Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Masih Berlanjut


__ADS_3

Agaknya sekarang Satria tidak ingin menahan lagi. Terlebih ada desakan di bawah sana yang seolah sudah berdiri dan siap untuk memasuki cawan surgawi istrinya. Sementara, Indi baru tahu bahwa baru setengah jam saja sudah ada terjadi gerakan dan denyutan yang perlahan dia rasakan. Kaget? Tentu saja, tapi Indi berusaha berpikir bahwa mungkin punya pria memang seperti itu adanya.


"Mas," suara Indi.


Akan tetapi, belum sepenuhnya Indi selesai berbicara sudah ada bibir Satria yang melahap habis bibir Indi, melu-matnya dengan napas yang memburu. Sehingga suara Indi tenggelam dalam lu-matan suaminya. Hanya Indi bisa lakukan sekarang adalah mengimbangi suaminya. Mempertemukan dua bibir yang sudah sama-sama haus dengan dahaga. Dua bibir yang saling mengulum, saling memagut, saling menghisap, sehingga kali itu semua berjalan dengan sangat cepat.


Walau Indi sangat terengah-engah, tapi dia berusaha mengimbangi suaminya. Bobot tubuh suaminya yang sekarang menindihnya bisa Indi rasanya. Dada bertemu dengan dada, seakan menghantar gelenyar tersendiri dan suhu tubuh pun perlahan meningkat dengan drastis.


Pun tangan Indi yang bergerak memberikan remasan di helai demi helai rambut hitam suaminya. Sungguh, Indi pun tak mengira bahwa atmosfer akan menjadi panas secepat ini. Pun dengan Satria yang seakan tidak memberi ampun sama sekali. Dia bergerak mengikuti nalurinya. Walau menggebu-gebu, tapi Satria ingin menunjukkan bahwa hasrat dan gelora ketika bercinta pun juga menggebu-gebu. Terlebih ketika tidak ada penolakan dari Indi, membuat Satria berani bergerak dengan begitu leluasa.


"Mas Satria ...."


Mata Indi kian terpejam, tangannya mencengkeram punggung Satria. Rasanya sungguh tak terkira. Sama dahsyatnya dengan setengah jam yang tadi.


"Sayang ...."


Satria membalas. Pria itu juga sangat tersulut. Rasanya benar-benar dahsyat. Andai itu adalah bara api, sudah pasti bara api memiliki tingkat panas yang luar biasa. Satria menarik sedikit wajahnya, ibu jarinya mengusap perlahan lipatan bibir Indi.


"Kita lanjutkan, tapi bukan di sini," kata Satria.


Pria itu perlahan-lahan turun dari ranjang, dia mengulurkan tangan kepada Indi. Akan tetapi, Indi bingung di mana lagi suaminya itu hendak mengajaknya. Ketika Indi terbangun dengan mempertahankan selimut yang mengcover tubuhnya di depan dada, tangan Satria bergerak dan meluruhkan selimut itu. Dengan begitu cepat, Satria menggendong Indi layaknya koala. Dengan posisi yang seintim dan sedekat ini, Satria tersenyum, mata bersitatap dengan mata. Sementara, Indi yang terkadang tidak berani bersitatap dengan netra suaminya.


"Give me a kiss," pinta Satria dengan mempertahankan Indi dalam gendongannya.


"Mas," kata Indi dengan begitu malu.


Belum memberikan apa yang Satria mau, pria itu sudah memanyunkan bibirnya. Indi pun tersenyum dan mengecup perlahan bibir suaminya itu. Cukup dengan satu kecupan saja. Akan tetapi, Satria meminta beberapa kali, hingga Indi mengecup bibir suaminya itu dengan tersenyum geli.

__ADS_1


Satria sekarang kembali mencium bibir Indi dan langkah kakinya membawa Indi menuju ke dalam kamar mandi. Di sana, Satria mendudukkan Indi di dekat wastafel terlebih dahulu. Memunggungi cermin besar yang ada di sana.


"Tunggu di sini, Yang," kata Satria.


Indi hanya bingung memaku di sana. Apa yang hendak dilakukan oleh suaminya. Rupanya, Satria mengisi bath up terlebih dahulu dengan air dan bath bomb. Sembari menunggu airnya penuh, terdengar gemercik air di sana kemudian Satria kembali berdiri di hadapan Indi.


"Cantik banget sih," puji Satria dengan menelisipkan rambut Indi ke belakang telinganya.


