
Selang beberapa pekan kemudian di Solo, keluarga Hadinata sudah disambut oleh keluarga Negara di salah satu hotel berbintang yang ada di Solo. Acara ngunduh mantu sendiri memang akan digelar di hotel berbintang di pusat kota Solo ini. Sehingga, sehari sebelumnya keluarga Hadinata sudah tiba di Solo.
Sekarang, Indi sudah dirias. Lantaran keluarga Negara masih memiliki darah biru, sehingga Ngunduh Mantu ini mengusung konsep pernikahan Jawa yang kental dengan berbagai adat dan tradisi.
Seorang MUA pun merias Indi dengan sedemikian rupa, tidak lupa membuat paes di kening Indi yang kemudian dihitamkan dengan menggunakan pidih berwarna hitam. Sementara pakaian pengantin yang digelar siang ini dibuat dari kain Beludru berwarna merah. Indi pun bertransformasi menjadi pengantin Putri Solo yang begitu cantik.
Hingga akhirnya, sekarang waktunya kedua pengantin untuk dibawa keluar. Di pelaminan, keluarga Negara sudah bersiap dan akan menerima kedua mempelai.
"Putri Soloku yang ayu," bisik Satria.
"Make upnya terlalu bold yah Mas? Cetar banget lipstiknya merah," balas Indi.
"Disesuaikan dengan baju kamu yang merah, Sayang. Walau make upnya cetar, kamu tetap ayu kok," balas Satria.
Mendengar ucapan suaminya, Indi tersenyum. Malu setiap kali dipuji cantik oleh suaminya sendiri. Indi pun kini mengapit lengan suaminya, keduanya berjalan bersama menuju ke pelaminan. Indi baru tahu keluarga suaminya yang pengusaha dan berdarah biru memiliki tamu yang begitu banyak. Mungkin itu adalah pesta pernikahan yang dihadiri banyak tamu undangan yang Indi lihat.
"Tamunya banyak banget, Mas ... aku grogi," kata Indi.
"Gak usah grogi. Kamu cantik kayak gini kok," balas Satria.
Kemudian sebelum tiba di pelaminan, kedua pengantin akan diterima dengan seseorang yang akan menyampaikan pidato. Cukup lama pidato itu diucapkan dan diterima oleh perwakilan dari keluarga Negara. Usai itu, Ibu Galuh maju selangkah dan memberikan air minum kepada Satria dan Indi. Ini adalah simbol bahwa keduanya diterima sebagai keluarga. Pun, dengan Indi yang bukan orang asing, tapi diterima dengan baik di dalam keluarga Negara.
__ADS_1
Setelah itu, Rama Bima dan Bu Galuh merentangkan kain berwarna merah putih di mana kain itu cukup untuk Indi dan Satria. Lantas Rama Bima memandu kedua mempelai ke pelaminan sebagai simbol tugasnya sebagai seorang ayah adalah membawa anaknya sampai ke pernikahan. Setelah itu anak-anak akan belajar mandiri. Sementara Bu Galuh berjalan di belakang memegangi bahu Satria dan Indi. Hal ini juga adalah simbol bahwa ketika seorang ayah memimpin, seorang ibu akan mendorong dari belakang.
Hal yang selaras dengan ucapan Ki Hajar Dewantara bahwa sang ayah menjadi teladan di depan yang memimpin anak-anak (Ing Ngarso Sung Tuladha), sementara sosok ibu akan terus memberikan dukungan dari belakang (Tut Wuri Handayani). Baik ayah dan ibu sama-sama mengambil peran dalam mendidik dan membesarkan anak. Tugas mereka dianggap selesai ketika anak-anak sudah berumahtangga.
Begitu kedua mempelai sudah berada di pelaminan kemudian dilanjutkan dengan berbagai prosesi yang syarat akan makna dan simbol yang indah. Mulai dari Dulangan atau Suapan, di mana seorang pria akan memberikan nafkah kepada istrinya. Bertanggung jawab untuk menafkahi istri. Dilanjutkan dengan upacara Pangkon atau dipangku oleh Rama Bima. Dalam upacara ini bermakna bahwa baik Satria dan Indi ketika dipangku bobot atau beratnya adalah sama. Sebagai bukti bahwa keluarga Negara tidak akan membedakan mana anak dan mana mantu. Baik abak dan menantu diterima, disayang, dan diperlakukan dengan adil.
