
Rencana awal berada di Solo untuk sehari semalam saja, akhirnya urung terjadi karena Rama Bima dan Bu Galuh meminta Satria dan Indi untuk berada di Solo lebih lama. Oleh karena itu, keduanya tak bisa menolak. Sekarang, Rama Bima dan Bu Galuh mengajak Indi, Satria, dan Sitha ke Oemah Wedangan yang ada di Solo. Menikmati suasana angkringan di tempat yang begitu etnik dan kental dengan nuansa Jawa.
"Menikmati suasana angkringan di tempat yang etnik nih, Mbak Indi," kata Bu Galuh.
"Interiornya bagus, Bu ... lantainya masih tanah, semua furniturenya kayu dan ada barang-barang yang seakan membawa kita kembali ke masa lalu," balas Indi.
"Mbak Indi desainer interior sih ... jadi langsung klik ke interiornya," balas Sitha.
Indi tersenyum, mungkin memang karena dia banyak mengerjakan seni dekorasi interior sehingga ketika ke suatu tempat akan sangat tertarik dengan konsep atau tema dari interiornya sendiri. Terlihat jelas bahwa passionnya Indi memang di interior itu sendiri.
"Benar ... itu Oemah Jamu sudah hasil karya Mbakmu, Tha," kata Rama Bima.
"Iya, Rama. Bagus banget dan mengedepankan nuansa Jawa," balas Sitha.
Indi lagi-lagi tersenyum. Dia kemudian membalas ucapan Adik iparnya itu. "Main ke rumah, Sitha. Kalau liburan boleh loh, nginep di Jogja," kata Indi.
"Ah, nanti aku mengganggu Mbak Indi dan Mas Satria yang masih menjadi pengantin baru. Enggak enak nanti gangguin," balas Sitha dengan tertawa.
"Ganggu aja, Tha ... biar Masmu belajar bersabar," balas Bu Galuh.
__ADS_1
Sekarang setelah diterima dengan baik oleh keluarga Negara rasanya Indi benar-benar dianggap sebagai keluarga sendiri. Tidak dibedakan. Bahkan dalam setiap pembicaraan juga bisa mengimbangi.
"Sudah sabar, Bu," sahut Satria.
Satria mengatakan itu karena memang awal menikah sudah banyak cobaan yang dihadapi Satria. Mulai dari tanpa restu Ramanya, baru sekali malam pertama dan Indi justru mendapatkan periode palang merah. Selain itu juga, Indi yang sakit karena cidera yang dialami. Itu bagi Satria sudah menunjukkan bagaimana dia bersabar selama ini.
"Percaya ... putranya ini memang sabar. Uwong sabar itu gede pangertene, Sat," balas Bu Galuh. Dalam bahasa Indonesia yang disampaikan Bu Galuh itu berarti, 'orang yang sabar itu besar pengertiannya.' Ya, dengan bersabar dan berusaha memahami orang lain, akan membuat kita memiliki pengertian yang berlebih. Satria memang tumbuh menjadi seseorang yang bisa memahami, mengerti orang lain.
Menikmati suasana malam di Oemah Wedangan dengan aneka menu angkringan dan Jahe Gepuk yang panas benar-benar mencairkan perbincangan malam itu. Juga, ada harapan yang disampaikan Bu Galuh dan Rama Bima supaya anak-anaknya yaitu Indi dan Satria segera dianugerahi keturunan.
...🍀🍀🍀...
Sekarang barulah Satria dan Indi kembali ke Jogjakarta, ke rumah Satria. Lagi-lagi rencana Satria untuk menikmati waktu berdua saja di rumah tak terlaksana. Itu semua karena tiga hari Satria dan Indi berada di kediaman Keluarga Negara.
"Rencanaku gagal lagi, Sayang," kata Satria dengan mende-sah kesal.
"Sabar, Mas. Kan juga namanya keluarga pengen dekat, Mas. Aku malahan senang bisa mengenal lebih dekat keluarga kamu. Sekarang juga diterima seperti anak sendiri," balas Indi.
"Apa memang kalau niat yang nakal enggak dikabulkan Allah yah, Yang?" tanya Satria sekarang kepada istrinya.
__ADS_1
Indi justru terkekeh geli mendengar pertanyaan suaminya. Hanya saja, memang Indi merasa liburan di rumah keluarga suaminya ada baiknya. Bisa mengenal kebiasaan di sana, bisa tahu keseharian keluarga mertuanya.
"Jangan merasa begitu, Mas. Kan setidaknya Mas Satria misinya berhasil tuh bisa mendekatkan aku dengan keluarganya. Tiga hari di sana juga bisa membuat kenangan di kamarnya Mas Ningrat juga. Disyukuri, Mas," kata Indi.
Satria setelah itu menganggukkan kepalanya. "Iya, setelah beberapa bulan menikah baru sekarang bisa dekat dengan keluargaku yah ... bagaimana perasaanmu, Sayang?" tanyanya.
"Jujur ya seneng banget, Mas. Apalagi sudah diterima dengan baik. Namun, ada satu hal yang berkesan untukku. Inget enggak saat Sitha bertanya kepada Rama mengenai apakah harus pria bangsawan yang meminangnya?"
"Ya, ingat, Sayang," balas Satria.
"Jawaban Rama itu membuatku sayang bahagia. Ketika Rama mengatakan bahwa yang penting seiman, satu agama, memiliki akhlak yang baik dan juga memiliki pekerjaan tetap. Kalau satu agama kan enak saat melangkah bersama, tidak memberatkan salah satu pihak. Akhlak yang baik dan punya sopan santun juga baik. Suami yang bisa menghargai orang tua dan istrinya itu adalah sosok yang mulia. Kemudian memiliki pekerjaan, entah apa pun pekerjaannya yang penting bisa menafkahi istrinya. Sama seperti yang pernah kamu bilang, berapa pun Rupiahnya, itu wujud tanggung jawab seorang suami," kata Indi.
"Aku juga senang Rama belajar dari sebuah kasus. Case in study, Sayang."
Itu adalah jawaban Satria, dia sangat percaya bahwa Ramanya sudah belajar dari sebuah kasus. Satria percaya bahwa cinta bisa meruntuhkan tatanan sama seperti yang Satria dan Indi rasakan sekarang. Jika mengingat masa lalu, rasanya sangat sukar seorang gadis tanpa nasab dipinang putra ningrat. Sempat tidak mendapatkan restu. Akan tetapi, sekarang keluarga Negara bisa menerima dan menyayangi Indi.
"Seperti itulah manusia belajar, Mas. Belajar dari sebuah kasus, dari masalah. Berusaha menemukan problem solvingnya. Begitu juga kita berdua yah, Mas. Kita masih harus sama-sama belajar satu sama lain. Kalau terjadi sebuah masalah, kita cari jalan keluarnya bersama-sama yah, Mas," pinta Indi.
Satria merangkul istrinya itu. Dia sangat setuju bahwa memang keduanya juga harus belajar dari studi kasus dan menemukan problem solving, menemukan jalan penyelesaian sendiri. Dengan cara itulah mereka akan semakin didewasakan. Sebab, sejatinya begitulah pernikahan, selalu saja masalah yang dihadapi. Akan tetapi, dibutuhkan bagaimana suami dan istri berusaha mencari jalan keluar untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang ada.
__ADS_1