Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Setiap Rumah Tangga Punya Cerita


__ADS_3

Selang waktu berlalu hampir dua pekan, Indi bertukar pesan dengan temannya yaitu Viona. Sebenarnya Viona yang mengirimkan pesan untuk Indi terlebih dahulu. Dia hanya meminta support dan dukungan agar perceraiannya dengan Anthony tidak berlarut-larut. Walau hanya berteman sebentar Viona yakin Indi adalah orang yang baik.


Bahkan sekarang keduanya bertelepon sebentar. Tentu Indi akan mendoakan dan berharap agar masalah rumah tangga Viona segera selesai.


"Doakan ya, In ... aku akan segera menggelar sidang mediasi, tapi sudah kupikirkan baik-baik kalau aku menolak mediasi," kata Viona melalui panggilan seluler.


"Semoga ini keputusan yang tepat yah, Vio. Kamu lebih kuat usai semuanya ini," balas Indi.


"Siapa sangka yah, In ... aku akan menjadi janda muda. Usiaku belum kepala tiga dan aku sudah menjanda," kata Viona sekarang.


Jujur, hati Indi menjadi terenyuh mendengarkannya. Terlebih Indi juga kenal sosok Karina seperti apa. Sebab, Karina sendiri juga sosok yang cukup menyebalkan dan suka merendahkan orang lain.


"Sabar dan kuat yah, Vi. Semua orang pastinya menginginkan pernikahan itu sampai jannah. Bahkan ingin sama-sama di surga nanti. Kuat untuk Arbe yah," kata Indi.


Kala mengatakan itu saja air mata Indi berlinang begitu saja. Sebab, keinginan hatinya bisa till jannah dengan Satria. Bahkan ingin di surga pun bersama-sama dengan suaminya. Mendengar rumah tangga temannya yang benar-benar di ujung tanduk dan tidak bisa diselamatkan lagi membuat Indi terenyuh rasanya.


Usai menelpon Viona, Indi melanjutkan untuk mengasuh Nakula dan Sadewa, sembari menata pakaian bayi si Kembar yang berantakan. Bahkan hampir empat bulan usia Nakula dan Sadewa, beberapa baju bayi size New born sudah tidak bisa terpakai. Oleh karena itu, Indi memilahnya sekalian.


Hingga sore tiba, Indi menyambut suaminya yang baru saja pulang dari kantor dengan menggendong Nakula dan Sadewa bersamaan. Wajah lucu Nakula dan Sadewa menjadi hiburan tersendiri untuk Satria yang baru saja pulang kerja.


"Papa pulang," kata Satria dengan memanggul ransel di bahunya.


"Halo Papa," sapa Indi. Sementara Nakula dan Sadewa juga bersuara lucu dengan suara bayinya alias babbling.


Satria sampai tertawa melihat tingkah lucu Nakula dan Sadewa. Ingin menggendong, tapi Satria tahu dirinya kotor. Badannya sangat bisa terkena debu dan kuman dari luar. Oleh karena itu, Satria mengurungkan niatnya.


"Papa pengen gendong kalian, tapi Papa masih kotor. Papa mandi dulu yah," kata Satria.

__ADS_1


Memberikan waktu untuk Satria mandi, sekarang Indi mengajak Nakula dan Sadewa bermain bersama. Ada rattle dan beberapa mainan untuk bayi di bawah usia enam bulan yang dibelikan Eyang Pandu dan Eyang Rama untuk cucu-cucunya. Sehingga, sekarang Nakula dan Sadewa bermain-main di sana.


"Coba digerakkan, Nang. Kalau digerakkan berbunyi loh," kata Indi kepada kedua putranya. Seakan Mama muda itu memberikan instruksi untuk menggerakkan rattle.


Usia mandi, Satria bergabung dengan istri dan anak-anaknya. Kamar bermain terdengar berisik dan afa beberapa mainan di sana. Lantaran anaknya kembar, semua mainan masing-masing ada 2 pcs. Entah itu rattle, boneka tangan, dan lainnya. Para Eyangnya kalau membelikan juga pasti 2 pcs.


Hingga malam hari tiba, Indi bercerita dengan suaminya terkait dengan telepon dengan Viona tadi siang. Itu juga karena keduanya biasanya saling menceritakan aktivitas mereka sesiang hari.


