
"Pengen jajanan apa lagi, Roro Ayu?" tanya Satria.
"Enggak, udah kok. Mie Ayam dan Es Kapal udah kenyang banget, Mas. Twins bahagia ini dapat makanan enak," balas Indi.
Indi bahkan mengusapi perutnya yang masih rata. Dia merasa senang bisa makan Mie Ayam yang menurutnya enak dan juga Es Kapal. Sembari duduk di trotoar, merasakan terpaan angin yang bertiup sepoi-sepoi di kawasan Sriwedari yang rindang itu.
"Mau kemana lagi abis ini?" tanya Satria.
"Mampir ke rumah Eyang dan Bapak mau, Mas?" ajak Indi kemudian.
"Boleh aja, Sayangku. Aku kan hanya supir. Siap mengantar Roro Ayu," balas Satria.
Indi tertawa geli. Suaminya itu memang kadang seperti itu. Membuatnya malu saja. Akan tetapi, Satria juga bersikap santai, ke mana Indi ingin pergi, selama dia bisa mengantarkan pastilah Satria akan mengantarkan.
"Supir kok dari kalangan Ningrat sih, Mas," balas Indi.
"Kalau bersama kamu, aku melepas keningratan itu, Sayang. Aku menjadi Satria yang hanya mencintai Indira," balasnya.
Lagi-lagi keduanya hanya tertawa. Candaan absurd yang membuat keduanya tertawa bersama. Percayalah, kehidupan rumah tangga tak melulu serius. Ada kalanya candaan-candaan unfaedah pun terjadi dan itu bisa mewarnai kehidupan rumah tangga.
Sekarang, Satria dan Indi sudah sama-sama di dalam mobil dan kemudian Satria bersiap untuk mengantarkan Indi ke rumah Eyangnya terlebih dahulu. Sekadar main dan juga membagikan oleh-oleh yang sebelumnya sudah Satria dan Indi bawa dari Jogjakarta. Berkendara kurang lebih dua puluh menit, sekarang keduanya sudah tiba di kediaman Eyang Agus dan Eyang Sri.
"Assalamualaikum, kula nuwun," sapa Indi dengan mengetuk pintu.
"Waalaikumsalam, siapa yang datang?" Terdengar suara Eyang Kakungnya dari dalam rumah.
Membukakan pintu dan melihat yang datang adalah Indi dan Satria membuat Eyang Agus sangat senang. "Yuh, ternyata cucunya dari Jogjakarta datang. Masuk-masuk," kata Eyang Kakung.
Tidak berselang lama kemudian, Eyang Sri juga bergabung dengan cucunya di ruang tamu. "Dari Jogjakarta kapan?" tanya Eyang Sri.
"Tadi pagi, Eyang. Tadi ke rumah Mas Satria dulu, terus ke sini," balas Indi.
"Yayah dan Ndanya gak ikut?" tanya Eyang Agus.
__ADS_1
"Tidak Eyang. Hanya berdua," balas Indi.
"Semuanya sehat kan?" tanya Eyang Agus dan Eyang Sri bersamaan.
"Sehat, Eyang," balas Satria.
Di sana memang Satria dan Indi hanya mampir dan bermain sebentar. Waktunya memang dibagi-bagi, karena masih harus ke rumah Bapak Firhan. Keluarga Negara juga pasti sudah menunggu juga. Ketika pulang ke Solo dan mengunjungi keluarga memang harus mengatur waktu dan menatanya supaya bisa mengunjungi beberapa keluarga.
"Eyang itu ngimpi kok ada dua ayam jantan berkokok di halaman rumah. Apa kamu hamil to Cah Ayu? Biasanya itu dapat tanda dari mimpi," cerita Eyang Agus.
Seolah memang masih percaya bahwa mimpi bukan sekadar bunga tidur, Eyang Agus mempercayai bahwa itu adalah tanda dari Yang Kuasa. Mungkin saja ada keluarga atau cucunya yang hamil.
"Nggih, Eyang. Indi baru dipercaya Tuhan untuk mengandung," balas Indi.
"Benar kan. Cuma ayamnya itu berkokok dua. Jangan-jangan anaknya laki-laki nanti," kata Eyang Agus lagi.
Indi dan Satria kemudian tertawa. "Laki-laki atau perempuan sama saja, Eyang. Yang penting Ibu dan bayinya sehat," balas Satria.
