Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Irene Datang dari Jakarta


__ADS_3

Selang beberapa pekan kemudian, keluarga Hadinata tampak sangat bahagia. Sebab, esok Irene akan pulang ke Jogjakarta. Kebetulan tengah masa liburan anak-anak sekolah, sehingga Irene bisa pulang kembali ke Jogjakarta.


Sore itu Ayah Pandu dan Bunda Ervita yang sedang bermain di rumah Indi dan Satria pun saling bercerita dan menyusun rencana untuk menjemput Irene besok.


"Mbak Didi, besok Irene pulang dari Jakarta. Setelah sekian lama akhirnya Irene pulang juga," kata Ayah Pandu.


Tidak dipungkiri sebagai seorang ayah, pastinya Ayah Pandu sangat senang karena bisa bertemu dengan putri kandungnya. Setelah perpisahan yang begitu lama dan selama ini hanya bertukar kabar dengan whatsapp saja. Indi juga senang karena adiknya akan datang.


"Besok kita jemput Irene, Yah?" tanya Indi.


"Iya, katanya di bandara. Jam sembilan pagi. Irene bilang subuh sudah harus menuju ke bandara. Ayah kadang mikir, anak Ayah bisa bekerja di tempat yang jauh. Berani untuk ke bandara sendiri, padahal dari tempat kost ke bandara juga jauh."


Bunda Ervita, Indi, dan Satria menganggukkan kepalanya. Kadang memang seperti itu, anak yang tidak pernah jauh dari rumah. Sehari-hari lebih banyak menghabiskan waktu di kampus, begitu lulus ternyata berani bekerja di Ibukota Jakarta. Inilah bukti nyata bahwa kadang seseorang juga didewasakan karena keadaan.


"Berapa lama Irene liburan, Yah?" tanya Satria.


"Dua pekan saja, Sat ... sekarang dia sudah bekerja, jadi tidak bisa berlama-lama. Walau tentu masih kangen, Ayah tetap mendukung Irene. Sudah menjadi komitmen Ayah untuk mendukung Irene," kata Ayah Pandu.


Jika mengingat kasih sayangnya yang begitu besar, Ayah Pandu dan Bunda Ervita inginnya menggenggam putri bungsunya itu. Membuat Irene tetap di dekatnya. Namun, keduanya sudah berkomitmen untuk mendukung Irene, sehingga walau harus berpisah, keduanya tetap memegang komitmen. Memberi Irene kesempatan dan peluang untuk mengejar mimpi dan cita-citanya.


Ayah Pandu dan Bunda Ervita berani keluar dari pakem bahwa zaman dulu, para wanita di Jawa bahkan di Nusantara hanya terkungkung di dalam rumah. Lebih ironis dalam tradisi Jawa, wanita yang disebut sebagai "konco wingking" atau "teman belakang" oleh suaminya. Wanita tidak boleh banyak mengambil peran di depan, tempat wanita hanya di dapur. Akan tetapi, Ayah Pandu dan Bunda Ervita mendorong anak-anaknya untuk bekerja sesuai dengan passionnya. Memberikan kesempatan untuk mengejar impian dan cita-citanya. Memberikan peran untuk Indi dan Irene. Mengubah pola pikir bahwa para wanita bisa diberdayakan.


"Tidak apa-apa, Yah. Sudah menjadi komitmen kita untuk mendukung Irene. Jadi, mari kita terus mendukung Irene mengejar mimpinya dulu," kata Individu.


"Itu yang kami lakukan, Mbak Indi."


Banyak pembicaraan tentang Irene yang mereka bahas bersama. Namun, mereka sepakat bahwa esok pagi mereka akan bersama-sama menuju ke bandara untuk menjemput Irene.

__ADS_1


...🍀🍀🍀...


Keesokan Harinya ....


Hari masih begitu pagi, bahkan Ayah Pandu, Bunda Ervita, serta keluarga Indi baru saja usai sarapan. Akan tetapi, mereka sudah bertolak menuju ke Bandara Internasional Yogyakarta. Tentu ini adalah hari yang dinanti, hari di mana mereka akan bertemu lagi dengan Irene.


Indi hanya sekadar mengamati wajah kedua orang tuanya yang terlihat bahagia. Terlebih Ayah Pandu yang banyak tersenyum. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kembali bersua dengan anak sendiri rasanya bahagia. Bisa saja sekarang jantung rasanya berdebar-debar dan tidak sabar untuk bertatap muka dengan Irene.


Satria yang mengemudikan mobil juga kadang tersenyum. Kemudian Satria melirik Indi yang beberapa kali mengusap perutnya yang masih rata.


