Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Merdeka!


__ADS_3

Setelah beberapa hari dilakukan berbagai acara untuk menyambut kemerdekaan dari pertandingan voli hingga acara yang lainnya, sekarang dilakukan malam tirakatan di area perumahan Indi dan Satria. Di dalam tradisi Jawa sendiri ada malam tirakatan yang digelar. Biasanya para bapak akan mengikuti doa bersama, malam perenungan untuk menghargai jasa pahlawan, dan juga berkumpul bersama.


Sebelum mengikuti malam tirakatan itu, Satria membantu Indi menidurkan dua jagoan kecilnya terlebih dahulu. Terlalu kasihan kepada istrinya kalau nanti harus menidurkan anak-anak sendiri.


"Diredupkan lampunya yah, biar Nakula dan Sadewa bisa cepet bobok," kata Satria.


"Iya, Mas. Nanti Mas sampai tengah malam dong yah? Biasanya kan malam tirakatan sampai lewat jam 12 malam," tanya Indi.


"Iya, Sayang. Nanti kamu bobok duluan aja. Enggak usah nungguin aku, kan kamu juga udah capek seharian," kata Satria.


Sungguh Satria sendiri bukanlah pria yang egois. Dia tidak mempermasalahkan ketika tiba di rumah dan Indi tidur terlebih dahulu. Baginya, Indi sebagai ibu rumah tangga dan sekaligus memiliki dua bayi di rumah juga memerlukan untuk istirahat dan tidur yang cukup. Mungkin lebih dari jam 00.00 malam nanti Satria baru bisa pulang. Sebab, begitulah biasanya malam tirakatan dilakukan setiap tahunnya.


"Nanti pakai jaket, Mas. Anginnya kenceng," kata Indi.


"Iya, mulai beberapa pekan ini setiap malam anginnya kenceng banget. Kalau pagi itu dingin banget. Siap, Sayang ... nanti aku memakai jaket. Makasih banyak yah, aku udah diperhatikan," balas Satria.


Akhirnya kurang lebih jam 20.00 ketika Nakula dan Sadewa sudah tidur, Satria bersiap untuk berganti baju. Sekaligus Indi mengambilkan jaket untuk suaminya itu. Bahkan Indi membantu suaminya memakaikan jaket.


"Kamu ngurus aku baik banget, Sayangku. Luar biasa banget," kata Satria.


"Kamu juga memperlakukan aku dengan baik, Mas. Mari Sama-sama melakukan yang terbaik sampai kita menua nanti. Jangan pernah berubah yah," pinta Indi.


Satria kemudian mengecup kening istrinya terlebih dahulu. Setelahnya Satria kemudian memeluk istrinya dengan begitu erat. Setiap kali memeluk Indi rasanya rasa cintanya selalu meluap-luap. Bahkan kadang untuk keluar dari rumah saja terasa enggan, lebih menyukai berada di rumah dengan istri dan anak-anaknya.


"Ya sudah, aku berangkat dulu yah, Yang. Tidak perlu menungguku, kamu bobok dulu aja," kata Satria lagi.


"Iya, Mas. Hati-hati yah. Jaketnya jangan sampai dilepas yah ... dingin soalnya."

__ADS_1


Akhirnya Indi mengantarkan suaminya sampai ke depan rumah. Sebenarnya saat malam tirakatan ada ibu-ibu juga yang turut berkumpul. Hanya saja, Indi memang tidak ikut karena dia harus menjaga Nakula dan Sadewa di rumah.


Menuju tanah lapang di area perumahan yang tak begitu jauh dari rumah, Satria berkumpul dengan bapak-bapak yang lain. Duduk beralaskan tikar dan mengikuti malam perenungan mengingat jasa pahlawan. Semuanya tenang mengikuti, selanjutnya dilakukan beberapa pidato dari ketua RT dan beberapa tokoh masyarakat yang ada di sana.


Selain itu, lagu-lagu kebangsaan berkumandang mengiring malam menyambut kemerdekaan Indonesia. Semuanya mengikutinya dengan khidmat. Hingga lebih dari jam 00.00 malam barulah acara selesai, setelah sebelumnya ditutup dengan makan malam bersama terlebih dahulu.


"Ikut semalam, Mas Satria. Mumpung besok libur," kata Pak RT.


"Saya pamit pulang, Pak RT. Sudah nyaris jam 01.00 dini hari," balas Satria.


Akhirnya begitu semua acara selesai, Satria memilih bergegas untuk pulang. Sudah kangen dengan istri dan anak-anaknya di rumah. Ketika Satria memasuki rumah, rupanya Indi masih menunggu suaminya itu.


"Lah, kamu belum bobok Sayang?" tanya Satria.


"Belum, aku sengaja nungguin, Mas kok. Gak enak bobok sendirian, dingin," balas Indi.


"Udah dini hari, Sayang. Padahal ya bobok duluan gak apa-apa. Aku ganti baju dan cuci tangan dan cuci kaki dulu, Yang."


"Tadi sebenarnya gak usah nungguin aku. Malam banget ini. Jangan sampai kamu kurang tidur," kata Satria.


"Habis gak bisa bobok kalau sendiri. Butuh Mas kok," balas Indi.


"Yuk, tidur. Besok upacara bendera, Yang."


Malahan sekarang keduanya tertawa bersama. Sudah begitu larut malam malahan keduanya bercanda tentang upacara bendera. Indi sampai geli jadinya.


"Kamu dulu petugas bendera enggak, Mas?" tanya Indi.

__ADS_1


"Enggak, Yang. Aku bertugas menjaga hatiku untukmu aja," jawab Satria.


Duh, mendengarkan apa yang dikatakan oleh Satria, Indi lagi-lagi terkekeh geli. Baru kali ini juga suaminya menggombalinya tengah malam begini. Walau begitu, rasa menyenangkan dan berbunga-bunga untuk Indi.


"Udah, Mas. Jangan gombal melulu, bobok."


"Besok malam kita mengibarkan bendera sendiri yah, Yang. Semoga Nang-Nang bobok cepet," kata Satria.


"Wah, gawat ini. Kodenya Papa Satria makin beragam."


"Hehehe. Harus dong. Kalau sempat aja. Kan kita juga harus merdeka. Bebas mengunjungi swargaloka bersama."


Indi terkekeh sembari menggelengkan kepalanya mendengarkan ucapan suaminya itu. Geli malahan. Siapa sangka juga Satria memaknai kemerdekaan dengan kebebasan untuk mengunjungi swargaloka bersama.


"Aku besok nonton upacara kenaikan dan penurunan bendera di televisi loh, Mas. Live," kata Indi.


"Boleh, aku temenin besok. Ditemenin Nakula dan Sadewa juga. Biar makin rame," balas Satria.


"Gak jadi nonton yang ada malahan mengasuh Nakula dan Sadewa dong," balas Indi.


Keduanya kemudian mulai memejamkan matanya. Walau sudah begitu larut, tapi ada hal-hal manis yang mereka bicarakan bersama. Memaknai sebagai pasangan yang merdeka, bebas dalam arti tetap bertanggungjawab. Memiliki ruang untuk mereguk manisnya nektar cinta. Merdeka!


...🍀🍀🍀...


Dear Pembaca Setia,


Author mau mengucapkan Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia ke-78 semoga kita semua selalu sehat, sukses, dan menjadi pribadi yang bermanfaat untuk orang lain. Tetap semangat yah semuanya.

__ADS_1


Jangan lupa untuk selalu mendukung karya-karya Author yah. 😘


Merdeka! 🇮🇩🇮🇩


__ADS_2