Hampir satu jam Indi dan Satria di kediaman Eyangnya. Akhirnya, keduanya berpamitan. Eyang Agus dan Eyang Sri juga meminta Indi dan Satria di lain waktu kalau pergi ke Solo untuk menyempatkan diri mengunjungi Eyangnya.
Dari kediaman Eyangnya, kemudian Satria melajukan mobilnya ke arah Solo Utara menuju kediaman Bapak Firhan. Juga hanya mampir sebentar mumpung berada di Solo.
"Sudah sampai, turun yuk," ajak Satria.
Hingga akhirnya mereka memasuki rumah di kawasan perumahan di wilayah Solo Utara itu. Kemudian Indi yang mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
"Assalamualaikum, permisi," salam Indi.
Tidak berselang lama ada Pak Firhan dan Tante Wati yang sama-sama membukakan pintu. Melihat yang datang adalah Indi dan Satria tentu saja keduanya sangat senang.
"Waalaikumsalam, mari masuk," balas Pak Firhan.
Akhirnya Indi memberikan buah tangan dari Jogjakarta dan mengobrol sebentar dengan Bapak kandungnya itu. "Sehat, Pak?" tanya Indi.
__ADS_1
"Iya, sehat Mbak Indi. Kalian bagaimana sehat juga kan?" tanya Pak Firhan.
"Alhamdulillah, sehat, Bapak."
Di kesempatan yang baik ini juga Indi dan Satria mengabarkan bahwa Indi tengah hamil. Tentu saja Pak Firhan merasa bahagia.
"Alhamdulillah, Bapak mau menjadi Kakek," kata Pak Firhan.
Sangat senang rasanya ketika Indi dan Satria memberikan kabar baik. Bapak Firhan merasa dianggap Bapak oleh putrinya sendiri. Yah, walaupun selama ini tidak banyak yang Pak Firhan lakukan untuk Indi. Hatinya tersentuh ketika putrinya itu tidak menaruh dendam kepadanya. Masih mau datang dan bersilaturahmi itu menandakan bahwa Indi memang adalah anak yang baik.
Tidak dipungkiri mereka yang tidak mengenal sosok orang tuanya sejak kecil, ada rasa dendam yang menumbuhkan akar pahit di dalam hati. Bahkan ada yang tidak mau memaafkan sampai sang orang tua meninggal. Akan tetapi, Indi mau memaafkan. Dia mau menerima masa lalunya dan memberi maaf untuk Bapak kandungnya.
"Kamu ngidam apa Mbak Indi? Biar Bapak belikan," kata Pak Firhan sekarang.
"Tidak mual dan muntah, ngidam juga tidak terlalu kok, Bapak," balas Indi.
"Walau ngidam telepon Bapak tidak apa-apa, Mbak Indi. Bapak senang direpotin anaknya," kata Tante Wati.
Indi kemudian menganggukkan kepalanya perlahan. "Tadi pengen es kapal di Sriwedari sudah dibeliin Mas Satria kok, Tante."
Tante Wati dan Pak Firhan tertawa karena ngidamnya Indi yang menginginkan Es Kapal. Jauh-jauh dari Jogjakarta dan hanya membeli Es Kapal sampai ke Sriwedari, Solo.
"Dibawain Intip dan jajanan itu, Bun," kata Pak Firhan kepada istrinya.
Akhirnya Tante Wati mengambilkan beberapa makanan untuk Indi untuk oleh-oleh. Hanya makanan khas Solo seperti Intip, Rengginang, hingga jajanan lain.
"Dibawa yah Mbak Indi," kata Tante Wati.
"Kami malahan merepotkan Tante."
"Tidak repot sama sekali. Justru Tante dan Bapak senang kalau Mbak Indi dan Mas Satria mau main ke mari. Jangan sampai putus silaturahmi yah," balas Tante Wati.
Indi kemudian menganggukkan kepalanya. Dia akan menyempatkan mengunjungi Bapak kandungnya ketika ke Solo. Toh, tidak ada dendam. Selain itu, Ayah dan Bundanya selalu mengajarkan sopan santun dan adab untuk selalu menghargai orang lain, memberi maaf kepada yang bersalah, dan hidup rukun dengan siapa saja. Bentuk Indi juga menghormati pria yang adalah Bapak kandungnya sendiri itu.
__ADS_1