
Satria dan Indi sekarang seolah mendapatkan petuah dari Eyang Kakung dan Eyang Putrinya. Sebagaimana ketika orang tua yang sudah sepuh (lanjut usia) yang ingin bercerita dan ingin didengarkan. Sehingga Indi dan Satria juga banyak mendengarkan apa yang diceritakan dan dinasihatkan Eyang Kakung dan Eyang Putri.
"Eyang sih setuju saja. Semoga pernikahan kamu dan Satria langgeng dan bahagia selalu. Kalau dulu, memang gak boleh Cah Ayu jika mencari jodoh sendiri. Bagaimana pun, dunia dan tatanan kan sudah berubah," kata Eyang Kakung.
Eyang Kakung hanya merujuk kepada kebiasaan keluarga Negara dulu di mana semua anak akan dicarikan jodoh yang sesuai. Akan tetapi, rupanya Eyang Kakung sendiri sekarang bisa berpikiran lebih terbuka dan menyadari bahwa dunia dan tatanan sudah berubah sekarang.
"Dulu, di Jawa sendiri istri itu disebut Kanca Wingking atau teman di belakang. Di mana peran istri sangat minim, hanya mengurusi dapur atau pawon. Selain itu, istri memiliki tugas utama yaitu Manak atau menghasilkan keturunan untuk penerus generasi keluarga. Sekarang kan tidak begitu lagi konsepnya. Sekarang kan istri harus berdiri di samping suaminya, saling bergandengan tangan. Walau berdiri di samping, ada kalanya istri sesekali berdiri di belakang suaminya, memberikan dukungan."
Eyang Kakung menjelaskan semua. Sementara Indi dan Satria merespons dengan menganggukkan kepalanya. Jika Eyangnya Satria bisa berpikir luas seperti ini, tapi kenapa dulu Rama Bima seakan memenjara pemikiran di balas batas tradisi dan kebudayaan yang seakan menjerat. Indi seketika hanya memikirkan perbedaan itu saja.
"Mbak Indi ini maunya nanti berdiri di samping Satria atau di belakangnya?" tanya Eyang Kakung sekarang.
Indi tersenyum lagi. Pertanyaan ini terdengar sederhana, tapi sebenarnya kala dengan filosofi. Untuk menjawabnya juga harus berhati-hati tentunya.
"Jawab saja Mbak Indi," kata Bu Galuh.
"Tanpa mengurangi rasa hormat kepada Mas Satria, Indi memiliki jawaban sendiri, Eyang," jawab Indi.
Eyang Kakung tampak menganggukkan kepalanya perlahan. Setelah itu, Eyangnya memberikan waktu kepada Indi untuk berargumentasi.
__ADS_1
"Sebagai istri sudah pasti Mas Satria memiliki hak penuh atas Indi. Untuk itu, Indi akan berdiri di belakang Mas Satria bahkan di bawahnya untuk melayani suaminya. Namun, Indi juga akan berdiri di samping Mas Satria, saling bergandengan tangan menjalani dan merasakan asam garam pernikahan yang belum ada seumur jagung ini, Eyang. Akan tetapi, jika memungkinkan istri boleh berdiri di depan suami, Eyang. Menunjukkan yang benar, dan melakukannya bersama-sama. Itu adalah jawaban Indi. Kendati demikian, seluruh rasa hormat dan penundukan diri sebagai seorang istri tetap kepada Mas Satria saja sebagai Imam dan kepala dalam rumah tangga," jawab Indi.
Di sana Eyang Kakung dan Eyang Putri kembali merespons dengan menganggukkan kepalanya. Sementara Bu Galuh tersenyum karena menantunya berani memberikan pendapatnya. Bahkan Indi juga tidak segan di kala waktu harus berdiri di depan suaminya, menunjukkan yang baik dan yang benar, dan memberikan arahan. Bagi Bu Galuh itu adalah jawaban yang baik.
"Eyang hargai pendapatmu, Mbak Indi. Bagus, kamu berani menyampaikan pendapatmu. Eyang juga sependapat ada kalanya istri mengambil langkah di depan suaminya. Namun, itu hanya kala dibutuhkan. Kembali lagi yah, ketundukan itu untuk sang suami saja," balas Eyang Putri.
