
Tidak berselang lama, keluarga Negara yaitu Rama Bima dan Ibu Galuh datang ke Jogjakarta. Kedatangan mereka selain untuk mengunjungi anak dan cucu yang tinggal di Jogja, juga sekaligus melihat Oemah Jamu. Sehingga, biasanya Rama Bima dan Bu Galuh akan tinggal beberapa hari di Jogjakarta sebelum kembali lagi ke Solo.
Sehingga sore itu, rumah Indi kedatangan mertuanya dari Solo. Setiap kali Rama Bima dan Bu Galuh datang, pastilah begitu banyak oleh-oleh yang dibawakan dari Solo. Tak lupa adalah Bolu Mandarijn Orion yang adalah roti bolu Mandarin yang menjadi favorit Indi.
"Assalamualaikum," sapa Bu Galuh dan Rama Bima di kediaman Indi dan Satria sore itu.
"Waalaikumsalam ... wah, ada Eyang Rama dan Eyang Ibu. Kami tunggu-tunggu loh," balas Indi.
"Sebenarnya minggu lalu mau ke Jogja, Mbak ..., tapi Ibu baru batuk-batuk. Nemuin cucu kalau kurang sehat rasanya kok enggak enak, takutnya nanti malahan Nakula dan Sadewa tertular."
Rupanya seminggu belakangan Bu Galuh sakit dan batuk-batuk sehingga memang mengundur waktu ke Jogjakarta. Memilih menunggu untuk sembuh. Terlebih cuaca yang kurang baik dan juga berdebu membuat kurang enak badan dan batuk-batuk.
"Sembuh dulu saja, Ibu. Sudah ke Dokter belum, Bu?" tanya Indi.
"Sudah sembuh. Ibu minum jeruk nipis dengan kecap. Yang tradisional saja, kalau malam bikin jahe biar di tenggorokan hangat. Banyak proyek perbaikan jalan di Solo, debunya ke mana-mana," cerita Bu Galuh lagi.
"Harus jaga kesehatan, Bu. Apalagi cuacanya sangat terik, kalau malam anginnya kenceng. Di Jogja juga sama, tidak enak cuacanya," balas Indi.
Bu Galuh mengangguk perlahan. Benar yang disampaikan Indi bahwa cuaca seperti tidak bersahabat. Begitu terik di siang hari dan malam anginnya kencang.
"Anak-anak dikasih vitamin, Mbak Indi. Biar daya tahan tubuhnya bagus. Jangan minum es dulu," kata Rama Bima.
"Nggih, Rama. Nakula dan Sadewa tidak pernah minum es. Banyak makan sayuran berkuah juga," balas Indi.
"Itu malahan bagus, Mbak. Dibiasakan anak-anak suka sayur dari kecil. Biar sehat, nutrisinya terpenuhi," balas Rama Bima.
Setelah itu, Rama Bima dan Bu Galuh bermain-main dulu dengan Nakula dan Sadewa. Sebagaimana Eyang yang datang akan mendekat ke cucunya dulu. Entah itu menggendong, memangku, atau menyuapi makanan yang dibawakan sebagai oleh-oleh. Nakula dan Sadewa sekarang pun lahap memakan Serabi, salah satu oleh-oleh yang dibawakan oleh Rama Bima dan Bu Galuh dari Solo.
__ADS_1
"Ternyata pada suka Serabi yah?" tanya Rama Bima yang saat itu memangku Nakula.
"Iya, Eyang Rama. Suka serabi yang cokelat," jawab Satria.
"Tahu gitu tadi Rama belikan yang rasa cokelat lebih banyak, Nang."
Hati para Eyang memang seperti itu, ketika membawakan oleh-oleh dan cucunya suka, pasti ingin membelikan lebih banyak. Sama seperti Rama Bima yang tahu bahwa Nakula dan Sadewa suka dengan Serabi rasa cokelat, sehingga ingin membelikan lebih banyak.
"Tidak usah banyak-banyak Rama. Namanya juga anak-anak, kalau cokelat gitu biasanya suka. Biar anak-anak belajar mencukupkan dirinya juga," balas Satria.
Sementara Papa Satria memiliki pemikiran untuk segala sesuatu tidak perlu berlebihan. Yang penting anak-anak juga belajar dengan apa yang mereka miliki, mencukupkan diri adalah jauh lebih baik. Itu yang selama ini Satria dan Indi ajarkan kepada Nakula dan Sadewa.
