
Turun dari pesawat, Indi dan Satria menggendong anaknya satu-satu. Walau perjalanan udara belasan jam memang membuat capek, terlebih membawa dua putranya. Akan tetapi, wajah mereka begitu sumringah ketika tiba di Jogjakarta. Kembali ke kampung halaman. Walau kala itu Jogjakarta terasa begitu panas, tidak sesejuk di Amsterdam. Namun, hati merasa hangat kalau pulang ke kota sendiri.
"Sugeng Rawuh," kata Satria kepada istrinya sembari turun dari pesawat.
Indi tertawa sembari menggandeng tangan suaminya menuruni anak tangga di pesawat, berjalan masuk menuju pintu keluar dan mengambil koper terlebih dahulu. "Sugeng Rawuh Papa Satria," balas Indi.
"Capek?" tanya Satria sekarang kepada Indi.
"Kalau capek sih pasti. Belasan jam duduk dan mengurus Nang-Nang. Namun, kalau dinikmati ya biasa aja. Sekarang, senang udah di Jogjakarta," balas Indi.
"Jogja tetap istimewa yah, Sayang," kata Satria kepada Indi.
Indi pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Sama seperti slogan kota Jogjakarta yang istimewa, dari luar negeri dan kembali menginjakkan kaki di kota sendiri rasanya memang istimewa. Seistimewa Jogjakarta.
"Sama seperti kamu, Sayang. Selalu istimewa di hatiku," bisik Satria.
Ah, Indi kembali tertawa. Ada apakah gerangan sembari berjalan kaki, suaminya itu justru mengeluarkan rayuan gombal. Wajah Indi memerah karena terkekeh bercampur malu.
"Siang-siang kok udah jurus gombal sih, Mas? Duh, gak kuat," balas Indi.
"Lah kan benar, yang istimewa untuk Mas Satria cuma Mbak Indira," balas Satria lagi.
Interaksi Indi dan Satria itu rupanya dilihat dan diamati oleh Rama Bima dan Bu Galuh. Keduanya sangat bahagia ketika anak-anaknya hidup rukun dan saling mengisi satu sama lain. Cara Indi dan Satria kala menenangkan Nakula dan Sadewa yang sedang tantrum pun terlihat tenang, ibarat kata hati tidak kemrungsung, menjalani semua dengan santai dan sabar tentunya.
"Mereka kompak dan serasi yah, Rama," kata Bu Galuh.
"Iya, selalu kompak. Bahkan terlihat saling memahami. Kita perlu belajar dari Indi dan Satria yang masih muda," balas Rama Bima.
__ADS_1
"Kita yang sudah dewasa, sudah tua kadang masih emosi. Masih tak sependapat. Namun, anak-anak yang masih muda malahan lebih harmonis dan serasi banget. Kayak Mimi dan Mintuna," kata Ibu Galuh.
Dalam cerita Jawa ada cerita mengenai kesetiaan dan cinta kasih yaitu Mimi dan Mintuna. Mimi dan Mintuma sendiri adalah hewan kepiting tapal kuda, atau biasa disebut Belangas. Mimi adalah belangas jantan, sedangkan Mintuna adalah belangas betina. Menurut informasi yang didapat Mimi dan Mintuno adalah sepasang hewan yang tidak dapat dipisahkan, apabila mereka terpisah maka kedua hewan ini akan mati. Menariknya konon, apabila Mimi dan Mintuno tidak dimasak bersamaan maka ia akan mengeluarkan racun, tetapi lain cerita jika dimasak secara bersamaan maka hewan ini dapat dikonsumsi normal. Benar-benar melambangkan sepasang kekasih yang harmonis dan sehidup semati.
"Aamiin. Doakan rumah tangga Indi dan Satria selalu langgeng, Bu. Biasanya nanti setelah lima tahun pertama mulai ada tuh guncangan atau badai. Semoga Indi dan Satria menjadi pasangan seperti Mimi dan Mintuna yang setia bahkan sehidup semati," balas Rama Bima.
Rama Bima hanya mengingat kian lamanya rumah tangga berjalan biasanya akan mulai ada riak-riak yang menyapa. Terutama lima tahun pertama itu adalah masa sulit, masa beradaptasi, dan sebagainya. Oleh karena itu, Rama Bima berdoa semoga Indi dan Satria bisa saling setia layaknya belangas yang bernama Mimi dan Mintuna.
