Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Mencari Pekerjaan di Kota Gudeg


__ADS_3

Hanya selang sepekan usai diwisuda, Irene mulai bergerilya untuk mencari pekerjaan. Gadis muda itu tidak ingin lama-lama menganggur. Menurut Irene sendiri jika dia terlalu lama menganggur dan lebih banyak berada di rumah, bisa-bisa Irene menjadi malas dan enggan segera mencari kerja.


Irene bahkan berselancar di Facebook dan Instagram mencari info lowongan pekerjaan. Tak hanya itu, kadang kala Irene berkeliling di beberapa wilayah di kota Gudeg untuk mencari pekerjaan. Percayalah, perjuangan sesungguhnya baru dimulai ketika menyelesaikan pendidikan. Walau memiliki gelar dan ijazah, tapi mendapatkan pekerjaan tak semudah membalikkan telapak tangan. Terkhusus dengan banyaknya lulusan setiap tahunnya, tapi lapangan pekerjaan yang tersedia begitu terbatas setiap tahunnya.


Kali ini usai berputar-putar mencari pekerjaan, Irene mampir ke rumah kakaknya. Apalagi siang itu begitu terik, pikir Irene ingin berteduh dulu, nanti agak sore baru pulang ke rumah.


"Assalamualaikum Mbak Didi," sapa Irene sembari mengetuk pintu.


Tak berselang lama, Indi sendiri yang membukakan pintu. Indi tersenyum melihat adiknya yang datang ke rumahnya.


"Waalaikumsalam, masuk Ante Irene," kata Indi.


Memasuki rumah kakaknya, Irene akhirnya duduk di ruang tamu. Dia senang sekali ketika kakaknya membuatkan minuman untuknya.


"Dari mana?" tanya Indi kepada adiknya itu.


"Abis muter-muter mencari tempat untuk melamar kerjaan, Mbak. Ya ampun, panas banget. Makanya aku mampir ke sini, Mbak," kata Irene.


Indi menganggukkan kepalanya, dia memang tahu siang ini begitu terik. Apalagi adiknya itu mengendarai sepeda motor, mengitari jalanan di kota Gudeg pastilah sangat panas. Namun, serunya mencari pekerjaan juga seperti ini. Berpanas-panasan di bawah terik matahari, bertanya ke banyak orang, memasukkan lamaran, atau ditolak karena memang tidak sesuai dengan spesifikasi atau semacamnya.


"Mbak Indi dulu mencari kerja enggak sih?" tanya Irene kepada kakaknya.

__ADS_1


"Enggak, aku begitu lulus langsung bekerja di kantornya Ayah. Apalagi memang lulusannya seperti Ayah, jadi langsung direkrut," balas Indi.


Memang Indi sejak kecil ingin menjadi desainer interior sama seperti Yayahnya. Sehingga, begitu sudah lulus Indi bekerja di kantor milik Ayah Pandu sendiri, berguru langsung kepada ayahnya. Sementara Irene mengambil pendidikan anak, sehingga Irene menginginkan untuk menjadi guru. Oleh karena itu, Irene berkeliling ke sekolah-sekolah anak dan menanyakan apakah ada lowongan pekerjaan.


"Kalau menjadi guru PAUD, gajinya berapa Rene?" tanya Indi kepada adiknya itu.


"Enggak tahu yah, Mbak. Apalagi biasanya PAUD hanya yayasan. Mungkin kecil sih, Mbak. Diminta untuk mengabdi terlebih dahulu," balasnya.


Sebenarnya memang begitulah kala memiliki cita-cita sebagai guru atau pengajar. Sering kali ketika bekerja tidak berorientasi pada gaji terlebih dahulu. Para guru diminta untuk bukan hanya sekadar bekerja, tapi juga mengabdi, Wiyata Bhakti terlebih dahulu. Mengajar adalah melayani dan mengabdi, walau gaji kecil, tapi harus memberikan pendidikan yang terbaik untuk murid.


"Temenku waktu masih honorer sih pernah ada yang dibayar seratus ribu per bulan, Rene. Kalau sudah diangkat itu yang enak," kata Indi.


