Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Ambangun Tresna


__ADS_3

Hujan pagi itu agaknya menciptakan atmosfer tersendiri untuk Satria. Dengan Indi yang duduk di depannya, dalam dekapannya. Ada selimut yang sengaja mereka kenakan berdua untuk memberi kehangatan. Juga derai hujan yang menambah suasana kian syahdu.


Sebagai pria dan terlebih dengan kondisi trauma Satria yang bisa sembuh berkat sentuhan dan kesabaran istrinya, sekadar mencium pipi atau mendekap tubuh Indi rasanya ada yang kurang. Sementara Indi tak menolak sama sekali. Berbicara mengenai kesabaran juga sebenarnya Indi sudah bersabar lama. Hampir empat bulan berjalan, dalam sebulan terakhir Indi lebih fokus membantu Satria melawan traumanya. Sehingga sekarang, Indi juga merasakan gelenyar di tubuhnya mana kala Satria mengecup pipinya beberapa kali dengan dekapan hangat suaminya itu.


"Mas Satria ...."


Masih dengan berusaha tersenyum dan menghela napasnya Indi menoleh ke belakang. Dia tatap wajah tampan suaminya. Sebenarnya apa yang Satria inginkan sekarang.


"Ya, Roro Ayu ...."


"Geli loh, Mas," balas Indi perlahan.


Satria tersenyum. Sekarang, tanpa banyak berbicara, Satria membawa seluruh untaian rambut Indi ke satu bahu saja. Sehingga ada satu bahu lainnya yang bisa Satria eksplorasi. Mulailah bibir Satria mendaratkan kecupan demi kecupan di garis leher Indi. Aroma parfum yang wangi seolah membuat Satria tak cukup jika hanya menjatuhkan kecupan. Dia tarik perlahan kaos yang dikenakan istrinya, dan menyisir tulang belikat istrinya dengan jejak-jejak basah. Indi berusaha menahan. Sudah begitu lama tidak merasakan hal seperti ini, dan sekarang kecupan dan jejak basah dari suaminya saja membuatnya limbung.


"Sudah lama banget enggak membangun cinta, ambangun katresanan. Bukan sekadar saling memahami dan bekerja sama, tapi sudah lama kita berdua tak menyatu," kata Satria di sisi telinga istrinya.


Indi tak bereaksi. Hanya beberapa kali dia memejamkan matanya. Rasa ini amat menggelitik, tapi membuat Indi menyukainya.


Perlahan-lahan, Satria bawa wajah Indi untuk sedikit menoleh ke belakang. Lantas dia sapa bibir istrinya yang semanis ceri dengan kecupan, dilanjutkan hisapan, dan pagutan. Satria merasa rindu sekali. Rasa manis berpadu hangat, manis yang layaknya nektar bunga cukup lama tak ia rasakan. Sekaranglah waktunya, merasakan kembali. Satria tak segan memberikan usapan dengan lidahnya, dan menghisap dua buah lipatan bibir yang manis itu.


Tak sampai di sana tangan Satria pelan-pelan memberikan usapan naik turun di lengan istrinya. Indi yang semula menahan, sekarang tak kuasa untuk memekik karenanya. Dia bak terhisap ke dalam palung samudra. Itu memberikan sensasi yang indah.


"Mas Satria," balas Indi.

__ADS_1


"Ya, Sayang ...."


Ketika Indi tak mampu menahan, Satria justru mengubah posisi Indi. Sekarang istrinya sudah berhadapan dengannya, di pangkuannya. Ini adalah posisi yang kian intim. Selimut yang semula mereka kenakan bersama sekarang terlepas. Ada tangan Satria yang memandu sisi wajah istrinya, pun tangan Indi yang meremas helai demi helai rambut suaminya.


Adegan drama korea yang semula mereka tonton tak lagi menarik. Sebab, sejuta rasa di hadapan mereka lebih nikmat untuk mereka cecap bersama. Ciuman Satria kian dalam, kian menggebu, isapan lidahnya kian menjadi-jadi. Indi benar-benar terseret arus sekarang. Menolak tak bisa, tapi justru kian lama kian terlena.


Lebih-lebih dengan tangan suaminya yang menelusup masuk ke dalam kaos yang Indi kenakan. Telapak tangan itu memberikan usapan di sepanjang punggungnya. Oh, gelenyar itu kian tersulut. Tak bisa menahan, Indi yang menarik ke atas terlebih dahulu kaos yang dikenakan suaminya. Membuat Satria shirtless di hadapannya. Tangan Indi yang halus mulai mengusap, memberikan belaian di dada suaminya. Terlebih di bagian coklat di dada suaminya, dibelai perlahan. Satria hingga mendesis sesaat karenanya.


