
Setelah siraman selesai, Indi dibersihkan dan dirias kembali. Masih ada beberapa upacara yang harus dilakukan Indi dan Satria sebagai calon orang tua. Sebagaimana request dari Rama Bima untuk mengusung adat Jawa secara lengkap sehingga banyak prosesi yang harus dilakukan dan dijalani Indi dan Satria.
Begitu Indi sudah dibawa keluar lagi, sekarang Indi dan Satria akan melakukan prosesi Pecah Telor. Indi dan Satria saling berhadap-hadapan sekarang, kemudian ada penata adat yang memberikan telor ayam kampung yang diberikan kepada Satria. Menerima sebutir telor itu, Satria dibimbing untuk menyentuhkan saja telor itu ke kening dan perut istrinya. Setelah itu, telor ayam kampung itu dipecahkan ke lantai. Makna dari prosesi pecah telor ini adalah bermaksud kiranya persalinan nanti berjalan lancar.
"Semoga nanti persalinannya lancar yah, Mbak Ind," bisik Bu Galuh.
"Aamiin, Bu. Diberi doa dan restu juga nggih, Ibu," balas Indi.
Setelahnya, prosesi selanjutnya adalah memutus janur atau lawe. Ada sebuah janur yang dilingkarkan ke perut Indi. Nantinya Satria harus memutuskan janur itu. Calon ayah yang harus memutuskannya. Makna dari prosesi ini masih sama dengan pecah telor yaitu mengharapkan kelancaran dalam persalinan nanti. Indi dan Satria juga senyam-senyum saja mengikuti prosesi demi prosesi. Tidak keberatan, justru ini salah satu cara mereka turut nguri-nguri atau melestarikan budaya Jawa yang bisa terkikis karena zaman semakin modern.
Prosesi kemudian dilanjutkan dengan bronjolan. Berbeda dari dua prosesi sebelumnya, brojolan adalah prosesi yang melibatkan kelapa gading muda yang diukir gambar Kamajaya dan Dewi Ratih. Prosesi brojolan dimaksudkan agar bayi dapat lahir tanpa kesulitan.
Sekarang akan dilakukan prosesi Pecok Bakal atau pecah kelapa. Prosesi ini adalah lanjutan dari prosesi sebelumnya. Calon ayah mengambil salah satu kelapa tersebut dengan mata tertutup. Kelapa yang diambil lalu ditempatkan di area siraman, dan dipecahkan. Hal ini dilakukan untuk memperkirakan jenis kelamin calon bayi.
Hingga akhirnya sekarang dilakukan upacara ganti busana. Ada tujuh jenis kain yang disiapkan, tujuh melambangkan usia kehamilan yang sudah tujuh bulan. Juga ada tujuh harapan untuk calon bayi nanti. Kain yang disiapkan antara lain Jarik Sidomukti melambangkan Kebahagiaan, Jarik Sidoluhur melambangkan Kemuliaan, Semen Rama melambangkan agar cinta kedua orang tua bertahan selamanya, Udan Iris melambangkan kehadiran calon bayi nantinya menyenangkan untuk orang di sekitarnya, Cakar Ayam melambangkan Kemandirian, dan Kain lurik bermotif lasem melambangkan Kesederhanaan.
Pada saat pemakaian kain yang ke-6, para tamu undangan akan ditanggapi "kurang cocok …" dan yang ke-7 dengan "cocok."
Mengikuti prosesi demi prosesi, Indi dan Satria ada kalanya malu-malu dan tertawa bersama. Namun, keduanya juga terlihat santai. Sekarang prosesi dilanjutkan dengan Jualan Cendol. Prosesi di mana calon ayah dan calon bunda memeragakan berjualan cendol dan rujak. Di mana calon ayah memayungi calon bunda saat berjualan. Uniknya, uang yang dipakai adalah uang koin dari tanah liat atau kreweng.
Di prosesi ini Indi dan Satria benar-benar tertawa. Wajah Satria sendiri sampai merah, menahan tawa, tapi akhirnya pria itu tetap tertawa karena malu sebenarnya. Bunda Ervita sampai tertawa geli melihat menantunya.
__ADS_1
"Kurang luwes nggih, Bu Ervi," kata Bu Galuh.
"Tidak apa-apa, Bu. Satria malahan lucu," balas Bunda Ervita.
