
Keesokan harinya, Rama Bima dan Bu Galuh masih mengunjungi kediaman Satria dan Indi. Keduanya semalam menginap di rumah Eyang Dirja, dan siang ini sudah kembali lagi mengunjungi cucu-cucunya sebelum nanti sore kembali ke Solo. Kebetulan hari Minggu itu, Ayah Pandu dan Bunda Ervita juga sedang ke rumahnya Indi, sehingga kedua besan pun bertemu di sana.
"Sugeng siyang, ke Jogja kok tidak mampir?" sapa Ayah Pandu.
"Menengok cucu ini loh, Pak Pandu. Kangen sama cucu Lanang. Sekarang sudah chubby, makin ganteng," balas Rama Bima dengan tertawa.
Ayah Pandu juga tertawa. Memaklumi memang para Eyang begitu. Terlebih Eyang Rama dan istri yang tinggal di Jogja, sehingga menyempatkan waktu untuk bisa bertemu dengan cucu-cucunya yang tinggal di Jogjakarta.
"Saestu (benar - dalam bahasa Indonesia), Nakula dan Sadewa memang ganteng. Lucu," balas Ayah Pandu.
"Para Eyangnya ngumpul semua ... wah, kita bisa pacaran sebentar nih, Yang," celetuk Satria.
Rama Bima, Bu Galuh, Ayah Pandu, dan Bunda Ervita pun tertawa mendengarkan ucapan Satria. Hingga akhirnya, Bunda Ervita berbicara.
"Boleh, sana mau jalan ke mana ... biar cucu-cucu sama Eyang-Eyangnya," balas Bunda Ervita.
"Panas, Nda ... males kemana-mana," balas Indi.
"Iya, panas, Bunda. Beberapa hari ini Jogja panas banget. Udaranya tidak enak," balas Satria.
Akhirnya, siang itu Satria dan Indi bisa lebih santai. Bagaimana tidak bersantai, para Eyang lah yang menggendong-gendong Nakula dan Sadewa. Bahkan kedua Eyang itu kompak mengasuh Nakula dan Sadewa di taman kecil di depan rumah Satria.
"Para Eyangnya kelihatan bahagia yah, Mas," kata Indi kepada suaminya.
"Suatu saat kalau kita sudah menua nanti kelihatannya juga bakalan seperti itu, Yang. Anak-anak sudah besar, sudah berumahtangga, kita akan mengisi hari libur dengan mengasuh cucu," balas Satria.
__ADS_1
"Iya, Mas. Anak-anak yang masih kecil, lambat laun akan menjadi dewasa. Suatu saat mereka juga akan berumahtangga dan juga meninggalkan kita. Dampingi aku untuk waktu yang lama ya, Mas," kata Indi.
Satria menganggukkan kepalanya. Sekarang, pria itu menggenggam tangan istrinya. Keduanya ada di ruang tamu di dalam rumah, sementara para orang tua di depan rumah. Diam-diam, Satria membawa tangan istrinya mendekat ke wajahnya, dan Satria mengecup punggung tangan istrinya. Cup.
"Kita menjadi teman berbagi cerita sepanjang usia yah, Sayang," kata Satria.
"Iya, jangan bosen denganku. Jangan bosen mendengar ceritaku yang mungkin saja monoton," balas Indi.
Ada senyuman di wajah Satria. Satria sudah menetapkan di dalam hatinya untuk menjadikan sang istri sebagai temannya berbagi cerita di sepanjang usia. Menjalani waktu bersama, hingga mungkin nanti keduanya sudah seusia Rama dan Ibu atau Ayah dan Bunda, mungkin hingga rambut keduanya memutih.
"Tidak akan, Sayang. Selalu banyak cerita kok di antara kita. Nakula dan Sadewa, serta adik-adiknya nanti akan mengukir ceritanya sendiri, membuat cerita kita berdua lebih indah," balas Satria.
"Tentu Mas. Banyak kisah yang akan terangkai nanti. Entah itu indah atau tidak, bahagia atau tidak, yang pasti banyak kisah yang terangkai di antara kita. Makasih Mas Satria," balas Indi.
"Mungkin nanti, cucu kita juga ada yang kembar," kata Indi.
"Bisa saja ... nanti kita bisa seperti kedua orang tua kita. Memiliki cucu kembar. Tidak berebut kan? Itu Nakula ikut Ayah Pandu dan Sadewa ikut Rama Bima. Adil," balas Satria.
Cukup lama Rama Bima dan Ayah Pandu menggendong cucu-cucunya, hingga akhirnya gerimis pun datang. Sehingga Nakula dan Sadewa diajak masuk ke dalam.
"Malahan hujan," kata Bunda Ervita.
"Dulu itu Satria kalau hujan malahan lari-lari di sawah, Bu. Waktu masih kecil, mencari keong atau bekicot," cerita Bu Galuh.
Lagi-lagi banyak cerita yang disampaikan Bu Galuh terkait masa kecil Satria yang dulunya sering sekali bermain di sawah. Hingga, Ayah Pandu dan Bunda Ervi tertawa mendengarnya.
__ADS_1
"Wah, jangan-jangan nanti Nakula dan Sadewa kalau makin gede dan main ke Solo bisa lari-lari di sawah kayak Papanya."
"Kalau main ke Solo yah, Bu ... jadi kebayang Satria waktu kecil dulu," balas Bu Galuh.
"Ibu ini selalu menceritakan masa kecilku loh," balas Satria.
"Itu jadi cerita yang indah dan berkesan, Sat. Sekarang, putranya Ibu ini udah besar, udah jadi Papa. Ibu bangga," balas Bu Galuh.
"Tidak apa-apa, Mas Satria ... nanti kalau kamu dan Indi sudah makin menua seperti kami, sering loh berbagi cerita gimana dulu anak-anak waktu masih kecil. Seakan banyak kenangan terjadi, banyak yang berlalu, tapi kisah itu abadi," balas Bunda Ervita.
"Nah, betul Bu Ervi. Rasanya begitu. Kayak baru kemarin loh saya ini gendong-gendong Satria, sekarang sudah menggendong Satria Kecil. Nakula dan Sadewa," balas Bu Galuh.
"Nanti Nakula dan Sadewa sudah agak gede, tambah cucu lagi cewek nggih, Bu," canda Bunda Ervita.
"Setuju ...."
"Setuju ...."
Rupanya Ayah Pandu dan Rama Bima turut menyetujui. Cita-cita mereka memang memiliki banyak cucu. Sekarang sudah ada Nakula dan Sadewa, nanti semoga tambah cucu lagi berjenis kelamin cewek. Sehingga rumah tangga dan keluarga besar mereka semakin riuh dengan tawa dan tangisan bayi.
"Tiga atau empat tahun lagi nggih, Eyang-Eyang," balas Indi dengan tertawa.
"Sesiapnya Mbak Indi. Tidak usah ditarget. Sedikasihnya Tuhan juga. Sekarang fokus untuk Kembar dulu," balas Bu Galuh.
Kebahagiaan ini benar-benar terasa. Bukan hanya untuk Satria dan Indi, tapi untuk Rama Bima dan Bu Galuh, untuk Ayah Pandu dan Bunda Ervita. Tiga pasangan yang memiliki kisah tersendiri-sendiri, pernah melakukan salah di masa lalu, tapi selalu ada cara mencicipi kebahagiaan demi kebahagiaan yang Allah sisipkan di sepanjang hidup kita.
__ADS_1