Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Kecurigaan Indi


__ADS_3

Akhir pekan ini Satria benar-benar tidak sehat. Malam harinya pria itu masih merasa menggigil kedinginan. Sedangkan pagi harinya, Satria selalu muntah-muntah. Indi sampai benar-benar kasihan melihat suaminya itu.


"Apa mau kerja, Mas?" tanya Indi.


Sebab, akhir pekan sudah berlalu. Sudah saatnya bagi Satria untuk kembali bekerja. Pria itu menganggukkan kepalanya, dia merasa kalau siang hari rasanya lebih sehat. Sehingga bisa dipakai untuk bekerja.


"Aku bekerja aja, Sayang. Kalau siang, aku gak begitu mual kok. Dibawain bekal makan siang aja yah, Sayang. Biar aku gak perlu keluar beli makan," balas Satria.


Akhirnya, Indi menyiapkan kotak bekal untuk suaminya itu. Nasi dan sayuran segar, dengan lauk. Bahkan Indi membawakan tumbler berisi air lemon. Setidaknya rasa asam dari Lemon bisa dipakai untuk meredakan mual. Bahkan Indi membawakan pouch yang berisikan inhaler, minyak kayu putih, plastik kecil untuk berjaga-jaga kalau muntah, dan juga masker untuk menutup hidung dan mulut. Sebab, bisa saja Satria tidak bisa mentolerir bau yang menyengat.


"Ini yah, Mas ... kotak bekal, tumbler berisi air lemon panas, dan dompet kecil ini berisi keperluan untuk Kesehatan. Inhaler, dan lain sebagainya ada di dalam sini. Sekiranya ada bau menyengat memakai masker aja, Mas. Setidaknya kamu bekerja tanpa gangguan," kata Indi.


"Makasih banget, Sayang. Kamu merawat aku dengan sepenuh hati. Pastilah aku akan segera sembuh," kata Satria.


"Kalau masih beberapa hari enggak sembuh, ke Dokter yah Mas? Takut kenapa-napa," balas Indi.


Satria kemudian menganggukkan kepalanya. "Kamu khawatir sama aku?" tanyanya.


"Banget. Takut kenapa-napa. Soalnya kamu kan enggak di rumah. Kalau stay di rumah, pasti aku bisa langsung cepet-cepet merawat kamu," balas Indi.


Diperhatikan seperti ini Satria senang. Walau sakit, tapi setiap perhatian yang ditunjukkan istrinya membuatnya semakin bersemangat untuk sembuh. Satria ingin segera sembuh dan membahagiakan istrinya itu.


"Ya sudah, aku berangkat bekerja dulu ya Sayang. Kamu hati-hati di rumah, jangan kecapekan yah ngasuh Nakula dan Sadewa," balas Satria.


Pria itu mengambil satu langkah ke depan, lantas Satria menundukkan wajahnya dan mengecup kening istrinya itu. Sebenarnya Satria juga masih ingin berada di rumah. Masih enggan rasanya untuk kembali ke kantor. Akan tetapi, dia memang harus segera bekerja. Ada anak dan istri yang harus selalu mendapatkan nafkah darinya.


"Hati-hati yah, Mas. Semoga sehat selalu seharian ini."

__ADS_1


Indi mengantarkan suaminya hingga ke depan rumah, ada Nakula dan Sadewa juga yang sekarang keduanya digendong Papanya.


"Dada Papa ...."


"Dada ... bye, Ppa ...."


Dua tangan mungil melambaikan tangannya kepada Satria. Kemudian Satria mencium pipi Nakula dan Sadewa, menurunkan kedua putranya dari gendongannya, kemudian Satria berpamitan dengan Nakula dan Sadewa.


"Papa bekerja dulu yah. Nakula dan Sadewa yang manis di rumah yah. Mama dijagain yah," pesannya.


Belum Satria masuk ke mobil, Nakula dan Sadewa sudah berlari masuk ke dalam rumah dengan berceloteh heboh. Akhirnya Satria benar-benar berangkat, dan Indi memilih untuk menutup gerbang dan masuk ke dalam rumah.


Sembari menemani Nakula dan Sadewa bermain, Indi membaca-baca buku kebetulan di sana ada informasi mengenai kehamilan simpatik atau Couvade Syndrom yang dialami para pria. Ketika istri hamil, justru istri lah yang akan sehat, sementara para suami akan mengalami gejala layaknya morning sickness. Bahkan ada beberapa indikasi di sana.


