
Selang sepekan kemudian, Satria mengajak istrinya jalan-jalan ke Mall. Dia ingin memiliki waktu sejenak dan membahagiakan Bumil tentunya. Sedangkan Nakula dan Sadewa sekarang dititipkan di rumah Eyang Kakung Pandu dan Bunda Ervita terlebih dahulu.
Satria merasa bahwa Bumil membutuhkan healing, karena itulah Satria menyediakan waktu khusus agar istrinya itu bisa jalan-jalan dan membeli apa yang dia mau. Break sejenak dari mengasuh anak dan tugas sebagai ibu rumah tangga yang tidak pernah ada habisnya.
"Tumben, Mas? Padahal biasanya kita belanja bulanan saja mengajak Nang-Nang loh," kata Indi.
"Sesekali ... Bumilku yang cantik ini juga butuh refreshing dong. Jalan-jalan berdua sama Papa Satria dulu," balas Satria dengan menggandeng tangan istrinya.
Ya, sekarang mereka berdua berjalan-jalan di salah satu mall terbesar di kota Gudeg. Menikmati hari Sabtu berdua. Selain itu, Ayah Pandu tadi juga setuju ketika Satria berpamitan untuk mengajak Indi jalan-jalan, sepemikiran dengan Satria bahwa Bumil butuh healing atau refreshing sejenak.
"Gak biasanya. Aku kepikiran Nakula dan Sadewa," balas Indi.
"Tidak apa-apa, Sayang. Santai saja. Sesekali menikmati waktu berdua. Kamu mau beli apa? Yuk," kata Satria kemudian.
"Yuk apaan, Mas?" tanya Indi dengan tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Ya, ayuk ... aku beliin," balas Satria.
Indi malahan semakin tertawa. Biasanya suaminya tak seperti ini, tapi sekarang Satria seolah ingin memanjakannya Indi, meminta istrinya itu untuk berbelanja. Indi sendiri juga sebenarnya jarang membeli sesuatu untuk dirinya sendiri. Asalkan untuk anak-anak sudah terpenuhi, dapur masih bisa mengepul, masih bisa menabung, sudah merupakan kebahagiaan sendiri untuk Indi.
__ADS_1
"Gak biasanya, aku malahan curiga. Bisa saja modus loh," balas Indi.
"Kalau modus kan aku memang sering modus. Cuma gak pernah juga beliin kamu sesuatu. Sekarang, beli aja, Sayang. Membahagiakan dirimu sendiri," balas Satria.
Bukannya suami yang pelit, tapi memang Satria nyaris memberikan 80% dari penghasilannya kepada Indi. Selain itu, dia juga memberikan kebebasan kepada Indi untuk mengatur uang. Juga, Satria tak masalah ketika Indi membeli sesuatu. Akan tetapi, Indi jarang sekali membeli sesuatu untuk dirinya sendiri.
"Habis ini pasti ujan deras," balas Indi.
"Nah, kalau hujan, aku suka. Bisa bener-bener modusin kamu," balas Satria.
Pasangan itu berbicara sembari berjalan dengan raut wajah mereka yang penuh senyuman. Orang lain yang melihatnya pasti tidak mengira bahwa mereka sudah memiliki dua anak sebelumnya. Dikira pasti pasangan muda yang baru saja menikah.
"Mau skincare, tas, perhiasan juga boleh. Beli aja yang kamu mau," kata Satria.
"Dipakai kalau jalan-jalan sama aku, atau waktu para Eyang ngajakin outing dan healing juga boleh kok. Bumil harus selalu bahagia, Sayangku. Biar babies kita juga bahagia," balas Satria.
Tujuan Satria juga supaya Indi bahagia agar bayinya juga bahagia. Satria mengingat sejauh ini istrinya juga begitu jarang membeli sesuatu untuk dirinya sendiri. Oleh karena itu, membahagiakan Bumil adalah sesuatu yang ingin Satria lakukan.
