Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Dikunjungi Mertua


__ADS_3

Akhir pekan kemudian, keluarga Indi dan Satria dikunjungi Eyang Rama dan Eyang Ibu dari Solo. Memang Rama Bima dan Bu Galuh sengaja menunggu akhir pekan untuk mengunjungi keluarga Satria di Jogjakarta. Sebab, di hari-hari biasa pastilah Rama Bima sibuk mengurus pabrik jamu. Hanya di akhir pekan saja, Rama Bima bisa bepergian ke luar kota.


Sekarang Nakula dan Sadewa sudah satu bulan usianya. Tidak terasa, seperti rasanya baru kemarin terima cucu dan sekarang sudah kedua cucunya sudah berusia satu bulan. Sehingga, kembali bertemu Nakula dan Sadewa sejak acara Aqiqah membuat Rama Bima dan Bu Galuh sangat senang.


"Rama dan Ibu baru bisa datang, mengunjungi kalian lagi. Banyak sekali pekerjaan di pabrik," kata Rama Bima.


"Banyak orderan atau bagaimana, Rama?" tanya Satria.


"Permintaan jamu kita dari mancanegara naik. Apalagi dari Jepang dan Korea Selatan. Yah, ladang berkah, Sat. Rejeki juga untuk seluruh karyawan, mereka sering lembur kan sering mendapatkan uang lembur juga," kata Rama Bima.


Satria menganggukkan kepalanya, Ramanya itu memang pemimpin yang baik. Ketika karyawannya lembur, selalu akan diberikan uang lembur. Kesejahteraan para karyawannya benar-benar diperhatikan.


"Ini oleh-oleh untuk Kembar yah," kata Rama Bima.


Selayaknya Eyang yang datang mengunjungi cucunya banyak sekali oleh-oleh yang dibawa mulai dari mainan hingga pakaian bayi. Selain itu, banyak makanan yang dibawakan untuk Indi dan Satria dari Solo.


"Oleh-oleh juga untuk Mama dan Papanya Kembar," kata Bu Galuh.


Begitu banyak oleh-oleh yang dibawakan Bu Galuh. Mulai dari Roti Mandarin Khas Solo, dan ada beberapa jamu yang dibuatkan khusus untuk Indi. Sebagaimana janji Bu Galuh dulu yang akan membuatkan jamu khusus untuk Indi usai melahirkan.


"Mbak, janjinya Ibu dulu ... Ibu buatkan jamu khusus untuk Mbak Indi. Biar kembali seperti gadis," kata Bu Galuh.


Mendengarkan ucapan mertuanya, Indi justru tertawa. Mana mungkin sudah melahirkan anak dua dan bisa kembali seperti gadis. Agaknya itu tidak mungkin.


"Mana bisa, Ibu ...." Indi berbicara dengan tertawa. Malu sebenarnya dengan ucapan Ibunya itu.

__ADS_1


"Bisa, biar rumah tangga harmonis. Tidak salahnya juga kan kalau kita memberikan yang terbaik untuk suami kita, menjadi ladang pahala untuk suami kita," balas Bu Galuh.


Kemudian Bu Galuh memberikan jamu dalam dua botol besar warna kuning, jadi mungkin saja jamu itu dibuat dari Kunyit. Sebab, memang biasanya Kunyit sering diminum para ibu usai bersalin.


"Kunyit dan Sirih ayu untuk membersihkan bagian dalam organ wanita kita, Mbak. Mengurangi bau anyir, dan bagus untuk wanita. Diminum yah. Jamu dalam botol ini, jadi bisa langsung diminum," kata Bu Galuh.


Indi masih senyam-senyum sendiri menerima Jamu dalam kemasan botol itu. Kemudian dia bertanya kepada Ibu mertuanya. "Indi simpan di kulkas boleh enggak Bu?" tanyanya.


"Boleh, boleh banget. Biar seger yah pas diminum," balas Bu Galuh.


Akhirnya Indi menyimpan jamu kemasan botol itu ke dalam lemari es terlebih dahulu. Setelahnya, Indi kembali ke ruang tamu.


"Ini juga Ibu belikan di apotek, Mbak Indi. Supaya kembali rapet dan wangi, udah Satria nanti jatuh cinta," kata Bu Galuh dengan berbisik-bisik.


Ya Tuhan, Indi benar-benar geli jadinya. Namun, bersyukur juga karena mertuanya sampai memikirkan sejauh itu.


