Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Waktu yang Akhirnya Tiba


__ADS_3

Siang ini, Indi sedang melihat dan menata lagi koper yang berisi barang-barang untuk Babies dan baju ganti miliknya dan Satria. Rasanya deg-degan di hari jelang HPL kian menjadi-jadi, tapi sekarang Indi lebih tenang karena suaminya itu ada di rumah. Mungkin saja jika sinyal menuju persalinan tiba, hanya tinggal memanggil suaminya saja.


Sementara Satria sendiri bak bumi yang berotasi mengelilingi matahari. Tidak jauh-jauh dari istrinya. Mengitari sang istri, dan selalu waspada tentunya.


"Sayang, aku cariin loh," kata Satria yang kini menyusul Indi ke kamar bayinya yang sebenarnya terkoneksi dengan kamar pribadi mereka.


"Kan sejak tadi aku di sini, Mas," balas Indi.


"Abis kamu enggak ada suaranya. Bikin aku panik," balas Satria.


Lagi-lagi Indi justru tersenyum. Menurutnya, ada kalanya Satria itu waspada berlebihan. Sampai kalau Indi kelamaan di kamar mandi saja suaminya itu selalu mengetuk pintu kamar mandi. Begitu juga saat Indi asyik berlama-lama di dapur, Satria juga memilih turun dari lantai dua dan menuju ke dapur.


"Justru kalau aku teriak-teriak itu kamu harus panik, Mas. Kalau aku diam dan enggak kenapa-napa, yah berarti tidak terjadi apa-apa," balas Indi dengan tertawa.


Mendengarkan jawaban istrinya yang terdengar enteng itu, Satria menggelengkan kepalanya. Sekarang dia menyusul Indi dan duduk melantai dekat dengan istrinya.


"Kamu ini dicemaskan Suami loh, malahan santai banget. Bagaimana pun kan kehamilan kamu udah menjelang hari perkiraan lahir. Suamimu yang belum berpengalaman sama sekali ini kan cemas," aku Satria.


"Kamu kayak mengorbit di sekelilingku deh, Mas," balas Indi yang masih terkekeh geli.


"Ya, harus Sayang. Kalau sama kenapa-napa, gimana coba? Aku wajib tahu. Makanya, aku susulin kamu ke mana saja," balas Satria.


Indi akhirnya menganggukkan kepalanya. Setelah itu dia hendak menurut koper itu setelah memastikan semuanya sudah masuk dan barang yang dibawa sudah lengkap.


"Sini biar aku saja yang tutup. Ini sudah lengkap semua kan? Kalau udah lengkap, aku taruh di bagasi mobil aja," kata Satria.


"Iya, lengkap semuanya kok, Mas. Tinggal angkat kalau-kalau sewaktu-waktu aku kontraksi," jawab Indi.


"Ya sudah, aku angkat dan masukkan ke dalam mobil dulu."


Akhirnya, Satria memilih memasukkan koper besar itu ke dalam mobil. Pikirnya kalau Indi sewaktu-waktu mengalami tanda-tanda persalinannya, sudah bisa langsung ke Rumah Sakit. Kadang namanya orang bingung dan panik bisa juga melupakan sesuatu.

__ADS_1


Turun dari lantai dua, Satria menuju ke garasi dan memasukkan koper itu di dalam mobil. Sembari berharap, tanda-tanda persalinan akan segera tiba. Sebab, Satria begitu kasihan dengan istrinya yang terlihat makin cemas beberapa pekan terakhir.


Setelah menaruh koper ke dalam mobil, Satria pun kembali naik ke dalam kamar. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar tapi Indi tidak ada. Akhirnya, Satria mencari lagi di mana istrinya itu.


"Sayang, Sayang di mana?"


Dari kamar, Satria mencari lagi ke kamar bayi, tapi Indi juga tidak ada. Satria ingat mungkin saja Istrinya ke toilet. Sebab, minggu terakhir ini Indi memang lebih sering buang urine.


Mendekat ke kamar mandi di dalam kamar terdengar gemericik air, Satria pun segera mengetuk pintu kamar mandi itu.