"Satria setuju juga Eyang. Dahulu kala, di tradisi kita menganggap pria itu yang paling benar. Bahkan ada Kereta Basa Lanang iku ala ning menang, untuk Satria itu tidak tepat lagi, Eyang. Kalau salah ya salah, harus meminta maaf. Yang bisa benar bukan hanya kaum pria," jawab Satria.
Ya, di dalam Sastra Bahasa Jawa terdapat Kereta Basa yang artinya adalah frasa yang dibentuk untuk mengartikan kata dengan menganggap kata tersebut sebagai akronim. Pria dalam bahasa jawanya adalah Lanang, yang bisa dikereta atau diartikan ala ning menang. Ungkapan ini berarti, walau ucapan, pemikiran, dan perilaku seorang pria ini ala (buruk), tapi pria tetaplah menang. Wanita harus tunduk selalu, dan mengakui kemenangan seorang pria.
Padahal sekarang, hal seperti ini sudah tidak relevan. Di dalam rumah tangga tidak mencari siapa yang menang dan yang kalah. Yang harus dilakukan adalah melakukan kebenaran, berlaku jujur, saling tolak angsur satu sama lain. Rumah tangga adalah ibadah terindah dan terlama sepanjang masa, sehingga supaya terjalin dengan baik harus ada penerimaan dan peran suami dan istri yang setara. Ketika seorang pria atau suami melakukan kesalahan, juga hendaknya mereka legowo untuk mengakui salah dan meminta maaf.
"Nggih, Eyang. Jadi, Satria menolak kalau istri itu adalah Kanca Wingking atau teman di belakang. Satria menerima Indi sebagai pendamping hidup Satria," tegas Satria.
Indi merasakan hatinya terasa hangat dan sekaligus dibesarkan oleh suaminya. Di mana sang suami yang menganggapnya penting dan bukan sekadar di balik layar saja. Bisa menimbang dan memilah mana yang lebih sesuai dengan tatanan sekarang.
"Ya, ya, ya, Satria ... Eyang tahu. Nah, doanya Eyang, kalian berdua guyub rukun, saling bekerja sama. Menuju rumah tangga yang harmonis itu dibutuhkan kerja sama, usaha suami dan istri. Itu saja," kata Eyang Kakung lagi.
Usai berdiskusi dan berbicara lama, sekarang Satria mengajak Indi sebentar jalan-jalan di perkebunan Teh. Satria bahkan tak ragu untuk menggandeng tangan Indi menyusuri tanah setapak di perkebunan teh itu.
__ADS_1
"Makasih Mas Satria," kata Indi.
"Hm, untuk apa?" balas Satria.
"Sudah menganggapku sebagai pendamping hidup, untuk teman belakang," balas Indi.
"Pasti, Sayang. Aku hanya mencoba mengatakan apa yang ada di hati dan kepalaku saja," balas Satria.
Indi tersenyum mendengar jawaban dari suaminya itu. Setelahnya, Indi kemudian menatap suaminya. "Darah boleh biru, tapi pemikiran harus berkembang, Mas. Yang cocok dan relevan yang terus dijaga, diuri-uri. Kalau yang sudah tidak sejalan, yah mari kita tinggalkan. Hanya menyesuai diri dengan tatanan dan perubahan dunia tak akan menghapus keningratan seseorang kan," kata Indi.
"Darahku merah, Sayang ... bukan biru," balas Satria dengan tertawa.
"Kan Mas Satria itu golongan ningrat," balas Indi.
"Sama saja. Darahku merah, membara. Sama seperti cintaku untukmu selalu membara, sepanjang usia."
Mendengarkan ucapan suaminya justru membuat Indi terasa geli jadinya. Kadang ada-ada saja suaminya itu kala berkelakar. Namun, Indi merasa pria yang bisa menempatkan Sang istri kadang di depan, kadang di samping, atau belakang sekalipun adalah suami yang luar biasa.
"Malam nanti yah, kita buat kenangan di kamarku masa Jejaka," bisik Satria sekarang kepada istrinya.
__ADS_1
Seketika Indi menggelengkan kepalanya. Baru saja, dia merasakan hatinya hangat, sekarang suaminya itu sudah nakal itu. Agaknya kadar kenakalan suaminya itu menjadi meningkat sejak menikah. Indi sampai menggelengkan kepalanya.