"Tidak repot sama sekali, Mbak. Sekarang, banyak wanita penggoda di luar sana, Mbak. Jangan biarkan suami kita mendapatkan kesenangan di luar rumah. Lebih baik tunaikan ibadah bersama istri. Ibadah yang susah, susah karena namanya ibadah pasti ada saja halangannya. Ibadah yang terpanjang karena berjalan sepanjang hayat, tapi ganjaran pahalanya dari Allah luar biasa," kata Bu Galuh.


Indi menganggukkan kepalanya. Benar pernikahan itu adalah ibadah. Tak jarang sekali banyak sekali cobaannya. Terlebih untuk ibadah yang berlangsung sepanjang hayat, kadang ada cek-cok, ujian kesetiaan, dan berbagai masalah yang datang silih-berganti. Namun, ketika niat hati memandang pernikahan adalah ibadah, Allah menyediakan pahala yang sangat luar biasa.


"Aamiin, doakan nggih Ibu. Indi dan Mas Satria masih harus belajar banyak," balas Indi.


"Iya, Mbak Indi."


Setelah itu, Bu Galuh dan Rama Bima menggendong cucu-cucunya. Senang sekali melihat Nakula dan Sadewa yang rambutnya mulai tumbuh, cucunya itu kelihatan semakin ganteng.

__ADS_1


"Nak Lanang ya cakep tenan," kata Rama Bima.


"Iya, Rama. Dua-duanya cakep. Kayak gendong Satria dulu," balas Bu Galuh.


Indi dan Satria sekarang agak santai karena Eyangnya maunya menggendong Nakula dan Sadewa terus. Efek kangen juga, terlebih keluarga Negara memang menetap di Solo, sehingga tidak bisa sering-sering ke Jogjakarta.


"Bulan depan kalau bisa ke Solo yah, Mbak Indi. Kan Sitha lulusan SMA tuh," kata Bu Galuh.


"Loh, sudah mau lulusan SMA yah Bu?" tanya Indi.


"Iya, sudah mulai PMDK juga di Sebelas Maret ambil Teknologi Pangan, katanya nanti biar bisa melanjutkan bisnis Ramanya," balas Bu Galuh.


Indi menganggukkan kepalanya. "Didukung Ibu, Indi kan dulu mengambil desain interior juga biar bisa bekerja sama Yayah. Walau sekarang resign dulu, mengasuh Nakula dan Sadewa dulu," balas Indi.


"Tidak apa-apa, Mbak Indi. Kebahagiaan dan kepuasan mengasuh anak sendiri itu luar biasa. Biar Nakula dan Sadewa besar dulu, nanti bekerja lagi," kata Rama Bima.


Indi mengangguk lagi. Pikirnya juga begitu. "Ya nanti kalau sekadar menjadi konsultan bisa, Rama. Nakula dan Sadewa titip ke Bunda sebentar. Kalau konsultan desain kan bekerjanya tidak seharian, hanya satu atau dua jam saja."


"Dirembug, didiskusikan bersama suami dan istri mana baiknya. Rumah tangga itu kalau sudah menikah, ada pasangan, wajib Berdiskusi, Mbak. Keputusan itu juga atas pemikiran dan diskusi bersama. Yang penting itu kamu dan Satria, kalau Rama dan Ibumu sih sebisa mungkin tidak cawe-cawe."


Cawe-cawe yang dimaksud Rama Bima adalah tidak begitu ikut campur dan mengintervensi rumah tangga anak. Justru ketika anak berumahtangga dan bisa menyelesaikan masalahnya sendiri itu bagus.


"Istilah cawe-cawe baru hits sekarang, Rama," balas Satria.


"Nah, iya. Kalau kalian sudah dewasa, bisa kok memilih dan memilah. Rama dan Ibu itu mendoakan, orang tua tidak hanya berdiri di depan memberi teladan, tapi juga mendorong kalian dari belakang. Bukan sekadar Ing Ngarso Sung Tuladha (Orang yang berdiri di depan dan memberikan teladan), tapi juga Tut Wuri Handayani (Orang yang berada di belakang memberikan dorongan). Baik di depan atau belakang sama susahnya, tapi Rama dan Ibu akan berusaha melakukan itu. Menjadi teladan, dan memberi dorongan kepada kalian."

__ADS_1


Rama Bima menjelaskan semua dengan panjang lebar. Akan tetapi, Indi dan Satria justru senang dengan petuah-petuah seperti ini. Keduanya memang perlu menimba ilmu dari orang tua yang lebih sepuh dan sudah banyak makan asam garam. Yang baik diambil dan dilakukan, itulah prinsip memilih dan memilah.


__ADS_2