"Yang, Sayang ... Sayang, di dalam?"


"Hm, ya, Mas," balas Indi.


Mendengar ada sahutan dari dalam kamar mandi membuat Satria lega. Sekarang, Satria bahkan Satria memilih berdiri di depan pintu kamar mandi. Berjaga-jaga supaya tidak terjadi apa-apa.


Sudah dua menit dan istrinya masih belum keluar dari kamar mandi. Oleh karena itu, Satria mengetuk pintu dan berbicara lagi.


Indi tidak menjawab. Namun, selanjutnya Indi keluar dari pintu. Satria menatap wajah istrinya dan terlihat jelas kepanikan di sana. Ada bulir-bulir keringat juga di kening Indi.


"Mas, ada bercak darah tuh," kata Indi.


Mendengar ada bercak darah, giliran Satria yang panik. Dia bingung juga bagaimana mana yang berdarah. Maklum, Satria belum berpengalaman.


"Di mana, Yang? Aku obatin," kata Satria.


Indi menggelengkan kepalanya. "Di itu ... celana yang kupakai. Apa saatnya yah, Mas?"


Ah, sekarang barulah Satria tahu bahwa bercak darah itu dari area sensitif di sana. Satria kemudian melingkarkan tangannya di pinggang istrinya dan membantu istrinya itu duduk dulu.


"Waktunya bersalin?" tanya Satria.

__ADS_1


"Iya, mungkin saja. Kok tiba-tiba banget. Perutku juga kenceng," balas Indi.


Satria menganggukkan kepalanya. "Ganti baju dulu saja, Yang. Kita ke Rumah Sakit."


Indi menganggukkan kepalanya, dia mengikuti saran dari suaminya untuk berganti baju terlebih dahulu. Baru mengenakan celana hamil, Indi sudah meringis dan wajahnya memerah.


"Duh, kok sakit banget yah, Mas," katanya.


"Apa sebaiknya ke Rumah Sakit sekarang?" tanya Satria.


"Aku tunggu kalau mulesnya lebih sering baru ke Rumah Sakit yah, Mas."


Akhirnya dengan sudah mengganti baju, Indi berjalan hilir-mudik di dalam kamar. Dia pernah membaca jika sekiranya sudah terjadi pembukaan lebih baik kalau masih kuat berjalan-jalan dulu. Satria malahan panik melihat istrinya yang berjalan-jalan.


"Yang, enggak duduk saja to?" tanyanya.


"Kalau memang sudah pembukaan biar nambah, Mas," balas Indi.


Tidak hanya itu, Indi juga memakai aplikasi digital di handphonenya untuk mencatat tiap kali rasa sakit itu datang. Masih berjalan dan mengusapi perutnya Indi berharap jika memang waktunya sekarang, Indi akan siap. Walau sakit, Indi akan menjalaninya serta memohon kepada Allah untuk menambahkan kekuatan pada dirinya.


"Sudah hampir 45 menit, Yang. Gimana rasanya?" tanya Satria lagi.


"Lebih intens sih, Mas. Aku masih bisa menahan sakitnya sih," kata Indi lagi.


"Sebaiknya aku kabari Yayah dan Bunda ya Sayang. Memberitahu saja," kata Satria.


"Boleh, Mas."


Sekarang Indi mengatur pernapasan dan mengusapi perutnya. Semakin lama rasa sakit itu kian bertambah, pinggangnya juga sangat sakit. Indi rasanya kian tak bisa bertahan sekarang. Mungkin saja waktunya akan sebentar lagi.


"Anterin ke rumah sakit sekarang yah, Mas," pinta Indi.

__ADS_1


Satria berdiri. Handphone yang semula dia genggam langsung saja dia masukkan ke dalam saku celana. Dia segera membawa Indi turun dan mengantarkan ke Rumah Sakit. Baru juga sehari Satria di rumah, istrinya sudah merasakan tanda persalinan. Semoga saja semuanya lancar dan kalau bisa pembukaan juga akan berjalan lebih cepat sehingga istrinya itu tidak akan terlalu lama merasakan sakit bersalin.


__ADS_2