"Masak Mas Satria Couvade Syndrom sih? Kalau dipikir-pikir gejalanya memang kayak morning sickness. Mual dan muntahnya hanya waktu pagi, pas bangun tidur. Setelah itu, bisa agak membaik. Kalau malam kedinginan menggigil, tapi badannya tidak demam. Apa aku telat yah?"


Wanita itu kemudian mengusap perlahan perutnya yang masih rata. Indi kemudian berkata dalam hatinya.


"Apa iya sudah ada adiknya Nakula dan Sadewa di sini?"


Tak ingin menerka-nerka dan berspekulasi, Indi sebaiknya segera mengetes urine saja. Kalau memang suaminya mengalami kehamilan simpatik, Indi malahan kasihan dengan suaminya. Sebab, bisa saja Satria akan mengalami itu selama trimester pertama kehamilan.


Hingga siang hari, Bunda Ervita berkunjung ke rumah Indi. Bunda Ervita baru saja dari Pasar Bering Harjo untuk mengecek kios batik yang ada di sana.


"Assalamualaikum," kata Bunda Ervita.


"Waalaikumsalam, Nda. Dari mana, Nda?" tanya Indi.

__ADS_1


"Habis dari Pasar Bering Harjo. Biasa Mbak, ngecek kios batiknya Eyang. OTerus Nda mampir ke sini. Daripada di rumah sendirian," balasnya.


"Iya, Nda. Kalau kesepian ke sini saja. Yang penting waktu Yayah pulang, Nda sudah di rumah," balas Indi.


"Kamu baru ngapain? Kayak baru mikirin sesuatu?" tanya Bunda Ervita.


"Yayah pernah hamil simpatik enggak, Nda?"


Bunda Ervita berusaha untuk mengingat-ingat, hingga akhirnya Bunda Ervita memberikan jawaban. "Waktu Nda hamil Irene, keliatannya sih Nda sehat-sehat banget, tapi Yayah kamu yang teler. Kenapa, Satria mengalami kehamilan simpatik?" tanya Bunda Ervita.


Seketika raut wajah Bunda Ervita keliatan bahagia. Kalau benar, dia sangat senang. Artinya akan mendapatkan cucu lagi. Namun, Indi sendiri terdiam dan berpikir rupanya Yayahnya pernah mengalami hal serupa. Namun, Indi belum mau terbuka dengan Bundanya. Harus memastikan terlebih dahulu. Selain itu, kalau kecurigaan itu benar, Indi inginnya bahwa suaminya yang menjadi pihak pertama yang tahu terlebih dahulu.


"Enggak og, Nda. Indi cuma tanta-tanya. Emang itu beneran yah, Nda? Kan yang hamil kan istrinya, kok yang morning sickness malahan suaminya," tanya Indi.


"Iya, benar. Katanya sih karena ikatan hati suami dan istri itu sangat kuat. Jadinya suaminya yang mengalami morning sickness dan berbagai gejala kehamilan lainnya," kata Bunda Ervita.


Indi menganggukkan kepalanya. Berarti memang benar adanya jika Couvade Syndrom atau kehamilan simpatik itu benar-benar ada. Hal ini semakin membuat Indi ingin mengecek urine nanti, benarkah dia hamil dan Satria yang mengalami gejalanya atau tidak.


"Nda kira Satria mengalami kehamilan simpatik," kata Bunda Ervita.


"Enggak og, Nda. Mas Satria beberapa hari ini kurang sehat aja. Masuk angin, cuacanya baru jelek kayak gini, Nda," kata Indi.


Bunda Ervita menganggukkan kepalanya. "Benar, diberikan suplemen, Mbak. Biar sehat. Nda selalu sedia tuh vitamin c di rumah. Cuacanya baru buruk," balasnya.


"Lha iya, Nda. Sampe kasihan, Indi buatin Jahe Gepuk sendiri. Semoga anak-anak juga sehat," kata Indi.


Memang cuaca di Jogjakarta sedang tidak baik. Siang yang sangat terik dan malam harinya angin sangat kencang. Indi juga berharap Nakula dan Sadewa akan selalu sehat selalu.

__ADS_1


__ADS_2