
Kurang lebih tiga hari kemudian, menjelang pergantian tengah malam, Indi sengaja membangunkan suaminya. Dia usap perlahan lengan suaminya itu. Dengan suara yang lirih, Indi memanggil nama sangat suami.
"Mas, Mas Satria ... bangun dulu," kata Indi.
Untung Satria mendengar. Pria itu mengerjap perlahan dan mulai membuka kelopak matanya. Rupanya istrinya sudah duduk di sisinya. Lantas, Satria mengucek kedua matanya sesaat dan menatap Indi dengan satu tangan terulur menyentuh sisi wajah istrinya itu.
"Hm, kenapa? Mau ke toilet?" tanya Satria.
Biasanya Indi memang memiliki kebiasaan ketika hendak ke toilet di tengah malam, dia akan membangunkan suaminya terlebih dahulu. Oleh karena itu, Satria juga menduga bahwa istrinya itu ingin ke toilet. Rupanya Indi sekarang justru menggelengkan kepalanya.
"Enggak kok," jawabnya.
"Hm, lalu kenapa? Gak bisa tidur karena tadi aku mendengkur yah?" tanya Satria lagi.
Ada gelengan kepala lagi dari Indi. Bukan karena alasan itulah Indi terbangun. Melainkan ada sesuatu yang spesial untuk Satria.
"Mas Satria enggak ingat?" tanya Indi.
Satria memikirkan apa yang dia lupakan. Berusaha berpikir untuk menemukan jawaban. Akhirnya, Satria menggelengkan kepalanya. "Ada apa sih, Sayang?"
Merasa bahwa suaminya benar-benar tidak ingat, Indi tersenyum. Wanita itu sedikit menunduk dan mengecup pipi suaminya di kanan dan kiri. Lantas, dia berkata.
"Selamat bertambah usia suamiku. Semakin bijaksana dan dewasa. Menjadi suami terbaik dan Papa terhebat untuk anak-anak kita. I Love U."
Seketika Satria tersenyum. Rupanya istrinya itu membangunkannya karena ingin mengucapkan selamat ulang tahun untuknya. Satria mengubah posisinya, tanpa banyak bicara Satria memeluk tubuh istrinya itu.
"Makasih Sayang. Aku sampai tidak ingat dengan hari kelahiranku. Terima kasih, Istriku," kata Satria dibarengi dengan mengecup kening istrinya.
Misi Indi pun berhasil. Dia ingin menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun untuk suami. Akhirnya, berhasil juga. Sudah menjadi kebiasaan Indi sejak berpacaran dengan Satria, dia selalu ingin menjadi yang pertama mengucapkan ketika Satria berulang tahun.
"Jadi, kamu sengaja membangunkan aku karena ini?" tanya Satria.
__ADS_1
Indi kemudian mengangguk perlahan. "Ya, karena ini. Seperti biasa, aku ingin jadi orang pertama yang mengucapkannya," balas Indi.
"Makasih banyak yah, Sayang."
"Ya sudah, ayo bobok lagi," ajak Indi.
Satria tersenyum. "Yakin, membangunkan aku cuma untuk ini? Aku mau kado, seperti tahun biasanya. Boleh?"
Giliran Indi yang tersenyum. Di setiap tahun yang ada ketika Indi mengucapkan selamat ulang tahun, yang ada justru berakhir dengan berbagi cinta dan mereguk manisnya nektar asmara. Selalu seperti itu, apakah tahun ini pun sama?
Tidak perlu mendapatkan jawaban verbal dari Indi. Satria mulai mengurai pelukannya. Lantas dia labuhkan bibirnya tepat di antara kedua belah lipatan bibir istrinya. Dia kecup perlahan. Satria sudah memejamkan matanya, dia yakin kali ini istrinya tidak akan menolak. Selain itu, Satria tahu istrinya juga tidak dalam periode palang merah. Sehingga, pastilah Indi akan memberikan akses penuh kepadanya. Benar, prediksi Satria. Kecupannya berbalas. Dua bibir sudah saling bertaut. Saling mencecap rasa manis yang seketika memenuhi indera perasa mereka. Dalam kesan yang hangat dan basah, keduanya tak segan untuk saling berbagi saliva.
Malam pertambahan usia bagi Satria sejak menikah dengan Indi selalu indah. Tanpa kue ulang tahun atau meniup lilin, tapi gelora cinta yang mereka bangun membuat Satria merasa penuh. Kebahagiaan itu menyeruak. Sama seperti sekarang, Satria mulai menenglengkan wajahnya, dia semakin memperdalam ciuman dan pagutannya. Tak dipungkiri bahkan Satria sudah menaiki sekarang hasratnya. Ada tekanan dalam setiap pagutan bibirnya. Ada hasrat yang ingin dia sampaikan.