Mengakhiri semua prosesi kemudian Indi dan Satria memotong Tumpeng bersama. Ada satu tumpeng berukuran besar dan dikeliling enam tumpeng yang ukurannya jauh lebih kecil. Angka tujuh melambangkan tujuh bulan usia kehamilan Indi. Setelah semua prosesi dilaksanakan rasanya benar-benar lega.
"Sudah selesai," kata Rama Bima yang terlihat puas dan senang.
"Akhirnya," balas Satria.
Indi juga merasa lega. Tidak dipungkiri memang banyak prosesi yang dilalui. Akan tetapi, Indi dan Satria sama-sama percaya bahwa semua prosesi itu memiliki makna yang baik, penuh harapan untuk calon bayi dan kedua orang tua.
"Sama-sama Pak Bima. Dengan begini, yang muda juga mempelajari dan melestarikan budayanya," balas Ayah Pandu.
"Tujuannya memang itu, Pak Pandu. Bukan bermaksud saya kolot atau bagaimana. Beberapa adat dan tradisi ini kalau tidak dilakukan lagi kan bisa hilang. Walau begitu keimanan kita tetap kepada Tuhan Allah, Pak Pandu. Menyembah, mengharap, dan meminta hanya kepada Allah semata," kata Rama Bima.
Ayah Pandu menganggukkan kepala. Jujur, Ayah Pandu tidak keberatan. Justru semua ini mengingatkan Ayah Pandu dan Bunda Ervita dulu yang juga melakukan semua prosesi adat baik kala menikah dan upacara tujuh bulanan. Kala itu, Ayah Pandu dan Bunda Ervita juga berpikirnya adalah melestarikan budaya Jawa saja.
Setelah semua selesai, acara dilanjutkan dengan Kajian Al'Quran yang dipimpin oleh seorang ustadz. Ada Ibu-Ibu dari Masjid yang bersholawat. Indi dan Satria sekarang benar-benar khusyuk mengikuti acara Kajian. Banyak doa yang dilantunkan dan mengharapkan calon Ibu dan calon bayinya sehat, selamat, dan sempurna. Indi juga mengaminkan itu di dalam hatinya.
"Aamiin, doaku sama Sayangku. Kamu sehat selalu sampai persalinan nanti. Dua baby kita juga selalu sehat dan sempurna yah. Kita akan segera menjadi orang tua untuk kedua buah hati kita," kata Satria.
__ADS_1
"Aamiin ... selalu dampingi aku juga yah, Mas," balas Indi.
Usai semua acara selesai, dilanjutkan dengan foto bersama. Banyak foto yang diambil. Indi dan Satria juga diarahkan untuk berpose bersama beberapa kali. Setelah itu, Satria dan Indi memberikan salam untuk hadirin yang hadir. Bersalam-salaman dengan hadirin yang hendak pulang.
"Selesai semua, Sayang. Prosesinya lebih banyak tujuh bulanan yah, daripada empat bulanan yah," kata Satria.
"Iya, lebih banyak, Mas," balasnya.
"Capek enggak?" tanya Satria lagi.
"Enggak. Seneng kok malahan bisa menjalani semua prosesi adatnya," jawab Indi.
Setelah semuanya selesai, kemudian Indi meminta izin mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Dulu sewaktu kehamilan empat bulan rasanya masih nyaman. Sekarang, setelah tujuh bulan, rasanya di perut terasa kencang. Untung saja diizinkan oleh orang tua. Sekarang, Indi hanya mengenakan celana hamil yang di pinggangnya mengenakan karet dan kemeja batik saja.
"Sudah selesai Mbak Indi. Selamat yah. Rama dan Ibu mendoakan sehat, selamat selalu yah. Gak usah bolak-balik Jogjakarta ke Solo. Biar Rama dan Ibu saja yang nengokin kalian ke Jogja," kata Bu Galuh.
"Nggih, Ibu. Kalau ada waktu tengokin kami dan nanti waktu melahirkan temanin nggih, Bu," balas Indi.
"Pasti Mbak Indi ... nanti Rama dan Ibu akan ke Jogja waktu Mbak Indi lahiran. Ibu dikasih tahu HPL-nya kapan yah, biar bisa mengagendakan ke Jogja," balas Bu Galuh.
Mengingat kehamilan Indi semakin besar, Bu Galuh meminta Indi tidak usah bolak-balik Jogjakarta-Solo. Nanti Ibu Galuh dan Rama Bima yang akan sering-sering ke Jogja untuk menengok Indi dan Satria.
__ADS_1