Entah berapa prosesi sudah dijalani Indi dan Satria. Sekarang keduanya dipersilakan duduk dan kemudian pihak keluarga Negara menjemput keluarga Besan yang tak lain adalah Ayah Pandu dan Bunda Ervita.
Ketika bersama dengan Satria, Indi berbisik lirih. "Serasa pengantin baru lagi yah, Mas. Padahal pernikahan kita sudah sebulan lebih," katanya.
"Iya, Sayang. Sudah capek belum?" tanya Satria.
"Tidak capek kok, Mas. Semoga kuat sampai akhir," balas Indi.
"Rama dan Ibu, Satria memohon doa restu untuk membina rumah tangga bersama dengan satu-satunya wanita pilihan hati Satria. Kiranya Rama dan Ibu berkenan memberikan restu untuk kami berdua," katanya.
"Ya, Satria, Anakku. Rama dan Ibu dan doakan, angan-anganmu membina rumah tangga diridhoi Allah. Kalian berdua bisa saling mengisi satu sama lain, segera diberkahi Allah dengan keturunan," kata Rama Bima.
Ibu Galuh menitikkan air mata, terharu rasanya. Akan tetapi, Bu Galuh juga merasa sangat berbahagia karena suaminya sekarang sudah melembutkan hatinya, sudah memberikan restu untuk Indi dan Satria.
"Mohon doa dan restunya Rama," kata Indi.
__ADS_1
"Iya, Mbak Indi. Mohon maaf yah untuk yang dulu. Dampingi Satria dan merasakan kebahagiaan dalam berumahtangga," balas Rama Bima.
Indi menitikkan air mata juga, akhirnya restu itu di dapat. Disertai doa untuk merasakan kebahagiaan dalam berumahtangga. Sungguh, Indi terharu rasanya. Makin terharu kala Rama Bima memeluknya sesaat.
"Kamu dan Satria sama. Ya, sama-sama anaknya Rama," kata Rama Bima.
Bukan hanya direstui, tapi juga diterima sebagai seorang anak di dalam keluarga Negara. Pemandangan yang penuh haru. Jika Indi bisa menoleh ke belakang, beberapa tamu undangan saja turut menitikkan air mata karena terharu.
Setelah itu, Indi dan Satria meminta doa restu kepada Ayah Pandu dan Bunda Ervita. Indi sekarang yang berbicara terlebih dahulu dengan Ayah dan Bundanya.
"Yayah dan Nda, Indi mengucapkan terima kasih untuk kasih sayang Yayah dan Nda selama ini. Hari ini adalah hari bahagia untuk Indi. Sekali lagi, Indi memohon doa dan restu dari Yayah dan Nda, untuk membina rumah tangga bersama Mas Satria. Nda, terima kasih sudah selalu menjadi Ibu yang hebat untuk Indi. Yayah, terima kasih untuk semuanya," kata Indi dengan menangis.
Bunda Ervita dan Ayah Pandu menitikkan air mata juga. Ayah Pandu memeluk putrinya dan mencium pipinya.
"Yayah selalu merestui Mbak Didi dan Satria. Bahagia selalu, Nak. Dulu kamu memulai hubungan dengan Satria penuh dengan derai air mata. Sekarang, berbahagialah yah. Selamanya Yayah selalu sayang kamu," kata Ayah Pandu.
"Nda, juga sayang kamu. Maafkan Nda yah, Mbak Didi. Namun, 25 tahun yang lalu kalau ada hal yang satu-satunya ingin Nda pertahankan itu adalah kamu," kata Bunda Ervita.
"Terima kasih sudah mempertahankan Indi, Nda. Walau semua karena kesalahan, Indi yakin bahwa setelahnya kita hanya menjalani takdir Allah. Nda, lebih dari Nda tahu, Indi selalu sayang Nda," katanya.
Bunda Ervita menganggukkan kepalanya dan memeluk putrinya itu."Bahagia selalu dengan Mas Satria yah. Nda selalu sayang kamu," balas Bunda Ervita.
__ADS_1
Tanpa Indi dan Satria di bawah sana ada yang turut berurai air mata. Ada hasrat bisa mendapatkan andil dalam upacara ini, tapi beliau hanya bisa duduk bergabung dengan pihak keluarga besan.
"Bahagianya kamu dengan keluargamu, Indi. Bapak doakan yang terbaik untukmu dan Satria ...."