
Tidak terasa family Staycation keluarga besar Hadinata sudah berakhir. Dalam kurun waktu tiga hari yang dimanfaatkan keluarga Ayah Pandu dan keluarga Satria untuk lebih dekat dan tentunya refreshing dari serangkaian aktivitas yang menjemukan. Selain itu, untuk Indi dan Satria sendiri ada dua malam yang benar-benar mereka manfaatkan bersama untuk bonding berkualitas.
"Liburan harus berakhir yah, Mbak," keluh Irene kepada Indi.
"Iya, setidaknya bisa family time bersama. Aku senang sekali melihat Yayah dan Bunda sebahagia ini," kata Indi.
Di mata Indi memang kedua orang tuanya terlihat sangat bahagia. Bermain dengan Nakula dan Sadewa, selain itu kehadiran Irene tentu saja membuat Ayah Pandu dan Bunda Ervita sangat bahagia. Jarang juga keluarga Hadinata berkumpul dengan adanya Irene.
"Next time, kalau aku pulang liburan lagi, kita liburan bersama lagi yah, Mbak. Nanti sudah ada twins yang baru. Seneng banget, selain itu bakalan rame nantinya," kata Irene.
Mendengar apa yang Irene sampaikan, Indi menganggukkan kepalanya. Benar, lain waktu kalau ingin memiliki waktu dengan keluarga lagi akan ada baby Twins yang adalah adik Nakula dan Sadewa, semakin rame pastinya. Indi sampai membayangkan bagaimana hecticnya mengurus empat anak nanti.
"Bakalan rame banget, Dek. Kalau nangis barengan pastinya lebih rame," balasnya.
"Kalau nangis dua-duanya biasanya Mbak Indi pegang yang mana duluan?" tanya Irene.
"Kalau bisa digendong keduanya ya aku gendong berdua. Diberi ASI keduanya, tapi perlu bantuan Mas Satria untuk memposisikan keduanya supaya pelekatan sempurna dan bisa dapat ASI. Kalau memang tidak memungkinkan biasanya, aku pegang satu dan Mas Satria akan memegang satu," cerita Indi.
"Kayaknya seru yah Mbak kalau punya twins. Kok bisa sih dua kali hamil, kembar terus. Membayangkannya pasti hectic, tapi sekaligus senang," balas Irene.
Indi kemudian menepuk bahu adiknya itu. "Gak usah dibayangkan. Dijalani saja. Kadang kalau kita cuma membayangkan terbayang hecticnya. Namun, kalau sudah dijalani gak akan seberapa kok," kata Indi.
"Iya ya, Mbak. Aku tunggu selalu kabarnya yah Mbak. Jangan lupakan memberikan kabar kepadaku walau aku jauh," balas Irene.
"Siap, Dek. Selama ini kita juga selalu memberi kabar kan. Kamu juga selalu cerita sama aku. Available," balas Indi.
Irene tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Selain Bundanya, kakaknya juga merupakan tempatnya curhat. Namun, memang Irene lebih banyak curhat dengan Bundanya. Merasa Bundanya adalah sahabatnya.
__ADS_1
Dari area Kaliurang, Jogjakarta akhirnya mereka turun kembali ke rumah. Menyudahi liburan keluarga kali ini. Satria yang mengemudikan mobilnya juga santai, tidak ingin terburu-buru.
Begitu sudah tiba di kediaman Ayah Pandu, keluarga Indi beristirahat sejenak dan kemudian mereka berpamitan untuk pulang ke rumahnya. Butuh istirahat juga, selain itu keesokan harinya Satria juga sudah harus kembali bekerja.
...☘️☘️☘️...
Dua Hari Kemudian ....
Irene yang sedang berada di rumah dan menikmati semilir angin malam di pendopo rumahnya tiba-tiba menerima sebuah pesan. Kurang lebih isi pesannya seperti ini.
[Selamat malam Miss Irene]
[Miss Irene masih berada di Jogjakarta yah? Apakah tidak bisa kembali ke Jakarta lebih cepat?]
[Nia sakit dan menanyakan keberadaan Miss Irene. Jika memungkinkan bisa menjenguk Nia yang sakit. Kami akan mengganti tiket pesawat dan menjemput Miss Irene di bandara.]
