
"Bapak Satria," panggil seorang perawat pria, sembari menengok dan memperhatikan di antara banyaknya orang yang menunggu di luar ruang operasi.
Sosok yang dipanggil namanya pun akhirnya mengangkat tangannya dan berdiri. "Ya, saya Satria ...."
Di belakang perawat pria itu ada dua orang perawat lainnya dan juga seorang dokter spesialis anak yang menemui Satria. Tampak ada inkubator untuk bayi. Bahkan tangisan kedua bayi terdengar sahut-menyahut.
"Selamat Bapak Satria ... Istri Bapak sudah melahirkan dan berikut adalah kedua putri kembar Bapak Satria," kata perawat di sana.
Satria melihat dua bayi perempuan yang menangis, rambutnya hitam dan seperti basah kuyub. Jari-jarinya begitu lentik. Sayang sekali, Satria hanya bisa melihatnya saja, belum bisa menyentuhnya. Untuk sesaat, Satria kagum dengan dua putri kembarnya itu.
"MasyaAllah ... Maha Besar Ya Allah," kata Satria dengan menitikkan air matanya.
"Bisa dilihat sesuai dengan keterangan hasil USG dari dokter Arsy yah Bapak Satria, bayi kembar dengan jenis kelamin perempuan. Kedua bayinya dalam keadaan sehat," kata perawat itu lagi.
Bahkan perawat itu menjelaskan jari-jari yang dimiliki bayinya. Memberikan izin bagi Satria untuk mengambil foto atau pun video dari kedua bayi perempuan tersebut. Hati yang begitu bersyukur. Dua putri cantik dengan wajahnya yang kemerah-merahan di pipinya. Rasanya Satria benar-benar jatuh cinta lagi. Akan tetapi, kali ini Satria jatuh cinta lagi bukan kepada Indi, melainkan kepada dua putrinya yang baru lahir.
"Boleh saya adzani tidak?" tanya Satria.
Ya, waktu yang baik untuk mengumandangkan adzan adalah ketika kedua bayinya lahir. Perawat pun mengizinkan Satria. Kemudian Satria meminta kepada perawat itu untuk memposisikan inkubator itu menghadap ke arah kiblat. Begitu juga dengan Satria yang mengambil posisi ke arah kiblat, lantas Satria membisikkan Iqomat terlebih dahulu di telinga kiri, lalu dilanjutkan dengan mengumandangkan adzan di telinga kanan.
Suara adzan yang dilantunkan Satria begitu lembut. Menandakan bahwa semua karena kebesaran Allah semata. Anak-anak adalah milik Allah, titipan yang Allah percayakan kepada Satria dan Indi. Bahkan Satria meminta tolong kepada perawat itu untuk merekamnya karena dia ingin menunjukkan video itu kepada Indi.
Melantunkan adzan pada masing-masing telinga adalah doa dan harapan dari orang tua agar anak-anaknya kelak akan menyembah kepada Allah Swt semata. Sebab, apa yang didengar ketika mereka lahir ke bumi adalah seruan untuk menyembah Allah.
"Terima kasih ya," kata Satria menerima handphonenya dari perawat yang sudah membantunya.
__ADS_1
"Sama-sama, Bapak," balas perawat itu.
"Bayinya sehat yah, Pak. Keduanya sehat, saya melihat sendiri tadi bahwa air ketubannya nyaris kering. Benar-benar mau habis," kata dokter spesialis anak di sana.
Satria menganggukkan kepalanya. Diagnosis yang diberikan dokter Arsy benar bahwa air ketuban istrinya nyaris habis. Rasanya Satria sangat bersyukur karena kedua buah hatinya dalam keadaan sehat.
"Bersyukur Pak karena kedua bayinya sehat," kata dokter spesialis anak itu lagi.
"Ya, saya bersyukur dokter. Walau masih syok karena memang dadakan diminta operasi caesar," balas Satria.
Setelah itu, perawat berbicara lagi kepada Satria.
"Jika sudah, bayinya kami bawa ke ruangan untuk dilakukan observasi pasca kelahiran," kata perawat itu.
"Baik. Terima kasih."
"Mas, maaf ... kondisi istri saya bagaimana yah?" tanya Satria.
Satria tidak ingin bereuforia karena melihat kedua putrinya yang memang sehat dan cantik. Dia mengingat kondisi istrinya yang tengah berada di ranjang kesakitan untuk melahirkan kedua putrinya.
"Ibu Indira masih ditangani yah Pak ... dilakukan proses penjahitan kembali. Mungkin setengah jam lagi akan keluar dari ruang operasi."
"Baik. Terima kasih."
Satria kembali duduk. Dia menatap layar handphonenya yang berisi foto pertama kedua bayi kembarnya. Sungguh, hati Satria sangat bahagia melihat kedua putrinya. Bagai jatuh cinta lagi.
__ADS_1
Namun, ada rasa cemas dan khawatir karena Indi masih berada di dalam ruang operasi. Di dalam hatinya, Satria selalu mendoakan supaya istrinya melampaui operasi Caesar ini dengan baik dan lancar.
Tepat setengah jam kemudian, Indi sudah keluar dari ruang operasi. Dia masih mengenakan baju operasi berwarna hijau. Kesadaran Indi pun belum sepenuhnya pulih usai mendapatkan anestesi atau bius. Bahkan tubuh Indi menggigil kedinginan. Oleh karena itu, perawat memberikan penghangat khusus dan menyelimuti Indi dengan selimut tebal.
Satria pun mendatangi istrinya sebentar. Sebab, sesungguhnya tidak diperkenankan untuk berlama-lama di ruang observasi.
"Sayang," sapa Satria dengan menggenggam tangan Indi. Bahkan pria itu menunduk dan mengecup kening istrinya.
"Mas ...."
Suara Indi bergetar dengan air mata yang kembali mengalir membasahi pipinya. Satria sendiri meneteskan air matanya. Sebagai suami, dia sangat iba dengan Indi yang harus merasakan tajamnya pisau operasi untuk melahirkan kedua bayinya.
"Aku menemui kamu sebentar karena ini masih ruang observasi. Bagaimana?"
Indi rasanya tidak mampu menjawab apa pun. Hanya air matanya yang terus mengalir. Satria memahami memang masih ada efek bius yang dirasakan oleh Indi.
"Kamu observasi dulu empat jam, Sayang. Kamu di sini dulu yah. Aku akan keluar lagi. Terima kasih sudah berjuang dan bertahan untuk melahirkan kedua putri kita," kata Satria.
"Babies kita seperti apa?" tanya Indi dengan menangis.
"Babies kita sangat sehat, sempurna, dan secantik kamu. Segera pulih yah dan nanti aku temenin lagi waktu kamu kembali ke kamar perawatan yah."
Satria menyeka bulir bening air mata yang membasahi pipi istrinya. Setelah itu, Satria kembali menunduk dan mengecup kening istrinya.
"I Love U So Much, Sayang."
__ADS_1
Satria bersyukur karena istrinya sudah selesai menjalani operasi. Baik istri dan kedua bayinya selamat. Satria kembali menunggu di luar karena Indi masih harus diobservasi selama kurang lebih empat jam pasca operasi.