"Seharian ngapain aja, Sayang?" tanya Satria.


"Ya ngasuh Nang-Nang, Mas. Sama tadi, aku teleponan sama Viona sebentar," cerita Indi.


"Tumben. Biasanya kamu kalau teleponan sama Bunda, Ibu, dan Irene."


Satria membalas demikian karena Satria tahu siapa saja nomor yang sering dihubungi istrinya. Selain itu, keduanya juga sama-sama terbuka dengan handphone masing-masing. Saling memberi akses. Sebab, sejatinya pernikahan, kehidupan berumahtangga juga berbagi privasi antara suami dan istri.


"Sedih ya, Yang. Mana itu anaknya masih kecil. Perselingkuhan hanya menghancurkan rumah tangga," kata Satria.


"Ya, iya, Mas. Terlebih tahu suaminya tidur dengan wanita lain, seorang istri pastinya terluka banget," balas Indi.


Satria melirik istrinya itu, kemudian Satria merangkul istrinya. "Ya, setiap rumah tangga memiliki ceritanya, Sayang. Entah itu suka dan duka. Tak jarang komitmen pasangan juga digoyang. Semoga kita bisa saling menjaga bersama-sama. Keinginanku till jannah bersamamu," kata Satria.


Seiya dan sekata, Indi dan Satria memiliki cita-cita yang sama. Menua bersama.


"Kalau bisa di surga pun kita bersama-sama yah, Mas," sahut Indi.


"Aamiin ya Allah. Semoga begitu yah, Sayang. Allah dengar dan kabulkan keinginan kita."

__ADS_1


Usai membicarakan semuanya itu keduanya cukup lama terdiam. Banyak yang mereka pikirkan. Keinginan untuk selalu bersama itu sangat kuat. Ingin menjadi figur teladan untuk anak-anak juga.


"Mendukung dan memberi dukungan moral tidak apa-apa, Yang. Penting sih kamu jangan kepikiran yah. Masih meng-ASI-hi, masih mengasuh anak-anak, jangan lupa selalu mencintai dirimu sendiri," kata Satria.


"Tentunya juga selalu mencintai Mas Satria," balas Indi.


Senyuman terbit di wajah Satria. Dia senang mendengarkan perkataan istrinya. Walau begitu, Satria juga mengingatkan supaya Indi tidak lupa mencintai dirinya sendiri. Ketika seorang ibu, seorang istri mencintai dirinya sendiri, dia akan bisa menansfer rasa cinta itu untuk suami dan anak-anak.


"Kamu kalau mau self care boleh banget, Sayang. Akhir pekan, biar aku yang ngasuh anak-anak. Kamu mau ke Salon atau makan kesukaan kamu boleh banget. Beri waktu dan bahagiakan dirimu sendiri," kata Satria.


Terlihat bagaimana baiknya Satria. Dia bahkan memberikan Indi waktu untuk self care. Indi malahan yang sungkan.


"Di rumah aja gak apa-apa kok, Mas."


"Kan sesekali gak apa-apa. Busui juga butuh selfcare."


Indi tersenyum, mungkin lain kali dia akan mengambil waktu di akhir pekan untuk Self care. Walau sebenarnya juga kasihan dengan suaminya andai harus mengasuh Nakula dan Sadewa sendirian.


"Kamu udah mendapatkan haid pertama usai masa nifas belum, Yang?" tanya Satria sekarang.


"Belum itu, Mas. Udah hampir empat bulan belum. Nanti kalau udah haid, mau pasang kontrasepsi yah Mas. Anterin yah," pinta Indi.


"Siap, Sayangku. Kamu minta ke mana aja juga aku anterin kok. Tenang saja," balas Satria.


"Makasih Mas. Kamu baik banget, ini yang membuatku ingin terus menua bersamamu. Kita tidak akan pernah tahu dengan apa yang akan terjadi di masa depan, tapi kita akan membuat cerita kita sendiri. Selalu menjaga komitmen dan setia yah, Mas?"


"Iya, Sayang. Kita buat kisah kita sendiri dengan Nakula, Sadewa, dan juga dengan adik-adiknya nanti."

__ADS_1


__ADS_2