
Keesokan harinya, Satria bersiap untuk mengantarkan Indi ke Oemah Jamu milik Ramanya. Sebenarnya, Indi bisa pergi sendiri. Akan tetapi, Satria ingin mengantar istrinya itu. Toh, hanya sekadar mengantar dan menjemput tidak menjadi masalah untuk Satria.
"Satria mohon pamit untuk mengantar Indi dulu, ya Bunda dan Ayah," pamit Satria.
"Iya, Sat ... hati-hati yah," balas Ayah Pandu.
Kemudian Satria segera keluar dari rumah dan meminjam mobilnya Indi. Sementara mobil Satria sendiri ada di rumahnya. Sebab, saat akad lusa, Satria kan satu mobil dengan keluarganya. Sehingga memang dia tidak membawa mobil.
"Mas Satria tidak apa-apa mengantar aku?" tanya Indi.
"Tidak apa-apa kok, kenapa emangnya?" balas Satria.
"Kan bisa saja nanti bertemu Rama atau yang lain," balas Indi.
Satria kemudian tersenyum tipis. "Kalau ketemu ya tinggal disapa saja, Sayang. Aku sebagai anak dan lebih muda, sudah sepantasnya untuk menghargai beliau yang lebih tua."
Adab dan sopan santun di Jawa memang demikian. Anak atau mereka yang lebih muda, akan memberikan hormat dan menghargai mereka yang lebih tua. Begitu juga Satria, kala pun nanti akan bertemu Ramanya, tetap dia akan menyapa.
"Ya sudah, kalau Mas Satria sudah yakin. Aku kan hanya bertanya," balas Indi.
"Tenang saja, Sayang. Jangan takut, aku akan selalu mendampingi kamu. Kamu, teruslah berdiri di sisiku dan menggandeng tanganku. Kalau kita bersama, apa pun yang terjadi kita bisa melewatinya," kata Satria.
Meminang Indi memberi Satria kekuatan. Dia merasa kian mantap untuk berjuang. Walau aral melintang di depan mata, tapi Satria akan berusaha untuk memberikan kebahagiaan penuh untuk istrinya.
Hingga begitu sudah tiba di kantor, Satria turun terlebih dahulu dari mobil, dia membukakan pintu mobil untuk Indi.
"Silakan Nyonya Satria," katanya.
__ADS_1
Seketika Indi tersenyum. Jika seperti ini sebenarnya suaminya itu terlalu berlebihan. Akan tetapi, itulah maunya Satria.
"Makasih, Mas Suami," balas Indi.
Satria mengulum senyuman, dipanggil Mas Suami saja sudah membahagiakan hatinya. Bagaimanapun romantika pengantin baru itu jangan sampai hilang.
Baru saja Indi turun, ada mobil berwarna putih yang terparkir di sisi mobil Satria. Wanita cantik turun dari sana dengan heelsnya yang tinggi.
"Oh, hei ... Satria."
Tidak lain dan tidak bykan, wanita itu adalah Karina Atmadja yang menjadi perwakilan di Oemah Jamu itu. Karina pun tak sungkan untuk menyapa Satria. Terlebih, ada waktu kurang lebih satu bulan, dia tidak bertemu dengan Satria.
"Oh, jadi ... dia yah wanita yang kamu cintai? Wanita yang menjadi pilihan hatimu? Sampai kamu menolak perjodohan denganku," tanya Karina.
Barulah Karina tahu bahwa wanita yang disukai Satria di mata Karina tidak ada apa-apanya dengan dirinya. Karina cantik, dan lulusan dari luar negeri. Selain itu, di mata Karina, Indi atau si Desainer itu sederhana dan lebih sering mengenakan batik alih-alih brand mahal.
Satria mengakui dengan jujur kalau Indi gak hanya sekadar wanita yang dia suka, melainkan wanita yang sudah dia pinang. Ikrar akad yang menyatukan dia dengan Indi. Satria tak ragu untuk mengenalkan kepada semua orang bahwa Indi adalah istrinya.
"Ha, istri? Are you kidding me?" tanya Karina.