"Kamu selalu mencintaiku, membantu tugas di rumah, mau gantian mengasuh Nakula dan Sadewa saja, aku udah bahagia banget kok, Mas. Itu jauh lebih penting daripada kamu belanjain yang mahal-mahal. Kamu bantuin aku aja udah bikin Bumil jadi waras."
__ADS_1
Indi mengatakan dengan jujur. Alih-alih dibelikan berbagai barang mewah nan mahal, bagi Indi ketika suaminya memberikan cinta dan kasih sayang secara penuh, dibantu melakukan pekerjaan rumah tangga, dan mau bergantian mengasuh anak adalah hal yang amat mewah untuknya. Membuat Indi menjadi waras dan bahagia tentunya.
Saat jalan-jalan bersama, dari arah berlawanan ada sosok yang keduanya kenal. Pria yang pernah hadir di masa lalu Indi. Jika sebelumnya pria itu hanya seorang diri, sekarang pria itu sudah memiliki gandengan. Ya, dia adalah Yudha yang sekarang sudah bersama seorang wanita cantik dan berpenampilan begitu modis.
Bertemu dengan Indi, ketika dia menggandeng wanita cantik seketika membuat Yudha merasa jumawa. Sebab, di matanya Indi lebih terkesan sebagai seorang wanita sederhana. Walau putri pengusaha batik, tapi cara Indi berpenampilan sangat sederhana.
"Wah, ketemu di sini. Sudah sekian purnama akhirnya bertemu lagi," kata Yudha dengan tersenyum. Seperti biasa, wajah pria itu seolah merendahkan Indi dan Satria. Merasa dirinyalah yang paling baik.
Indi seketika merasa sebal. Jika sebelumnya mood Indi begitu baik, sekarang moodnya mulai mengalami perubahan. Tampak Yudha memperhatikan Indi yang sekarang sedang hamil.
"Wanita kalau hamil tetap aja yah membengkak. Kayak ... gajah," katanya.
Seakan Yudha merinding fisik Indi yang sekarang memang menjadi begitu gemuk. Indi menyadari di kehamilannya sekarang saja, berat badannya sudah naik lima belas kilogram. Walau begitu, dokter menyatakan masih normal karena ada dua janin di dalam rahimnya.
"Gak usah main fisik, Yud," balas Satria.
"Fakta, Sat. Loe lihat saja, gimana membengkaknya istri loe itu. Sama sekali tak menarik," balas Yudha.
Satria malahan tersenyum. Tangan yang semula menggenggam tangan Indi, sekarang justru melingkar di pinggang Indi. Setelahnya, Satria kembali berbicara.
__ADS_1
"Justru, ini pengorbanan terbesar seorang wanita, Yud. Mereka yang semula cantik dan tubuhnya proporsional, ketika hamil ada yang mengalami wajahnya kusam dan berjerawat, ada yang mengalami kenaikan berat badan, juga perubahan fisik lainnya. So, hargai istrimu, terutama saat dia hamil buah cintamu. Jangan sia-siakan mereka. Payah, kalau kamu jadi pria yang hanya bisa memuja wanita saat dia begitu cantik dan badannya proporsional. Puja dia saat dia tengah mengandung benihmu."
Jawaban Satria tak main-main. Satria menjawab itu dengan begitu tenang, tak terlihat emosi. Akan tetapi, jawabannya adalah jawaban yang seolah men-skakmat Yudha. Satria tak terima ada pria lain yang merendahkan istrinya. Ketika wanita hamil, bukan berarti dia tak cantik. Akan tetapi, bagi Satria sekarang istrinya itu semakin cantik saat hamil. Bukti sang istri yang mau berkorban, hingga berat badannya bertambah belasan hingga puluhan kilogram. Suami yang baik mampu memandang sisi lain kecantikan seorang istri, bukan merundung dan mencibir fisiknya ketika dia tengah berbadan dua.