Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Membangkitkan Kenangan


__ADS_3

Akhir Pekan Kemudian ....


Masih di kota Solo, Anthony kali ini berniat untuk mengajak Viona ke salah satu tempat yang dulu pernah mereka kunjungi bersama saat masih pacaran. Menurut Anthony, dia ingin membangkitkan kembali memori lama yang indah. Dengan kenangan-kenangan indah itulah, Anthony berharap bisa menyembuhkan hati Viona.


Bahkan Sabtu pagi kala itu, Anthony sudah tiba di rumah Viona. Pria itu datang dan menekan bel rumah Viona. Hingga akhirnya ada derap langkah kaki yang mulai membukakan pintu. Suara riang gadis kecil yang tersenyum lebar melihat sosok yang kini berdiri di depan matanya.


"Papa ...."


Suara nyaring seorang Arbe yang disambut dengan gendongan dari Papanya. Anthony menggendong Arbe dan mencium pipi putrinya itu.


"Sudah mandi putrinya Papa?" tanya Anthony.


"Sudah, Papa. Kan Arbe mau ke rumahnya Oma. Mama semalam bilang begitu, Papa."


Anthony tersenyum, rupanya Viona sudah memberitahu Arbe bahwa hari ini dia akan ke rumahnya Oma. Itu berarti, Viona setidaknya sudah bersiap untuk pergi dengannya hari ini.


"Papa bawakan roti kesukaan Arbe," kata Anthony.


Akhirnya, Anthony mengajak Arbe dan menggendong Arbe menuju ke meja makan. Lantas dia membukakan roti yang dia bawakan. Tak hanya itu, Anthony juga membawakan roti kesukaan Viona. Floss roll, roti gulung dengan abon itu adalah roti kesukaan Viona. Untuk mengambil hati mantan istrinya dan juga membangkitkan lagi kenangan manis, Anthony sengaja membawakan roti kesukaan Viona.


Turun dari anak tangga, Viona melihat Arbe yang duduk manis di pangkuan Papanya. "Hei, makan apa kamu, Arbe?" tanya Viona sembari mengusap puncak kepala putrinya.


"Roti, Ma. Bolu," jawabnya sambil mengunyah.


Ya, ada roti bolu kukus dengan warna pink yang Anthony belikan untuk Arbe. Terlihat sekarang, Arbe sangat menikmati roti miliknya.


"Sudah bilang terima kasih belum ke Papa?" tanya Viona.


"Acihh, Pa," balas Arbe.


"Sama-sama Arbe Sayang."


Anthony kemudian menyodorkan roti Floss Roll itu kepada Viona. "Kamu juga sarapan dulu, aku bawakan roti kesukaan kamu, Floss roll," kata Anthony.

__ADS_1


"Makasih banyak yah."


"Sama-sama. Aku bukain yah," balas Anthony.


Sembari memangku Arbe, Anthony membuka kemasan roti itu kemudian memotongnya dengan pisau plastik yang disertakan dalam kemasan. Sementara Viona mengamati cara Anthony memotong roti itu. Viona teringat dulu kala apel ke rumahnya, Anthony sering membawakan Floss Roll. Walau setelah menikah, Viona lebih sering membeli sendiri. Biasa, kadang manisnya masa pacaran tidak sama ketika sudah memasuki masa berumahtangga.


"Ini, ambillah ...."


"Thanks yah," balas Viona.


Viona lantas memakan satu potong roti kesukaannya itu. Tidak lupa dia menawarkannya juga kepada Anthony. Akan tetapi, Anthony memilih untuk tidak makan, katanya pria itu sudah sarapan dari rumah. Dia sudah senang melihat Arbe dan Viona yang sama-sama memakan roti. Setelahnya ketiga sama-sama berangkat dari rumah Viona, tujuan pertama adalah menitipkan Arbe ke rumah Omanya dulu atau ke rumah Mamanya Viona.


Memang Mamanya Viona adalah orang yang baik. Tidak marah dan tidak masalah ketika Viona hendak pergi dengan mantan suaminya. Hanya saja Mamanya Viona berpesan supaya mereka tidak pulang terlalu malam. Tentu saja Anthony menganggukkan kepalanya. Sekarang rasanya seperti masa pendekatan kala pacaran dulu. Anthony harus berusaha dan menunjukkan yang terbaik, supaya mantan mertuanya nanti bisa merestuinya juga.


"Kita mau ke mana emangnya?" tanya Viona sekarang.


"Ke Telaga Sarangan."