Karina masih menganggap bahwa Satria hanya sekadar bercanda. Dari perbincangan dengan Rama Bima saja tak pernah terdengar kabar bahwa Satria sudah menikah. Di mata Karina tidak mungkin kalangan ningrat akan menikah tanpa restu orang tuanya. Sebab, di kalangan mereka, restu dari orang tua itu sangat dijunjung tinggi.
"Iya, dia istriku," jawab Satria menegaskan.
Karina membawa pandangannya menatap Indi. Memang di kening Indi terlihat ada bekas paes. Sebab saat membuat paes, bagian rambut di depan hingga kening akan dikerik dengan silet dan membuat tanda paes itu. Cukup melihat bekas paes dan alis yang ditata saja jadi bukti bahwa wanita itu memang sudah menikah.
Ada satu tradisi di Jawa masa dulu bahwa gadis tidak boleh mengubah bentuk alisnya. Alis hanya boleh dirapikan, dicukur, atau lainnya setelah si gadis menikah. Rupanya Indi juga melakukan hal itu, kemarin kala menikah bulu alisnya dikurangi dan ditata ulang, menjadi tanda bahwa dia sudah menikah.
__ADS_1
"Kamu keterlaluan, Sat ... masak iya, kamu menolakku hanya demi dia," kata Karina.
Sementara Indi memang hanya diem. Biarkan saja Karina dengan ucapannya, yang pasti Indi tak terpengaruh. Cinta dari Satria lebih dari cukup untuknya.
"Faktanya begitu. Baiklah Karina, sebaiknya segeralah bekerja sana."
Satria hanya mengusir halus. Dia tidak ingin meladeni Karina lagi. Dengan kesal, Karina pun masuk ke Oemah Jamu terlebih dahulu. Kemudian, dia menatap kesal Indi dan Satria.
Sepeninggal Karina, Satria kemudian menatap istrinya yang sejak tadi diam."Gak usah menghiraukan Karina, Sayang. Benar dulu aku dijodohkan dengannya, tapi aku menolak. Akhirnya, aku pergi dari rumah dan meninggal semua. Satu-satunya yang dimaui hatiku hanya kamu," jelas Satria.
"Iya, Mas. Aku tahu, dulu kan awal aku mengerjakan tempat ini Rama kamu mengatakan bahwa dia calon jodohmu. Ya, kurang lebih aku tahu," balas Indi.
"Nanti kalau dia macam-macam bilang saja ke aku. Kamu jangan takut kepadanya, atau ke siapa pun juga. Yang harus kamu ingat, satu-satunya wanita yang paling berhak atasku, hanya kamu," jelas Satria.
"Iya, Mas Satria. Aman kok. Aku juga bisa bekerja dengan profesional. Tenang saja," balas Indi.
Sebulan lebih sudah bisa membuktikan bahwa dia bekerja dengan profesional. Kala bertemu Rama Bima pun, dia akan bekerja dengan baik dan memberikan laporan secara berkala. Mengesampingkan masalah untuk bekerja dengan baik.
"Bagus, Sayang. Aku yakin, kamu sudah dewasa dan bisa mengesampingkan masalah pribadi. Makasih banyak yah," balas Satria.
Usai itu, Satria mengulurkan tangannya, dan Indi menyambutnya dan mencium punggung tangan suaminya itu. "Baiklah, aku kerja dulu yah, Mas ... maaf tidak bisa menemani kamu, padahal pernikahan kita baru dua hari," pamit Indi.
Tak lupa Indi meminta maaf. Semua itu juga karena Oemah Jamu itu harus segera diselesaikan. Jika tidak, nanti bisa ada komplain dari klien. Nanti kalau semua sudah selesai, tinggal menikmati bulan madu dengan suaminya.
"Iya, Sayangku. Nanti sore aku akan jemput yah. Hati-hati dan semangat bekerjanya."
Usai berpamitan, Indi segera masuk ke Oemah Jamu itu. Tidak ada yang tahu sebenarnya bahwa dia sudah menikah. Sebab, memang yang tahu hanya keluarga saja. Namun, sekarang Karina sudah tahu, tapi Indi tidak mempermasalahkan. Bagaimana pun dia ingat ucapan Satria bahwa satu-satunya wanita yang paling berhak atasnya hanya Indi. Oleh karena itu, Indi juga akan mempertahankan Satria, menjaga suaminya hanya untuknya saja.
__ADS_1