Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Pengasuhan adalah Kolaborasi


__ADS_3

Selang beberapa pekan kemudian, Indi cukup repot dalam mengasuh Nakula dan Sadewa. Bukan lantaran kedua anaknya itu sangat aktif, tapi karena semalaman Nakula dan Sadewa menangis karena demam. Sebagai seorang ibu, Indi pun panik dengan kondisi Nakula dan Sadewa.


Mama muda itu mengambil termometer dan mengecek suhu tubuh kedua putranya. Suhu tubuh Nakula dan Sadewa pun hingga 39°C. Wajah Nakula dan Sadewa sampai memerah, dan keduanya tidak mau lepas ASI. Lebih dari setengah jam keduanya terus meminum ASI dan tak mau dilepas. Setiap kali berusaha dilepas, yang ada Indi malahan menjadi gigitan baby shark di puncak dadanya, dan itu menyebabkan rasa sakit dan sangat perih di sumber ASI miliknya.


Indi sampai menangis malam-malam karena gigitan itu. Satria yang melihat istrinya pun begitu kasihan. Hingga Satria mengusapi punggung istrinya itu.


"Sakit banget yah? Perih yah pasti? Sini biar Nakula dan Sadewa, aku yang gendong," kata Satria.


Satria memang tidak tahu bagaimana rasanya, yang pasti digigit di puncak dadanya dengan gigi bayi pasti rasanya sangat perih. Terbukti Indi sampai menangis. Dengan menggendong kedua anaknya, Indi masih menangis.


"Gimana, masih sakit?" tanyanya.


"Yang satu lecet ampe berdarah," balas Indi yang masih menangis.


Satria mendekat, dia melihat area dada dengan puncaknya yang memang lecet dan berdarah. Usai itu, Indi memencet perlahan puncak itu hingga mengeluarkan ASI lalu mengoleskannya ke bagian yang luka. Beberapa orang percaya bahwa ASI bisa menyembuhkan bagian yang luka.


"Ssshhhs, perih," keluh Indi.


"Habis ini, aku carikan salep untuk lecet yah," balas Satria.


"Enggak usah, Mas. Sudah tengah malam kok. Semoga bisa segera sembuh."


"Gak apa-apa, kan ada apotek yang buka 24 jam. Aku carikan sekarang obat demam jenis Suppositoria kan?" tanya Satria.


Sejauh ini memang Indi lebih memilih memberikan obat penurun demam jenis Suppositoria atau obat berbentuk salut selaput yang dimasukkan melalui du-bur bayi. Obat dengan jenis ini akan berbentuk seperti tabung dengan salah satu ujungnya mengerucut. Kalau dimasukkan, suhu tubuh yang hangat yang akan mencairkan obat. Selanjutnya obat akan diserap oleh aliran darah sehingga bisa menurunkan demam.


Ketika Nakula dan Sadewa lebih tenang barulah Satria keluar sebentar ke apotek. Sang papa muda cukup menaiki sepeda motor, karena jarak apotek yang tidak terlalu jauh juga dari rumah. Begitu sudah tiba di apotek yang buka selama 24 jam, Satria segera membeli obat penurun demam jenis Suppositoria dan memberikan salep untuk istrinya.


Begitu sampai di rumah, Indi menerima obat penurun demam untuk anak-anaknya terlebih dahulu. Dia mengenakan sarung tangan dan mulai memasukkan obat itu. Nakula dan Sadewa kembali minum ASI secara DBF atau secara langsung. Sampai keduanya tertidur.

__ADS_1


"Nang-Nang bobok sama kita dulu aja, Sayang," kata Satria.


"Iya, Mas."


Akhirnya Nakula dan Sadewa tidak tidur di dalam box bayi, tapi satu ranjang dengan Mama dan Papanya. Satria mengambilkan istrinya air minum dulu dan memberikan salep untuk istrinya.


"Mau aku bantu pakein?" tanyanya.


"Enggak ..., aku bisa sendiri kok," balas Indi.


Mengoleskan salep di bagian sumber ASInya yang lecet, setelah itu, Indi berbaring di samping Nakula. Satria juga berbaring di ranjang, dekat dengan Sadewa.