"Kenapa mengajakku ke sana?" tanya Viona.


"Jalan-Jalan aja."


Menempuh perjalanan dua jam, akhirnya mereka tiba di Magetan, daerah perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di lereng Gunung Lawu itulah berada Telaga Sarangan atau yang terkenal juga dengan sebutan Telaga Pasir. Airnya yang biru, beratapkan langit, dan bersanggakan Cemara Sewu atau seribu pohon cemara yang seakan menjadi pilar-pilar di sana.



Dari telaga, Gunung Lawu berdiri dengan begitu kokohnya. Banyak villa-villa juga yang disewakan di sekitaran telaga. Udara dingin pun menyambut keduanya begitu turun dari mobil.


Hati Viona merasakan sesuatu yang tidak biasa manakala menginjakkan lagi kakinya di tempat itu. Tak dipungkiri bahwa kenangan indah beberapa tahun silam seolah masih tertinggal di sana.


"Kita jalan-jalan muterin telaga yuk," ajak Chandra.


Viona mengangguk saja. Lagi, ada memori yang seketika mengingatkan dirinya kala berjalan-jalan berdua dengan tangan yang saling bertaut satu sama lain, senyuman keduanya memancar kala itu. Udara dingin dan hawa berkabut lantaran kabut dari gunung Lawu turun ke bawah. Akan tetapi, sekarang Viona berjalan dengan mengambil jarak dari pria yang dulu pernah menorehkan kisah sendiri di dalam hidupnya.

__ADS_1


"Kamu ingat kan, Vio ... dulu kita berjalan-jalan mengitari telaga ini. Pernah kita menaiki kuda kuda dan menikmati panorama di telaga."


Memang ada persewaan kuda yang bisa ditunggangi untuk mengitari telaga. Bahkan dulu Anthony dan Viona melakukannya, menaiki kuda dan mengelilingi telaga. Sesekali Anthony mendekap tubuh Viona. Dulu, walau semua menyisakan kenangan saja.


"Itu dulu, Thon."


Anthony menganggukkan kepalanya. "Iya, memang dulu. Dingin enggak?" tanya Anthony lagi.


Anthony menanyai itu karena kabut yang semakin turun siang itu. Udara pun terasa dingin. Viona menggelengkan kepalanya. Walau tidak mengenakan jaket, Viona masih tahan dinginnya.


Secara responsif, Anthony melepas jaket yang dia kenakan dan mengenakannya untuk Viona. "Kamu saja yang makai, Vi. Jangan sampai kamu pilek, nanti bisa nular ke Arbe."


"Gak perlu padahal. Kita bukan anak muda lagi, Thony."


"Tidak ada salahnya. Tidak apa-apa," balas Anthony.


Hampir setengah jam mereka berjalan bersama dan mengitari telaga, kemudian Anthony melirik sekilas Viona yang kelihatan lebih tenang.


"Vio, aku memang sengaja membangkitkan Kenangan kita dulu. Semoga ini menjadi awal yang baru untuk kita ke depannya. Jujur, aku masih sayang kamu, Vio. Masih cinta kamu. Ku harap kamu pun juga begitu. Biarkan aku yang berjuang. Aku akan melakukan semua yang terbaik untuk kamu dan Arbe."


Viona menghentikan langkah kakinya sejenak."Kamu seperti tengah melamarku, Thony."


Pria itu menganggukkan kepalanya. "Ya, aku memang sedang melakukannya. Sudah berapa kali? Yang pasti aku masih mencintaimu, Viona. Jika bisa berikanlah lagi kesempatan kedua untukku. Kali ini, aku bersungguh-sungguh dan memberikan komitmen penuh," kata Anthony dengan serius.


"Sudahlah, Thony. Biarkanlah seperti ini dulu adanya."


"Ya sudah, aku akan menunggu lagi. Tidak kusangka lebih mudah mendapatkan cinta dan hati seorang gadis, daripada ...."


"Daripada janda?" sahut Viona cepat.


Dengan cepat Anthony menggelengkan kepalanya. "Enggak juga, sudahlah. Aku tidak mau bertengkar. Panorama seindah ini akan sia-sia kalau kita melewatkannya begitu saja."


Anthony lantas berjalan terlebih dahulu. Dia menoleh ke belakang dan melihat Viona yang mulai melangkahkan kakinya. Janda yang terluka memang sukar membuka hatinya, Anthony harus berusaha dengan lebih keras lagi untuk mendapatkan Viona.

__ADS_1


__ADS_2