"Iya, Rama. Kita orang tua tentunya mendoakan yang terbaik untuk anak-anak kita, untuk cucu-cucu kita," balas Bu Galuh.
Usai itu, sekarang Indi dan Satria menempatkan Nakula dan Sadewa di stroller. Sementara Satria mulai mengambil troller untuk mengambil koper-koper mereka. Ketika datang hanya dengan tiga koper besar. Sekarang, ada tambahan kurang lebih tiga tas jinjing milik Indi dan Satria. Tas jinjing itu berisi oleh-oleh yang nanti akan dibagikan untuk Ayah Pandu, Budhe Pertiwi, dan Eyang Hadinata tentunya.
"Koper dan barang-barangnya Rama berapa?" tanya Satria.
"Lebih banyak punyamu, Sat. Milik Rama sebagian untuk Rama kirim sebelumnya. Yang makanan untuk pegawai pabrik dan cinderamata," balas Rama.
"Hanya gantungan kunci dan makanan saja. Walau sedikit, untuk pengingat saja," balas Rama.
Satria dan Indi menganggukkan kepalanya. Tidak menilai besarnya pemberian. Jika hanya gantungan kunci yang kecil dan harganya ekonomis tapi seseorang yang memberi sudah berbaik hati untuk mau memberi namanya sudah bagus.
"Rama, Ibu, dan Sitha apa langsung pulang ke Solo?" tanya Indi.
"Pulang besok Mbak Indi, kami menginap di rumah Eyang Dirja dulu. Istirahat dulu," balas Bu Galuh.
"Benar, Bu. Istirahat dulu, masih jetlag juga. Mengistirahatkan pinggang dan punggung, Bu," balas Indi.
Sebab, naik pesawat hingga belasan jam juga membuat tubuh menjadi capek. Kalau di kelas Firstclass pun, bisa berbaring, tetap saja tempatnya terbatas. Tidak seleluasa tidur di ranjang.
__ADS_1
Begitu semua barang-barang sudah diambil, mereka menuju exit di pintu kedatangan. Betapa bahagianya Indi melihat Ayah Pandu, Bunda Ervita, dan Irene yang sudah menunggunya. Ada lambaian tangan dari orang tua dan adiknya.
"Sugeng Rawuh teng Jogjakarta Pak Bima dan Bu Galuh," sapa Ayah Pandu dan Bunda Ervita kepada Besannya.
"Matur nuwun, Pak Pandu ... disambut di sini," balas Rama Bima sembari berpelukan sebentar dengan besannya.
"Sehat Bu?" tanya Bunda Ervita kepada Bu Galuh.
"Alhamdulillah, sehat, Bu. Walau sudah raga tua yah, agak capek saja," balas Bu Galuh dengan tertawa.
Indi pun memeluk kedua orang tuanya. Sangat rindu rasanya dengan orang tua dan adiknya.
"Anaknya Yayah sampai ke negerinya orang Londo," kata Ayah Pandu.
"Iya, Ayah. Untuk kali pertama, Indi melihat negeri yang indah di luar sana," balasnya.
"Anak-anak sehat selalu di sana kan?" tanya Bunda Ervita.
"Alhamdulillah sehat, Bunda. Nakula dan Sadewa pinter banget, tidak rewel selama di sana. Indi kangen, Nda," kata Indi.
"Oleh-olehnya mana Mbak Didi?" tanya Irene.
"Ada. Nanti yah. Kamu sehat kan?" tanya Indi kepada Adiknya.
"Kurang tidur, Mbak. Aku mulai skripsi sekarang. Doakan yah, Mbak ... biar aku segera lulus."
Rupanya Irene sudah mulai bimbingan skripsi. Sehingga Irene mengaku kurang tidur karena sudah mulai mengerjakan skripsi secara intens. Setelahnya, ada beberapa obrolan yang dilakukan, tak lupa Rama Bima mengundang keluarga Hadinata untuk datang ke Solo bulan depan di Festival Solo Jadoel. Ayah Pandu dan Bunda Ervita menyanggupi untuk berkunjung ke Solo bulan depan.
__ADS_1
Indi senang sekali. Pulang ke Jogjakarta, disambut sapa hangat keluarga, dan juga nuansa kekeluargaan di kota Jogjakarta yang membuat Jogja selalu istimewa.