Tak ingin kalah, Satria juga menarik ke atas kaos yang dikenakan istrinya. Mengonggokkan busana itu di atas karpet begitu saja. Selain itu, tangan Satria meremas perlahan bulatan indah yang kian berisi itu. Bak tak sabar, Satria mulai memberikan kecupan-kecupan di bulatan indah itu. Akan tetapi, ada bagian yang sengaja Satria hindari. Area puncak yang kecokelatan sengaja Satria hindari.


Walau begitu, tetap ada yang kurang. Sebab biasanya area puncak dengan titik-titik sensitivitas yang seolah terpusat tak tersentuh sama sekali. Namun, Indi enggan protes. Indi menganggap itu karena sekarang Indi sedang fase memberikan ASI eksklusif untuk kedua putranya.


Cukup lama Satria bermain-main di sana. Akhirnya Indi berinisiatif terlebih dahulu. Dia berikan yang terbaik untuk suaminya. Menenggelamkan pusaka yang sudah berdiri milik suaminya ke dalam rongga mulutnya yang hangat. Baluran dalam kesan hangat melingkupi Satria. Pria itu terengah-engah merasa nikmat. Darahnya seakan berdesir dari ujung kepala hingga ujung kakinya.


"Kamu terlalu pinter, Sayang ...."


Kalimat pujian itu kembali meluncur dari bibir Satria. Bagi Satria, Istrinya itu sungguh luar biasa. Bahkan ketika istri berinisiatif terlebih dahulu itu membesarkan hati Satria, menambah kadar cinta di dalam hatinya. Namun, bagaimana pun Satria adalah pria sejati. Dia tak ingin hanya sekadar menerima. Sekarang waktunya Satria untuk mengambil alih kendali.


Satria benar-benar membuat sang istri tampil polos di hadapannya. Inci demi inci lapisan epidermis istrinya dia kecupi perlahan. Terlihat Indi yang belum bisa rileks semua itu juga karena berat badan Indi belum sepenuhnya turun.


"Rileks saja, Sayang," kata Satria.


"Aku gak PD, Mas. Aku masih ndut," kata Indi dengan menatap wajah suaminya perlahan.

__ADS_1


"Tidak, aku selalu cantik, Sayangku."


Ucapan Satria bak sihir yang meningkatkan kepercayaan diri Indi. Akhirnya Indi memasrahkan segalanya kepada suaminya. Merilekskan dirinya. Hingga Indi memekik mana kala suaminya memberikan sapaan di lembah yang ada di dalam saja. Usapan dengan lidah yang tak menunggu waktu lama membuat Indi meracau, kehilangan dirinya sendiri.


"Mas ... Satria ..., oh!"


Begitu lama Indi tak menikmati rasa seperti ini. Tak butuh waktu lama juga, Indi merasakan nikmat dengan tubuh bergetar hebat saat pelepasan itu terjadi. Satria tersenyum, sebagai pria, dia bangga bisa membuat istrinya bereaksi seperti ini.


Beralih posisi, Satria kembali membawa Indi duduk di pangkuannya. Dengan sang pusaka yang sudah memenuhi cawan surgawi. Sapaan hangat dalam kesan erat yang seakan memenjara jiwa. Menghadirkan rasa penuh dengan segala pesonanya.


"Kamu nikmat, Sayang."


Indi sudah tak mampu berkata-kata. Gerakan demi gerakan terjadi begitu saja. Maju dan mundur, tercipta jepitan dan benturan. Rasanya keduanya sekarang benar-benar menggila bersama.


Sementara Satria juga meledak. Hangat, erat, basah. Adalah tiga sensasi yang membuat dirinya terombang-ambing tak berdaya. Hujan di luar kian deras, sementara keduanya yang berada di dalam benar-benar memacu dalam menciptakan kehangatan dalam kesan intimitas tanpa batas.


Tangan-tangan Satria yang memberikan belaian di bahu, di sepanjang punggung, atau ciuman yang dia daratkan di bibir, leher, mau pun area dada seakan memacu keduanya untuk kian meledak dan melesat. Sementara pusaka yang terbenam melesat masuk, meluncur tanpa batas.


"Astaga, nikmat sekali."


Satria menggeram sekarang. Di sisa-sisa kesadarannya, Satria tak mampu lagi bertahan. Erupsi volkano terjadi. Setiap bagian Satria dalam bentuk cair meledak keluar menciptakan rasa hangat yang memenuhi cawan surgawi itu. Dengan pelukan erat, peluh yang berpadu, dan mata yang terpejam erat.


Begitu indah. Masa empat bulan dalam kondisi berpuasa. Sekarang ada ledakan dahsyat yang membuat keduanya berkeping-keping hancur dan melebur dalam indahnya membangun cinta. Memenuhi bejana dengan perasaan cinta yang sesungguhnya.

__ADS_1


__ADS_2