Kalau berada di Jogjakarta, muridnya itu akan mencarinya. Padahal kondisinya sedang sakit. Kalau dia kembali ke Jakarta lebih cepat, orang tuanya juga akan sedih. Irene sendiri juga tahu bahwa Ayah dan Bundanya masih rindu kepadanya. Gadis berambut panjang sepinggang itu hanya menggulir pesan-pesan itu, tanpa berniat membalasnya sekarang. Walau begitu, Irene juga berpikir sakit apa yang dialami muridnya itu? Sampai dalam keadaan sakit, muridnya itu justru mencarinya.
Irene yang termenung, sampai tidak mengetahui kalau Bundanya datang dan menepuk punggungnya.
"Bengong, Dek?" tanya Bunda Ervita.
"Eh, Nda ... enggak, cuma menikmati angin malam di pendopo ini," balas Irene.
"Kepikiran sesuatu?" tanya Bunda Ervita.
Bunda memang sosok yang selalu tahu. Dari raut wajah, bahkan nada bicara Irene saja seolah tersimpan kedilemaan. Kadang kala apa yang tak bisa diutarakan seorang anak, Bunda justru mengetahuinya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Ada muridnya Irene yang sakit, Nda. Lalu, dia malahan mencari Irene. Jadi, orang tuanya memberi kabar," ceritanya jujur.
"Yang videocall kamu tempo hari yah?" tanya Bunda Ervita.
Irene menganggukkan kepalanya. Dia selalu jujur kepada Ayah dan Bundanya. Irene juga tidak pernah berbohong. Lebih baik terbuka dengan kedua orang tuanya. Sama seperti sekarang, Irene yang berbicara dengan jujur.
"Mamanya emang kemana?" tanya Bunda Ervita.
Biasanya anak-anak ketika sakit akan mencari sosok Mamanya. Membutuhkan pelukan, perhatian, dan kasih sayang seorang ibu. Akan tetapi, muridnya Irene ini justru mencari gurunya. Bunda Ervita hanya berpikir sebenarnya di mana mama anak kecil ini.
"Mamanya ada sih, Nda. Cuma masalah pribadi kan bukan ranahnya Irene. Jadi, ya Irene tidak banyak bertanya. Enggak enak, Nda," balasnya.
"Pesannya Bunda jangan sampai menjadi orang ketiga di rumah tangga orang lain. Jangan merusak pagar ayu. Kamu ini masih gadis, berpendidikan tinggi, dididik dan diasuh Yayah dan Nda dengan baik. Tentu harapan kami, jangan sampai kamu menjadi pihak ketiga di dalam hubungan orang lain," nasihat dari Bunda Ervita.
Irene menganggukkan kepalanya. Tentu itu adalah nasihat yang baik. Irene juga paham ada ranah kehidupan rumah tangga orang lain yang tak bisa dia masuki.
"Irene selalu menjalankan itu, Nda. Bunda, kali ini ... semisal Irene kembali ke Jakarta lebih cepat apa boleh?" tanyanya.
"Kamu khawatir sama muridmu itu?"
Irene terdiam beberapa saat. Gadis ayu itu menundukkan wajahnya. Memang selama ini dia tidak berusaha memasuki ranah rumah tangga orang lain, tapi dia merasakan khawatir saja dengan muridnya yang sakit.
"Yah, sedikit khawatir, Nda. Opanya memberitahukan dia sakit. Sakit apa, juga Irene belum tahu. Irene belum membalas pesannya dan belum memberi jawaban apa pun. Irene hanya bertanya kepada Nda terlebih dahulu," cerita Irene.
Sekilas Bunda Ervita teringat dengan masa kecil Indi dulu. Ada masa ketika Indi sakit dan demam, sosok yang dia panggil justru adalah Ayah Pandu yang saat itu masih menjadi Om saja, putra majikannya. Sekarang, seolah ada kisah terulang dan Irene yang mengalaminya. Bunda Ervita tahu sendiri kadang rasa sayang anak kecil kepada orang yang dekat di hatinya itu bisa muncul secara alamiah.
"Kalau memang harus kembali ke Jakarta, kembalilah ... tidak apa-apa. Bunda memahami kekhawatiranmu," kata Bunda Ervita.
__ADS_1
Irene tersenyum. Lega rasanya ketika Bundanya memberikan izin dan juga memahami kekhawatirannya. Semoga saja di lain waktu, Irene bisa pulang lagi ke Jogjakarta dan tidak harus buru-buru kembali ke Jakarta.