
Anthony terkejut mendengar pengakuan Viona yang ingin bahagia bahkan jika harus tanpa makhluk yang disebut pria. Bagi Anthony itu adalah ucapan traumatis yang dalam. Sangat cukup untuk membuktikan dalamnya luka di dalam hati Viona. Anthony kemudian mengambil satu keputusan dan sekarang dia utarakan kepada Viona.
"Aku akan menunggumu, Vio," kata Anthony.
"Tidak, jangan ... Thony," balas Viona.
Pria itu lantas menggelengkan kepalanya. "Biarkan. Aku akan menunggu sampai lukamu sembuh. Aku juga berharap itu tidak akan berlangsung lama."
Setelahnya Anthony tersenyum sendiri. Dia merasa lega ketika sudah bisa mengatakan semuanya. Tidak ada yang lebih baik bagi Anthony selain meminta maaf. Lega, dan juga walau Viona diam, Anthony tahu bahwa setidaknya dia memiliki peluang.
"Sudah, jangan bersimpuh seperti itu. Duduklah di sofa," kata Viona.
"Baiklah."
Anthony lantas menegakkan punggungnya dan setelahnya dia segera duduk di sofa. Hanya berjarak sedikit saja dari Viona. Pria itu tersenyum dan menundukkan wajahnya sesaat. Anthony berharap keputusannya untuk menunggu ini tidak akan sia-sia, melainkan bisa memenangkan hati Viona nantinya.
"Tahun depan Arbe sudah mau masuk sekolah, kita carikan sekolah PAUD yang bagus untuk Arbe yah?"
Anthony berinisiatif membuka pembicaraan lagi. Kali ini dia membahas untuk Arbe yang tahun depan akan mulai bersekolah di pendidikan anak usia dini. Sudah saatnya juga mengenalkan lingkungan baru yang bersama sekolah kepada Arbella.
"Sekolahnya memang tahun depan, tapi biasanya setelah awal tahun sudah mulai ada pendaftaran PAUD atau Taman Kanak-Kanak. Jadi, awal tahun sudah mulai mendaftar," kata Viona.
"Baiklah, nanti kita cari sekolah yang bagus untuk Arbe. Mau di internasional scholl juga tidak apa-apa," kata Anthony.
"Andai saja, kamu seperhatian ini kepada Arbe sejak dia masih kecil," kata Viona.
Usai itu keduanya sama-sama terdiam. Anthony bersalah jadinya. Dulu, kala Arbe masih bayi, dia menghabiskan hari-hari bersama Karina. Menikmati perselingkuhan dan kenikmatan tubuh wanita penghangat ranjangnya. Ada kalanya wanita seperti Karina memang mengalihkan semua termasuk hati, pikiran, dan waktu Anthony.
"Maafkan aku, Vio ... sekarang, barulah aku menyesali waktu yang dulu terlewatkan begitu saja. Aku akan menebusnya," kata Anthony lagi.
__ADS_1
Viona kemudian menganggukkan kepalanya. "Hm, baiklah. Asalkan selalu berikan perhatian untuk Arbe. Jangan biarkan dia merasa berbeda. Dia masih terlalu kecil untuk tahu perpisahan kita."
"Semoga nanti ketika Arbe hendak masuk sekolah, kita sudah bersama lagi, Vio. Santai saja aku akan menunggumu," kata Anthony.
Usai mengatakan itu, Anthony melihat Arbe yang sedang tidur. Dia amati putri kecilnya yang sedang tertidur lelap dengan memeluk satu boneka bunny. Setelah itu, Anthony mengusap perlahan rambut putrinya itu.
"Papa tetap merasa bersalah kepadamu, Arbe. Papa dulu terlalu khilaf. Bagaimana kamu tumbuh dari bayi nyatanya justru terlewatkan begitu saja. Sekarang, Papa akan menemani kamu. Papa juga akan menunggu Mamamu. Kamu tentu setuju bukan kalau kita bertiga kembali bersama-sama lagi? Dalam satu atap, ada Mama, Papa, kamu yang akan tinggal bersama di dalamnya?"
Anthony bergumam sendiri dalam hati. Besar harapannya untuk kembali rujuk dengan Viona. Walau semuanya masih abu-abu, tapi Anthony akan menunggu.
Setelahnya Anthony kembali ke ruang tamu, sementara Viona tengah merangkai sebuah bunga. Sebenarnya dulu, Viona pernah menjadi seorang Florist. Namun, sudah lama pekerjaan itu dia tinggalkan, sekarang Viona hanya menata lagi beberapa hiasan bunga koleksinya.
"Sedang ngapain?" tanya Anthony.
"Biasa, mengisi waktu luang. Kan waktu luangku tiba kalau Arbe sedang tidur. Aku bisa melakukan sedikit yang aku sukai, seperti merangkai bunga-bunga ini," katanya.
