
Keesokan harinya, Indi kembali ke Oemah Jamu. Akan tetapi, kali ini Indi tidak datang terlalu pagi. Sebab, dia pergi ke beberapa tempat untuk membeli furniture dan beberapa barang untuk memperindah Oemah Jamu. Bahkan, Indi juga menyiapkan desain untuk mendisplay aneka rempah yang digunakan untuk membuat jamu seperti Kunyit, Asam Jawa, Kencur, Jahe, dan mungkin ada beberapa hal yang ditambahkan untuk memperindah ruangan dan setiap sudut di Oemah Jamu itu.
Indi tidak pergi sendiri, tapi justru diantar oleh Yayah Pandu. Senang sekali rasanya bisa diantar Ayah sendiri dan sekaligus melepas rindu. Biasanya sering bertemu dan bekerja di bawah arahan Ayahnya kala di kantor, dan sekarang Indi harus bekerja sendiri di Oemah Jamu ini.
"Gimana Mbak Indi ... sudah menjalani kehidupan berumahtangga sama Satria?" tanya Ayah Pandu.
"Baru beberapa hari, Yayah. Masih harus banyak belajar," balas Indi.
"Kehidupan berumahtangga itu tempat belajar seumur hidup, Mbak. Kamu dan Satria harus belajar bersama. Yang kalian pelajari pun beragam nanti," kata Ayah Pandu.
"Ayah dulu sama Bunda bagitu juga tidak?" tanya Indi.
"Ayah justru langsung belajar menjadi Ayah, Mbak ... yang Bunda nikahi bukan seorang gadis, melainkan seorang Ibu Tunggal. Jadi, ketika sudah menikah, Ayah langsung belajar bagaimana caranya untuk menjadi Ayah yang baik untukmu," jawab Ayahnya.
Bukan bermaksud mengatakan yang tidak-tidak. Namun, Ayah Pandu mengatakan sebuah fakta bahwa memang ketika menikahi Ibu tunggal yang dipelajari pun berbeda. Seketika, dia harus belajar bagaimana menjadi Ayah yang baik untuk Indi. Menerima dan menyayangi Indi layaknya anak sendiri.
"Kenapa sih, Yayah selalu keren," kata Indi.
"Keren di mata kamu kan Mbak?" balas Ayah Pandu dengan tertawa.
"Di mataku, Bunda, dan Irene. Yayah kerena banget. Gak ada obat pokoknya," kata Indi.
"Kamu bisa saja," balas Ayah Pandu.
__ADS_1
"Serius, Yah. Selalu hebat dan luar biasa di mata kami."
"Ayah dulu ya pemuda matang, sementara Bundamu masih sangat muda. Ayah berusaha menjadi sosok yang dewasa, dan menyayangi kamu dengan tulus. Tidak berpura-pura. Lihatlah, kita bisa saling menyayangi seperti ini kan?" tanya Ayah Pandu.
"Setuju, Yah ... makasih, Yayah. Yayah mau menikahi seorang ibu tunggal, dan membuat Indi mendapatkan kesempatan memiliki Ayah. Indi selalu sayang Yayah," balasnya.
Ayah Pandu tersenyum, memang begitulah adanya. Setiap kali Indi mengatakan bahwa dia menyayangi ayahnya, Ayah Pandu sangat bahagia. Lantas, Ayah Pandu bertanya lagi kepada Indi.
"Yayah antar ke Oemah Jamu sekarang?" tanyanya.
"Iya, Ayah ... maaf yah sudah merepotkan," balas Indi.
"Sama sekali tidak repot, Mbak Indi. Kalau butuh sesuatu kabarin Yayah aja yah. Hati-hati bekerjanya," pesan Ayah Pandu.
"Ada apa ini?" tanya Rama Bima.
"Ini menyiapkan untuk menaruh furniture besok, Pak. Begitu seluruh panel kayu sudah dipasang, maka tinggal menyempurnakan ruangan dan setiap sudutnya saja," jawab Indi.
"Jadi, tidak perlu menunggu sampai akhir bulan sudah selesai yah?" tanya Rama Bima.
Indi menganggukkan kepalanya. Menurut perhitungannya sendiri, dua pekan aadalah waktu yang cukup untuk menyelesaikan semuanya. "Dua pekan lagi sudah selesai," jawab Indi.
"Jadi, kapan bisa mulai soft launching? Saya berpikir untuk mengadakan soft launching dan mengundang beberapa rekan ke sini?" tanya Rama Bima lagi.
__ADS_1
"Setelah dua pekan dan terlihat perkembangannya, Bapak bisa mengundang rekan-rekan dan mitra usaha Oemah Jamu," jawab Indi.
Rama Bima menganggukkan kepalanya. Dia sendiri mengakui sikap profesionalitas Indi yang bisa menyelesaikan semuanya dengan baik. Belum sampai tenggat waktunya saja, semua kerjaan nyaris sudah selesai. Selain itu, cara Indi memimpin tim juga sangat baik. Walau tidak memuji secara langsung, tapi Rama Bima mengakui itu.
"Baiklah ... lanjutkan pekerjaannya," kata Rama Bima.
Baru beberapa langkah Rama Bima melangkahkan kaki, tumpukan panel kayu yang menjulang tinggi seolah bergerak. Gerakan kardus panel kayu yang samar itu terlihat oleh Indi. Indi memperhitungkan jarak panel kayu dan Rama Bima yang sangat dekat. Kemudian Indi sedikit berlari dan mendorong Bapak suaminya itu.
"Bapak Bima ... Awas."
Dalam sekian detik, benar seluruh panel kayu itu ambruk.
Bruk ....
Celakanya justru kardus dan tumpukan panel kayu itu justru menjatuhi Indi. Efek kejatuhan dan syok, Indi pingsan di tempat. Sementara Rama Bima terlihat begitu panik.
"Mbak Indi ... Indira ...."
Dia berusaha menyingkirkan kotak panel kayu yang ambruk, dan menolong Indi yang tertimbun di sana. Namun, usaha sendiri tidak akan bisa karena tumpukan yang jatuh cukup tinggi dan sangat banyak.
"Tolong ... tolong ...."
Tedja dan beberapa staf lainnya pun bergegas dan menolong apa yang sebenarnya terjadi. Di kala itu Rama Bima terkejut dan panik seketika. Pria paruh baya itu tidak menyangka bahwa tumpukan panel kayu itu bisa menjatuhinya, tapi justru Indi menyelematkannya.
__ADS_1