"Apa sih, Mas," balas Indi dengan menunduk malu.


"Serius. Cantik banget, kayaknya kalau kamu secantik ini, aku pengennya punya anak cewek yang cantiknya kayak kamu deh," balas Satria.


Lagi-lagi Indi tersenyum. "Sudah Mas, jangan seperti ini. Aku malu, tolong turunkan aku," balas Indi.


Satria menganggukkan kepalanya. Dia membawa tangannya di pinggang Indi dan menurunkan istrinya itu. Selanjutnya memberi jeda sejenak, keduanya memilih membersihkan wajah dan gosok gigi terlebih dahulu. Usai itu, Satria berdiri dan mendekap Indi. Pria itu kembali tersenyum melihat tampilan keduanya dari cermin besar di hadapannya.


"Kalau aku kecapekan?" tanya Indi.


"Aku pijitin, tenang saja ... suamimu yang akan mengurus semuanya," balas Satria.


Tidak berhenti, tangan Satria sudah bergerak nakal dan meremas kedua bulatan indah di sana. Bisa Satria lihat ekspresi istrinya dari pantulan cermin di hadapannya. Oh, Satria merasa senang sekali melihatnya.


"Mas ... Satria."


Indi tak kuasa memekik dengan beralih berhadap-hadapan dengan Satria. Selain itu, Satria menunduk. Dia berikan jejak-jejak basah di leher istrinya. Luar biasa rasanya, Satria merasakan terpaan yang sangat dahsyat. Di saat bersamaan, air di dalam bath up penuh. Satria menjeda tindakannya, dan dia kemudian mengajak Indi untuk memasuki bath up.


Bukan sekadar duduk bersama melainkan dengan pusaka yang sepenuhnya sudah memasuki Indi. Dengan posisi Indi berada di pangkuan suaminya. Sungguh itu sangat indah. Belum apa-apa, Satria sudah menggeram dengan cengkeraman otot-otot di sana. Satria menengadahkan wajahnya, menikmati Indi yang bergerak mengikuti instingnya. Walau gerakan itu random dan juga begitu lembut, tapi sangat, sangat, dan sangat melenakan untuk Satria.

__ADS_1


"Astaga, Sayang ... Sayang," erang Satria.


Suara yang saling menyahut. Penuh indah, syarat akan de-sahan yang indah. Seakan menghadirkan ritme tersendiri.


Satria kemudian memberikan instruksi kepada Indi juga duduk memunggunginya, tapi dengan pusaka yang masih terhunus di dalam sarangnya. Satria meraba dan mengecupi punggung Indi yang putih bersih. Berbalut dalam sensasi basah dari air dan licin dari sabun. Menghadirkan sensasi tersendiri.


"Mas ... Mas Satria."


Sungguh, ini sensasinya lebih gila untuk Indi. Dia merasakan semuanya seakan terjadi letupan demi letupan di dalam dirinya. Pun dengan tangan Satria yang menjamah lekuk demi lekuk feminitas di sana. Sangat dahsyat. Jika boleh jujur, keduanya seakan menghisap bubuk candu. Sangat indah dan dahsyat.


Indi merasa terombang-ambing dalam terpaan badai. Matanya terpejam dengan sangat erat. Rabaan dan sering kali dikombinasikan dengan dekapan suaminya, dengan hentakan dan gerakan seduktif yang terjadi begitu saja.


"Sa ... yang!"


Lagi Satria menggeram. Di batas terakhir, Satria mulai memacu dengan menggerakkan pinggulnya. Lebih dalam. Lebih kuat. Lebih bertenaga. Tidak ada batas. Yang ada hanya cengkeram yang begitu luar biasa.


Hingga akhirnya, Satria kembali meledak. Hingga seakan terdengar dengingan di telinganya.


Ya, dengingan yang membuat pria itu seakan kehilangan pendengarannya untuk beberapa saat dan tubuhnya. bergetar dengan sangat hebat. Satria merasakan sensasi yang lebih dahsyat sekarang.


Hancur.


Meletup.


Pecah.


Semuanya Satria rasakan dengan mendekap tubuh Indi dengan begitu eratnya. Sementara Indi sendiri merasakan ada tumpahan di dalam sana dalam kesan hangat dan basah. Bukan hanya Satria, Indi pun merasakan sesuatu asing dalam bentuk cairan yang bersatu padu. Ya, bersatu padu sama seperti dirinya dan Satria sekarang.

__ADS_1


__ADS_2