"Kamu seperti Ibumu, Sat. Kalau punya cukup satu, ya sudah satu dulu. Rama jadi ingat dulu waktu kamu sekolah, anak-anak yang lain kalau kenaikan kelas meminta tas dan sepatu baru. Akan tetapi, kamu tidak. Kalau tas dan sepatunya belum rusak, tidak mau ganti yang baru. Kalau ajaran itu bagus, teruskan saja ke anak-anakmu," kata Rama Bima.
Indi justru melihat sebuah hal yang positif. Suaminya yang adalah putra ningrat dan kaya raya, tapi hidupnya sederhana, tidak borjuis. Mencukupkan diri dengan barang yang dia miliki. Sebab, biasanya mereka yang kaya raya akan selalu dimanjakan dengan yang namanya fasilitas.
Rama Bima dan Bu Galuh merespons setuju dengan menganggukkan kepalanya. Memang sangat tepat bahwa ajaran dan didikan yang sekiranya sudah tidak relevan bisa ditinggalkan. Disesuaikan dengan kebutuhan anak zaman sekarang.
"Mbak Indi apa lebih gemukan yah? Pipinya lebih chubby," kata Bu Galuh sekarang.
Rasanya mengamati wajah menantunya itu ada yang berbeda. Pipinya lebih chubby. Oleh karena itu, Bu Galuh bertanya demikian.
"Iya, Ibu. Naik dua kilogram berat badannya," balas Indi.
"Ya tidak apa-apa. Asalkan sehat," balas Bu Galuh.
Satria tertawa saja. Kemudian, dia merasa sekarang waktunya untuk memberitahu orang tuanya mengenai kabar bahagia yang belum mereka sampaikan kepada Rama dan Ibu. Satria dan Indi memang menunggu untuk memberitahu secara langsung, dan sekarang lah saatnya.
__ADS_1
"Indi bertambah berat badannya bukan karena gemukan kok, Ibu," kata Satria kemudian.
"Loh, karena apa kalau gitu?" tanya Bu Galuh. Bahkan Rama Bima turut mengamati sikap Satria dan Indi yang sekarang banyak senyam-senyum.
"Rama dan Ibu, jadi ... sebenarnya Indi sedang hamil muda sekarang. Rama dan Ibu akan mendapatkan cucu lagi," kata Satria.
Rama Bima dan Bu Galuh tersenyum lebar. Senang sekali mendengar kabar bahagia ini dari Satria. Semula juga mereka pikir kalau berat badan bertambah, tapi bukan karena gemuk, karena apa lagi? Rupanya menantunya itu sedang berbadan dua sekarang.
"Alhamdulillah ... kami senang mendengarnya," kata Bu Galuh.
"Makanya Rama itu sejak minggu lalu pengen ke Jogja. Kok, kayak ada yang menanti-nanti gitu. Ternyata kejutannya ini. Ngidam apa Mbak Indi? Kalau pengen apa-apa bilang sama Rama."
"Makasih, Rama. Kalau pengen sudah dibelikan Mas Satria kok, Rama," balas Indi.
Rama Bima menganggukkan kepalanya. "Yang sabar, Sat. Sekarang turut mengurus anak dan istri yang baru hamil. Lebih sabar, lebih kuat," kata Rama Bima.
"Insyaallah, Rama. Kali ini yang morning sickness Satria kok, Rama. Kalau pagi aja teler," cerita Satria.
"Wah, kayak Ibu waktu hamil Sitha dulu. Ibu sehat-sehat, Rama kamu yang teler."
Indi kemudian menyahut juga. "Ayah waktu Bunda hamil Irene juga morning sickness, Ibu. Kompakan," balas Indi.
"Rama dan Ibu, sembilan bulan lagi, Rama dan Ibu menerima bukan hanya satu cucu, tapi dua loh," kata Satria.
"Kembar lagi?" Rama Bima dan Bu Galuh kompak bertanya itu.
"Iya ...."
__ADS_1
Satria dan Indi juga menjawab dengan kompak. Rama Bima dan Bu Galuh tertawa. Tidak menyangka bahwa akan memiliki cucu kembar lagi. Terkejut memang terkejut, tapi keduanya sangat bahagia.