Dawet Selasih itu adalah kesukaannya.


"Suka enggak?" tanya Bu Galuh.


"Iya, Ibu. Suka, makasih Ibu," balas Indi.


Bu Galuh tersenyum, menantunya itu selalu mengucapkan terima kasih. Namun, itu memang hasil didikan juga, ketika diberi sesuatu harus dibalas dengan mengucapkan terima kasih.


"Lain kali kalau ke Solo, Ibu ajak lagi wisata kuliner. Nanti habis lahiran, Ibu buatkan jamu biar sehat dan cantik lagi. Kembali kayak gadis," kata Bu Galuh.


Indi hanya tertawa rupanya ada juga jamu untuk ibu pasca melahirkannya dan memperbaiki diri, seolah kembali menjadi gadis. Bu Galuh juga tertawa. Banyak resep dan aneka rempah yang bisa membuat ramuan jamu rapet wangi. Membuat seorang wanita menjadi rapet dan harum, terlebih untuk para wanita usai melahirkan. Nanti Bu Galuh akan membuatkan itu untuk Indi.


"Ya sudah, Ibu pulang sama Rama. Kamu hati-hati yah sama Satria. Sering main ke Solo, sampaikan salam juga untuk Bapak dan Ibu Hadinata yah," kata Bu Galuh.


Di Pasar Gedhe, Bu Galuh dan suaminya menuju ke Solo Timur, sementara Indi dan Satria akan kembali ke Jogjakarta. Banyak cinta dan cerita yang Indi dapatkan ketika ke Solo. Dilingkupi keluarga yang baik, dan pengalaman wisata kuliner yang benar-benar lezat. Sekarang, saatnya mereka kembali ke Jogjakarta dan membagikan kabar baik untuk keluarga Hadinata. Indi ingin menyampaikan kabar bahagia ini secara langsung. Oleh karena itu, mereka akan langsung menuju ke kediaman Ayah Pandu dan Bunda Ervita sepulang dari Solo.

__ADS_1


__ADS_2