
Usai bertemu dengan Atmaja, mood Rama Bima menjadi tidak baik. Walau begitu, di rumah Rama Bima memilih diam dan tenang. Dia menyibukkan dirinya dengan memberi makan ikan-ikan miliknya yang ada di kolam belakang sembari mendengarkan gemericik air.
Hinggaa akhirnya, ada Bu Galuh yang mencari suaminya itu. Rupanya, sang suami kini berada di kolam belakang. Lantas, Bu Galuh menyentuh perlahan bahu suaminya itu.
"Rama, kenapa di sini?" tanya Bu Galuh.
"Memberi makan ikan saja. Mumpung di rumah," balasnya.
Sebagai istri yang sudah mendampingi puluhan tahun tanpa berbicara pun, Bu Galuh sudah tahu bahwa suaminya itu sedang memiliki sesuatu yang dipikirkan. Oleh karena itu, Bu Galuh berniat untuk mendampingi suaminya dan menjadi teman berbicara untuk suaminya.
"Enggak biasa. Apa baru ada yang dipikirkan?" tanya Bu Glauh.
"Iya, kemarin Atmaja menemuiku di kantor. Jujur, aku menjadi menyesal karena dulu berniat menjodohkan Satria dan Karina," kata Rama Bima dengan menghela napas panjang.
"Kenapa begitu, Rama?" tanya Bu Galuh.
Rama Bima kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, karena Atmaja datang dan memintaku untuk menikahkan Satria dengan Karina untuk memperbaiki reputasi dan nama baiknya. Aku tidak habis pikir karena berteman dengan sosok seperti Atmaja. Bisa-bisanya dia menyarankan putraku untuk melakukan poligami dengan menikah lagi. Aku akan menahannya. Aku akan melindungi Indi. Sekarang, aku tahu dan bisa menilai siapa yang baik. Aku memiliki anak menantu yang baik," ujarnya.
__ADS_1
Mendengarkan apa yang dikatakan suaminya, Bu Galuh sebenarnya senang. Itu artinya suaminya kini bisa menilai mana yang baik dan mana yang tidak. Ada kalanya manusia hanya memandang apa yang ditangkap oleh inderawi saja. Tidak melihat bagaimana karakter seseorang. Sebab, untuk menilai karakter seseorang memang harus bergaul dulu dengan orang tersebut, melakukan pengamatan terlebih dahulu. Sementara Bu Galuh sendiri sangat yakin bahwa pilihan Satria itu tepat. Memang ada satu hal yang memberatkan, tapi melihat Indi saja Bu Galuh sudah bisa menilai bahwa Indira adalah gadis yang baik.
"Rupanya, Karina tersandung kasus video, Bu. Dia bermain dengan seorang pria. Dari sini, aku belajar bahwa mengasuh anak baik itu laki-laki atau perempuan sama susahnya. Orang Jawa bilang, dilepaskan kepalanya dan dipegangi ekornya. Jadi, ketika memberikan kebebasan untuk anak juga, orang tua jangan lepas tangan begitu saja. Pegangi ekornya. Supaya ada pengawasan dari orang tua."
"Ya, setuju, Mas. Terlebih sekarang zaman sudah berubah. Banyak hal yang sekiranya sudah tidak relevan ya jangan dilakukan lagi," balas Bu Galuh.
Rama Bima mengangguk lagi. "Aku jadi berkaca, bagaimana judul aku begitu kaku dengan Satria. Untung saja, Satria tidak pernah mencoreng namaku. Justru Satria selalu menjaga namaku. Menjaga nama Negara."
"Itu pentingnya kita mengajari anak untuk Mikul Duwur Mendem Jero, Rama."