"Perutnya enggak kenapa-napa kan Sayang?" tanya Satria.


"Enggak apa-apa kok, Mas. Refleks pengen usap-usap perut aja kok," balas Indi.


"Baby twins mau ketemu Ante Irene itu," balas Satria.


"Iya, ketemu dulu waktu di dalam kandungan. Belum tentu nanti kalau sudah dilahirkan bisa bertemu Ante," balas Indi.


"Tidak apa-apa, Nda. Kan Irene sudah bekerja. Nanti di videocall saja kalau Indi udah lahiran," balas Indi.


Bunda Ervita dan Ayah Pandu sekarang menganggukkan kepalanya. "Makasih yah, Mbak Indi. Kamu ini dewasa dan pengertian. Padahal Yayah tahu bahwa kamu juga sayang dan suka ketika Irene berada di Jogjakarta. Kamu mengajari Yayah dan Nda mu ini untuk ikhlas dan sabar."


"Nanti kalau Irene sudah kembali ke Jakarta jangan sedih lagi yah Yayah dan Nda. Main-main saja sama Nakula dan Sadewa. Yayah dan Nda harus bahagia," kata Indi.


Pasangan Ayah Pandu dan Bunda Ervita pun menganggukkan kepalanya. Senyuman mengembang di bibirnya. Sekarang memang bisa merespons demikian, tapi pasti nanti rasanya tetap saja sedih.


Akhirnya mereka sekarang sudah tiba di Bandara. Satria menggendong Nakula, sementara Ayah Pandu menggendong Sadewa. Untuk sementara waktu memang Satria meminta Indi untuk tidak menggendong-gendong Nakula dan Sadewa dulu, supaya tidak menekan perutnya yang kini berisi dua kantung janin.

__ADS_1


"Ppa, ke cini ngapain?" tanya Sadewa.


"Mau jemput Ante Irene, Dewa."


"Ante ana?" tanya Sadewa lagi. Agaknya dia sedikit lupa dengan Ante Irene. Maklum anak kecil, kadang ada beberapa hal yang dia lupakan, terlebih memang tidak setiap hari bertemu Ante-nya itu.


"Ante Irene itu adiknya Mama. Hari ini Ante datang dari Jakarta," balas Satria.


"Jakalta ada Onas-nya?" tanya Sadewa. Maksudnya adalah di Jakarta ada Monasnya. Itu Sadewa ketahui dari buku miliknya bahwa ada Monas di Jakarta.


Satria kemudian menganggukkan kepalanya. "Benar. Wah, hebat Mas Sadewa tahu kalau di Jakarta ada Monas."


Sekarang mereka sudah tiba di depan pintu kedatangan. Mengamati jadwal tiba pesawat udara dari Jakarta menuju ke Jogjakarta. Di papan jadwal itu pesawat sudah nyaris landing. Artinya tidak lama lagi bisa bertemu dengan Irene.


Menunggu lebih dari lima belas menit, sosok yang mereka tunggu-tunggu datang juga. Dari jauh tampaklah gadis cantik berambut panjang. Yang hanya mengenakan kaos dan celana panjang. Gadis itu tersenyum dan mempercepat langkah kakinya.


"Assalamualaikum Yayah dan Nda," sapa Irene begitu sudah berdiri di depan Ayah dan Bundanya.


Ah, tiba-tiba Ayah Pandu dan Bunda Ervita tak kuasa menahan air mata. Begitu rindu sekali dengan putrinya itu. Ketika Irene memberi salam takzim kepada Ayah dan Bundanya bergantian dan disambut dengan pelukan yang hangat. Pelukan kerinduan dari Yayah Pandu dan Bunda Ervita.


"Waalaikumsalam, Dek ...."


"Kangen sama Yayah dan Nda," kata Irene yang sekarang dipeluk Yayah dan Nda nya bersamaan.


Beberapa saat ketiganya masih berpelukan kemudian Irene menyapa Mbak dan Mas Iparnya. Indi hanya berkaca-kaca, walau sangat senang bertemu adiknya lagi.


"Sehat, Dek?" tanya Indi.

__ADS_1


"Alhamdulillah, Mbak."


Akhirnya setelah cukup lama sejak Irene memutuskan bekerja di Jakarta, sekarang mereka bisa bertemu lagi. Memang hanya dua pekan, tapi ini dirasa sebagai sedikit penawar rindu kepada Irene. Waktu dua pekan yang akan dimanfaatkan dengan sangat baik oleh mereka.


__ADS_2