Di Jogjakarta sendiri memiliki upah minimum regional 1,9 juta rupiah. Bahkan mencatatkan kota dengan upah minimum regional terendah di Indonesia. Walau begitu, beberapa orang yang tinggal di Jogjakarta merasa bahagia. Mencukupi diri dengan aneka kuliner yang murah dan pas di kantong. Bayangkan saja, harga Nasi Kucing hanya kisaran dua ribu hingga tiga ribu rupiah. Terkadang hanya butuh sepuluh hingga lima belas biru rupiah saja sudah bisa makan kenyang di Angkringan.


Indi menganggukkan kepalanya. Kalau mengkalkulasi penghasilan dengan standar di regional kota ya terbilang sedikit. Akan jauh berbeda dengan kota-kota besar lainnya. Namun, Indi juga percaya ketika adiknya memiliki cita-cita sebagai guru, pastilah Irene sudah mempertimbangkan semuanya termasuk untuk penghasilan yang didapat.


"Terus hasil dari muter-muter sudah dapat?" tanya Indi.


"Belum, Mbak. Peluang menjadi guru anak-anak juga gak mudah, Mbak. Gak tahu nanti bagaimana. Aku coba dulu aja untuk mendapatkan pekerjaan di dalam kota. Tahun ajaran baru juga masih lama, jadi sedikit santai aja. Cuma, udah lulus dan enggak segera bekerja itu jadi malu sama orang tua, Mbak. Masak sudah besar, masih dikasih uang jajan sama Yayah dan Nda," cerita Irene.


"Gak apa-apa. Itu tanda sayang dari Yayah dan Nda. Mbak dulu malahan digaji Yayah loh, soalnya kerjanya sama Yayah," balas Indi dengan tertawa.

__ADS_1


Irene akhirnya ikut tertawa juga. Walau begitu, Irene sebenarnya sudah ingin mandiri dan bekerja sendiri. Ada hasrat ingin memberi kedua orang tua dari penghasilan yang dia dapatkan. Malu, kalau sudah besar dan sudah lulus kuliah, tapi masih diberi uang saku oleh orang tuanya.


"Makan dulu yuk, Rene. Mbak masak Ayam Balado nih. Mumpung Nang-Nang bobok, kamu makan dulu dengan tenang," kata Indi.


Irene akhirnya menuruti ucapan kakaknya itu. Menuju ke meja makan dan segera mengambil Nasi putih, Tumis kangkung, dan Ayam Balado. Irene kelihatannya begitu lapar sehingga dia terlihat begitu lahap menikmati makanannya.


"Enak banget sih, Mbak. Udah lama enggak makan masakannya Mbak Didi, rasanya jadi beda banget," kata Irene.


"Terlalu pedes enggak? Tadi aku sengaja kasih cabainya agak banyak," kata Indi lagi.


"Enggak pedes kok, Mbak. Enak malahan."


Menyelesaikan makannya, kemudian Irene mencuci sendiri peralatan makan yang dia gunakan. Usai itu, dia kembali duduk di sofa sembari membuka handphonenya. Mengecek kembali pesan yang sekiranya baru saja masuk.


"Kalau kerjaan yang di Jakarta itu bagaimana, Rene?" tanya Indi sekarang.


"Ya, itu tersedia sih Mbak. Cuma kayaknya Bunda kurang setuju aja. Jadi, aku berusaha untuk mencari pekerjaan di dalam kota dulu. Nanti kalau memang mentok sudah tidak ada lapangan kerja, ya aku ke Jakarta, Mbak. Cuma, pendaftaran sampai wawancara aku minta by daring. Jadi, secara online dulu. Kalau aku bolak-balik ke sana yang sayang, Mbak. Berat diongkos apalagi kalau enggak diterima kan jadinya buang-buang uang. Untung baik, Mbak. Mereka bisa menyeleksi dan proses wawancara by Zoom."


Apa yang Irene katakan ada benarnya juga. Kalau bolak-balik ke Jakarta untuk mendaftar dan prosedur lainnya tentu akan berat diongkos. Terlebih jarak Jakarta ke Jogjakarta yang jauh. Tiket perjalanan, bahkan tempat menginap harus dipikirkan juga. Lain cerita ketika baru datang ke Jakarta ketika memang benar-benar sudah mendapatkan pekerjaan.


Memang tidak mudah mencari pekerjaan sekarang. Lapangan kerja yang terbatas menjadi hal yang sering dihadapi para pelamar kerja. Sama seperti Irene yang harus mencari terlebih dahulu walau belum ada kepastian juga.

__ADS_1


__ADS_2