Untuk itu, sebagai anak kita diharapkan dan diajarkan untuktidak gegabah dalam bertindak dan mengambil keputusan. Mesti memikirkan terlebih dahulu dampak baik dan buruknya. Jangan sampai salah bertindak dan mencoreng nama keluarga. Sebab, pada dasarnya kita sebagai anak menyandang nama orang tua. Baik dan buruknya sikap anak, akan memberikan pengaruh pada citra kedua orang tua. Untuk itu, anak-anak memang harus diajarkan untuk hati-hati dalam melangkah. Jangan sampai ketika orang tua salah mendidik dan anak-anak salah langkah, pada akhirnya nama dan reputasi keluarga sendiri yang tercoreng karenanya. Butuh kebijaksanaan, butuh mawas diri, dan juga kedewasaan dalam berpikir, bertutur kata, dan juga bertindak.
"Itu yang selalu aku lakukan seumur hidupku, Bu ... tidak pernah aku melakukan sesuatu yang mencoreng nama keluargaku. Bahkan dalam rumah tangga kita yang kadang banyak masalah," kata Rama Bima.
"Semoga Satria dan Sitha juga bisa melakukan yang sama. Dalam setiap langkahnya, dalam setiap hal yang dia lakukan, semoga saja Satria dan Sitha bisa menjunjung kita tinggi, dan memendam dalam keburukan orang tuanya," balas Bu Galuh.
Usai itu, Rama Bima menatap istrinya itu. Lantas Rama Bima berbicara hati ke hati dengan istrinya. "Terima kasih sudah menerimaku. Baik dan buruknya aku. Hampir tiga puluh tahun menemaniku, kamu tidak pernah melakukan satu hal yang buruk. Kamu selalu menjadi teman, istri, dan Ibu yang baik."
__ADS_1
Mengingat bagaimana dulu pernikahan karena perhjodohan dan dimulai tanpa cinta. Tak jarang arogansi seorang Rama Bima lebih mendominasi. Walau demikian, Bu Galuh bertahan. Dia selalu menjadi istri yang baik dan ibu yang baik untuk anak-anaknya. Ketika rumah tangga diguncang masalah pun, Bu Galuh bersabar dari menghadapi semuanya.
"Sama-sama Rama ... kita sudah menua. Sudah sama-sama tua, apakah elok bertengkar? Padahal cucu-cucu kita akan segera lahir," kata Bu Galuh.
"Sangat tidak elok. Maaf yah kalau kadang kala aku sering menjadi suami yang keras," kata Rama Bima.
"Tidak apa-apa, Rama. Dimaafkan. Dalam cinta, dalam kehidupan berumahtangga ada maaf. Justru ketika sudah tidak ada kata maaf itu yang dikhawatirkan."
Sungguh lapang dan besarnya hati seorang Bu Galuh. Dia tahu dan mengalami tidak mudah mendampingi Rama Bima yang terkadang keras, kaku, dan kadang arogan. Namun, ketika sudah bertambah tua, cucu-cucu mereka juga akan lahir, tidak elok kika bertengkar. Oleh karena itu, selalu ada maaf.
"Lain kali kita ke Jogjakarta yah kalau Sitha liburan sekolah? Kita akan piknik Satria dan Indi dan Besan kita," kata Rama Bima.
"Iya, Rama."
Begitu fase manusia hidup. Dulu, ketika menjadi pasangan suami istri dan masih sama-sama muda, sering kali terjadi benturan. Tidak sevisi, berbeda prinsip dan berjuang menyatukan karakter. Namun, ketika sudah sama-sama tua, bisa mengurai semuanya. Bisa memaknai kehidupan dan pengalaman yang pernah terjadi. Selain itu, keduanya juga harus lebih bijaksana, Rama Bima dan Bu Galuh sebentar lagi juga akan menjadi Eyang dan akan memiliki dua cucu. Tidak elok kalau bertengkar, kalau tidak sependapat pun harus dicari jalan keluarnya. Inilah rumah tangga, tempat kita beradaptasi sepanjang masa. Inilah rumah tangga, tempat kita belajar melewati fase demi fase hingga kita menua nantinya. Inilah rumah tangga, di mana kita beribadah bersama pasangan kita setiap harinya. Menjadi pasangan yang melengkapi satu sama lain.
Happy Reading ^^🥰
__ADS_1