"Udah bobok dulu Sayang ... semoga demamnya turun. Besok kita bawa Nang-Nang ke Dokter Spesialis Anak yah," balas Satria.


"Iya, Mas. Semoga saja bukan sesuatu yang serius," balas Indi.


"Segera sembuh yah, Nang-Nang ... kasihan Mama kecapekan dan lecet loh. Papa doakan kalian segera sehat yah," kata Satria.


Usai itu, Satria pun turut tertidur dan berharap kedua anaknya tidak lagi demam. Tentunya juga Indi juga segera membaik, lecet di puncak dadanya juga bisa segera sembuh. Malam itu pun, Indi hanya bisa tidur ayam. Sering terbangun untuk mengecek suhu badan Nakula dan Sadewa. Lantaran tidur ayam, pagi harinya Indi merasa sedikit pusing pagi harinya.


"Kamu istirahat saja, Sayang," kata Satria pagi itu.


"Mas Satria enggak kerja?" tanya Indi.


"Aku cuti kok, sudah menelpon Eyang pagi tadi. Aku bantuin kamu menjaga Nakula dan Sadewa dulu, soalnya Nang-Nang juga belum sehat," balas Satria.


Akhirnya pagi itu juga Satria dan Indi mengajak Nakula dan Sadewa ke Rumah Sakit terlebih dahulu. Memeriksakan kedua putra kembarnya ke Dokter Spesialis Anak. Setelah dibawa ke Rumah Sakit rupanya memang bukan karena hal serius. Namun, Nakula dan Sadewa sedang tumbuh gigi lagi. Bukan hanya satu, tapi ada dua gigi yang tumbuh. Pertumbuhan gigi pada anak-anak memang sangat bisa memicu terjadinya demam.


"Syukurlah, aku pikir sakit serius. Cuacanya baru jelek banget. Kalau siang panas, tapi kalau malam anginnya kenceng," kata Indi.

__ADS_1


"Benar, Sayang. Setidaknya sudah tahu demamnya Nakula dan Sadewa itu karena tumbuh gigi," balas Satria.


"Semoga giginya segera tumbuh dan demamnya reda yah, Mas. Kasihan lihat mereka berdua sakit. Pantas saja, beberapa hari ini air liurnya lebih banyak, ternyata karena tumbuh gigi. Giginya segera lengkap, terus ngobrol dan cerita-cerita sama Mama dan Papa yah Nang-Nangku," kata Indi.


"Siap Mama," balas Satria.


Begitu sudah kembali ke rumah, Nakula dan Sadewa yang usai meminum obat akhirnya tertidur. "Kamu istirahat juga, Yang. Jangan capek-capek, mengurus anak dua yang sedang sakit itu tidak mudah," kata Satria.


Begitu pengertiannya Satria yang tahu bahwa masa-masa terberat seorang ibu adalah saat anaknya sakit. Oleh karena itu, Satria meminta istrinya untuk beristirahat.


"Aku mau bikin mie, Mas. Aku lapar," kata Indi yang memang sejak pagi sampai belum sempat sarapan.


"Kamu di sini aja, aku yang dibikinin. Yang Ayam Bawang?" tanya Satria.


"Iya, dikasih cabe dua yah, Mas."


Akhirnya, Satria yang rela turun ke dapur. Dia membuatkan mie instan yang diinginkan istrinya itu. Bahkan Satria menambahkan satu telor di sana.


"Makan dulu, Yang," kata Satria dengan membawa semangkuk mie dengan rasa Ayam Bawang itu ke kamar.


"Makasih, Mas. Ngerepotin kamu malahan," balas Indi.


"Gak repot sama sekali, Sayang. Bahagia bisa berbagi peran dalam rumah tangga. Ini namanya kolaborasi, Yang. Harus dilakukan suami dan istri," kata Satria.


"Beruntungnya aku punya suami yang baik banget," balas Indi.


"Aku juga beruntung, Sayang. Dimakan dulu mumpung masih panas."


Memang dalam berumahtangga ada beberapa masalah yang terjadi tiba-tiba. Seperti yang dihadapi Satria dan Indi, mendadak anak sakit. Namun, inilah pentingnya kolaborasi, kerja sama antara suami dan istri. Tidak ada yang berat jika dikerjakan bersama-sama. 💕

__ADS_1


__ADS_2