
Jika bertanya bagaimana perasaan Satria sekarang pastilah Satria merasa sangat senang. Kerja keras sebagai petani akhirnya benar-benar mendapatkan hasil. Selain itu, Satria merasa bahwa yang Indi lakukan barusan benar-benar menyentuh hatinya. Kebahagiaan dan rasa haru itu seakan bercampur menjadi satu.
"Kamu sudah cek Dokter belum, Sayang?" tanya Satria.
"Belum sih, Mas. Cuma baru test saja. Belum ke Dokter sama sekali kok," balas Indi.
Satria kemudian menganggukkan kepalanya. Itu artinya dia masih memiliki kesempatan untuk mengantarkan istri perdana ke Dokter Kandungan. Sebab, Satria ingin mengabadikan setiap momen dengan istrinya itu.
"Lalu, kapan kamu melakukan test ini?"
Indi tersenyum mendengar rentetan pertanyaan dari suaminya. Terlebih ketika Satria menunjukkan rasa ingin tahu yang besar.
"Malam di rumahnya Bunda itu. Waktu itu Bunda tuh feelingnya kok makanku lahap banget. Itu sekadar menstruasi atau apa? Terus aku jawab, kalau aku terakhir menstruasi waktu sehabis akad. Setelah itu kayaknya gak dapat lagi. Bunda tanya lagi enggak, ada badanku yang aneh enggak? Ya aku menjawab sejauh ini enggak ada. Ya sudah, terus dikasih Bunda testpack dan akhirnya itu dua garis," balas Indi.
Satria mendengarkan cerita istrinya itu. Rupanya kronologisnya seperti itu. Benar-benar saran dari Bundanya. Satria juga merasa feeling seorang ibu itu jarang meleset. Sama seperti Bunda Ervita yang merasa mungkin saja Indi tengah hamil.
"Aku kemana memangnya, Sayang? Kok bisa-bisanya kamu ke kamar mandi, aku tidak tahu?" Lagi tanya Satria kepada Indi.
"Mas Satria sedang sholat subuh sama Yayah ke Masjid. Waktu itu, aku diam-diam melakukan test."
Satria menganggukkan kepalanya. Sekarang barulah Satria tahu. Sebab, biasanya Indi beranjak dari tempat tidur saja Satria bisa merasakan pergerakan istrinya itu. Ternyata, Indi memang melakukan test prediksi kehamilan kala dia tengah bersama Ayah Pandu ke masjid menunaikan sholat subuh.
"Kali pertama positif, perasaan kamu gimana Sayang?"
"Bahagia banget. Kan kita enggak menunda juga, Mas. Nangis juga sih aku waktu itu. Gak menyangka," balas Indi.
__ADS_1
Satria kembali merangkul istrinya itu. Tadi, Satria juga tidak menyangka. Namun, setelah tahu ceritanya membuat Satria bisa membayangkan semuanya.
"Masih mau bertanya lagi Mas? Mas tanyanya detail banget deh," kata Indi sekarang.
"Ya pengen tahu, Sayang. Semua yang terjadi padamu itu membuatku tertarik. Makanya, aku bertanyanya juga detail banget," balas Satria.
Usai itu, Satria membawa tangannya lagi dan mengusapi perut istrinya itu. Rasanya sangat senang ketika sekarang ada kehidupan baru di dalam rahim istrinya. Buah cinta keduanya.
"Adik bayi sehat-sehat di sini yah ...."
"Adik bayi akan sehat selalu, tapi Papanya gak boleh terlalu bersemangat dulu yah. Kasihan Adik Bayi pusing nanti," balas Indi.
"Hm, kenapa dia bisa pusing, Sayang?"
Tidak banyak menjawab, Indi menyodorkan handphonenya terlebih dahulu. "Nih, kandungan hormon prostaglandin di lahar merapi bisa membuat janinnya pusing dan memicu kontraksi. Purna tugas sebagai petani dulu yah," kata Indi.
"Sayang, aku yang tahu pertama kali, atau sebelumnya kamu sudah memberitahu Bunda?" tanya Satria.
"Kamu yang pertama, Mas Satria," balas Indi.
Satria tersenyum. Dia merasa sangat senang bisa tahu untuk kali pertama. Sebab, bukankah ketika seorang istri merasakan gejala kehamilan dan melakukan test, suaminya menjadi pihak pertama yang tahu terlebih dahulu. Oleh karena itu, ketika Indi mengatakan baru memberitahu Satria membuat suaminya itu merasa sangat senang.
"Makasih, Sayang. Kita jaga baik-baik, buah hati kita yah. Yuk, periksa ke Dokter kapan biar tahu benih pilihan kualitas terbaik ini usianya sudah berapa minggu," kata Satria.
Mendengarkan perkataan suaminya justru membuat Indi terkekeh geli. "Benih pilihan kok kayak Malika aja sih Mas?"
__ADS_1
Keduanya pun sama-sama tertawa, hingga akhirnya Satria kemudian menatap Indi lagi. "Makasih banyak ya, Sayang. Aku bahagia banget. Kamu menyiapkan kejutan yang indah, surprise banget. Sementara aku justru tidak memberikan apa pun di hari Anniversary jadian kita," kata Satria.
"Tidak apa-apa, Mas Satria. Biasanya kan setiap tahun Mas yang selalu berikan hadiah untukku. Sekarang giliran, aku yang beri hadiah untuk Mas Satria."
"Kalau sudah periksa nanti kita bagikan kabar kepada kedua keluarga besar kita yah, Sayang," kata Satria.
"Siap Mas Satria," balas Indi.
"Kamu nurut banget. Gimana aku enggak tambah cinta. Wanita lemah lembut kayak kamu, kalau bertemu lawan bisa galak juga yah," kata Satria sekarang.
"Lawannya siapa?" tanya Indi.
"Tuh, kamu kalau ketemu Karin, jadi galak. Aku aja sampai heran," balas Satria.
"Udah, Mas ... kamu ini bikin aku malu deh," balas Indi.
"Aku setuju sih, kalau sama orang yang merendahkan kita yah dilawan. Yang penting jangan mendendam saja," balas Satria.
"Udah, gak usah dibahas. Kalau sama kamu, aku nurut kok, Mas. Gak bakalan galak-galak," balas Indi.
Satria kemudian mencuri satu kecupan di pipi istrinya itu. Cup.
"Walau galak, aku tetap cinta kok," katanya.
"Gombal," balas Indi dengan memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Serius. Tetap cinta. Always selawase (selamanya dalam bahasa Indonesia)."
Indi memilih tertawa. Dia menyandarkan kepalanya lagi di dada suaminya. Semoga saja janin dalam rahimnya sehat. Selain itu, semua akan berjalan dengan lancar. Tidak ada hal-hal lagi yang mengusik kehidupan rumah tangga keduanya.