"Bagus, Vio. Nanti kalau kita sudah bersama, kita lakukan hal yang menyenangkan berdua. Nonton film atau memasak bersama," kata Anthony.
"Kenapa ada ketidakyakinan di senyummu, Vi?" tanya Anthony.
"Emangnya mau apa, Thony? Aku tidak memiliki target dalam hidup. Aku memilih menjalaninya saja," balas Viona.
"Viona yang aku kenal dulu sangat bersemangat, memiliki target-target tertentu dalam hidupnya. Kenapa sekarang tidak?"
"Yang kita rencanakan kadang kala tidak terjadi, Thony. Perkiraan juga kadang meleset. Mau apa lagi? Aku lebih realistis sekarang, mengikuti saja yang terjadi."
Anthony mengamati Viona sesaat, dia memperhatikan garis wajah wanita yang pernah menjadi pasangannya itu."Jangan begitu, Vio. Hidup memang banyak luka, tapi bukan berarti membuat kita kehilangan perencanaan di dalam hidup. Tetap lakukan yang terbaik, Vio."
Viona akhirnya menganggukkan kepalanya. "Thanks, Thony. Aku akan berusaha lagi."
__ADS_1
Usai itu, Viona memperhatikan jam di dinding. Waktu sudah menunjukkan hampir sore. Lantas, Viona bertanya lagi kepada Anthony.
"Sudah sore, kamu tidak pulang? Sebelum Arbe bangun dan nanti dia bisa mencarimu dan menangis," kata Viona.
"Aku ingin membersamai Arbe, Vi. Mencurahkan waktu dan kasih sayangku untuk Arbe tanpa berpisah seperti ini," kata Anthony.
"Pulanglah dulu, sudah seharian juga kamu di sini," kata Viona.
Anthony merasa sedih. Setiap kali Viona mengingatkannya untuk pulang. Namun, memang inilah realita pasangan yang bercerai. Walau masih menggenggam cinta, tapi tetap harus berpisah. Seorang anak juga harus berpisah dari Papanya, begitu juga seorang Papa harus berpisah dari anaknya. Ini adalah situasi yang tidak Anthony sukai.
"Aku tidak suka ketika kamu menyuruhku pulang," kata Anthony lirih.
"Berbalik terbalik yah, Thon. Dulu, aku sering mengirimkan pesan dan menelponmu supaya kamu pulang. Lucunya hidup."
Viona mengatakan itu dengan tertawa dan menggelengkan lehernya beberapa kali. Ya, dulu kala Arbe masih bayi, dia sering meminta Anthony untuk pulang ke rumah. Menolongnya menenangkan Arbe yang sering tantrum waktu bayinya. Sedangkan sekarang berbanding terbalik. Yang ada justru Viona seolah meminta Anthony untuk segera pergi dari rumahnya.
"Lucu yang sebenarnya tidak lucu," sahut Anthony.
"Kalau tidak terjadi kejadian dulu, mungkin kita lupa cara menertawakan hidup. Apa yang dulu kita harapkan, lepas dari genggaman. Sedangkan sekarang yang ingin kita genggam, justru terlepas," balas Viona.
Anthony mengangguk. Sekarang Anthony mendekat kepada Viona sesaat."Vio, bukannya aku kurang ajar. Izinkan aku memelukmu sesaat."
Seketika kedua tangan Anthony terbuka, walau Viona belum mengiyakan, Anthony segera mendekap hangat tubuh Viona. Pria itu memejamkan matanya mana kala memeluk tubuh Viona. Walau, kedua tangan Viona luruh dan tak membalas pelukan Anthony, tapi kembali dipeluk oleh mantan suaminya membuat Viona tak bergeming. Ya, Viona hanya diam saja.
"Kalau menjadi teman dan sahabat, kita sudah melakukannya. Kalau menjadi Mama dan Papa untuk Arbe, kita sudah berbagi peran. Satu lagi, Vio ... ayo, kita menjadi pasangan suami dan istri lagi. Aku tidak ingin menjanjikan hal yang indah, tapi aku pastikan kesetiaan dan komitmen penuh untuk kamu. Kalau harus menunggu, oke aku akan menunggu. Aku akan menunggu Viona," kata Anthony.
Hampir dua menit, pelukan itu masih terjadi. Hingga akhirnya, Anthony mengurai pelukannya. Dia tatap Viona lagi.
"Baiklah, aku pamit yah. Akhir pekan nanti aku akan ke sini lagi. Aku akan mengajakmu ke satu tempat, Arbe nanti kita titip ke Omanya dulu. Bye, Viona. Aku sayang kamu."
__ADS_1
Anthony mulai membalik badannya dan mengambil langkah. Sementara Viona membeku di tempatnya. Aneh rasanya, tapi membalas satu patah kata saja tidak bisa.