Disertai dengan usapan dan belaian tangan di lekuk-lekuk feminitas sang istri, Satria tak sabar untuk mengungkung istrinya itu di bawahnya. Namun, seperti biasanya Satria akan melakukan semuanya secara bertahap. Hingga akhirnya, Satria menidurkan Indi dan dia menarik ke atas kaos yang dikenakan oleh istrinya itu. Senyuman terbit melihat wadah berenda dengan warna hitam di sana.
"Buat aku yah," kata Satria dengan suaranya yang parau.
Sebagai pria Satria suka sekali dengan istrinya yang kadang-kadang nakal itu. Tak ada yang Satria tunggu. Atmosfer semakin panas. Satria mulai memeluk istrinya, tak sekadar memeluk tapi ada usapan dari ujung lidahnya di sepanjang garis leher istrinya. Walau Indi memekik dan melenguh beberapa kali karenanya, Satria justru sangat menyukainya.
"Mas ... hh!"
"Ya, Cintaku. Jangan ditahan!"
Satria kian menurunkan wajahnya dia hisapi bulatan indah istrinya dengan mempermainkan puncaknya dengan lidahnya. Indi tak bisa menahan diri. Mata terpejam, tangan mengusap perlahan helai demi helai rambut suaminya. Bahkan, Indi justru membenamkan wajah suaminya di dadanya. Indah. Rasanya saja bak ribuan volt membuat tubuh Indi bergetar dan meremang.
Satria benar-benar tahu titik sensitivitas di tubuh istrinya. Sehingga semua titik tak ada yang dia lewatkan. Walau Indi melenguh beberapa kali, Satria malahan kian bersemangat. Sebelum, Satria melakukan yang lain. Indi justru mengambil alih kendali. Ya, dia ingin memberikan yang terbaik untuk suaminya. Dia sapa pusaka di bawah sana dalam kesan hangat dan basah. Rongga mulut Indi benar-benar membenamkan sang pusaka itu dalam gerakan keluar dan masuk. Sensasinya dahsyat.
Satria memejamkan matanya, merasakan nikmat yang membuat darahnya berdesir. Urusan memuaskan suami, istrinya itu selalu nomor satu. Bahkan Indi terkesan tak terburu-buru. Dia ingin Satria santai dan rileks. Namun, Satria sendiri bukan pria egois, dia tak ingin istrinya yang kecapekan memuaskan dirinya. Benar-benar tanpa kata, Satria mengambil alih kendali.
Mulailah Satria menginvansi lembah di bawah sana. Ujung lidahnya mengusap dalam kesan basah, menusuk dalam godaan yang benar-benar menjerat Indi. Luar biasa rasanya. Indi meracau setiap kali suaminya membuatnya porak-poranda. Hingga akhirnya, Satria mulai mengungkung istrinya itu, dengan penyatuan yang sempurna.
__ADS_1
Ya, sang pusaka terbenam sepenuhnya di dalam cawan sorgawi yang hangat dan basah itu. Cengkeram otot-otot di dalam sana membuat Satria menggila. Dia memacu.
"Hh, Mas ... sedikit pelan saja. Slow down," pinta Indi lirih dengan terengah-engah.
Satria menganggukkan kepalanya. "Baik, Sayang. Nikmatnya ...."
Dengan gerakan maju dan mundur, menghujam dan menusuk, Satria berusaha menciptakan ritme yang lembut. Akan tetapi, ritme yang lembut saja membuat Indi memekik berkali-kali. Terlebih ketika suaminya mengombinasikannya dengan gigitan dan hisapan di puncak bulatan indahnya. Kesadaran diri kedua bak uji kimiawi. Ketika Natrium bercampur dengan air, keduanya benar-benar tersulut, terbakar habis di sana.
Pacuan kian dalam. Hasrat menggelora. Hingga Satria sudah tak mampu lagi bertahan. Dalam hitungan detik, Satria meledak dan pecah. Darahnya berdesir, hingga untuk beberapa saat, Satria merasakan fungsi pendengaran hilang.
"I Love U, Sayang ... I Love U!"
Satria menyegel semua tindakannya dengan pengakuan cinta. Bukan sekadar emosi dan menyalurkan hasrat. Namun, semua didasari atas nama cinta.
"I Love U, too Mas Satria."
Menetralkan napas keduanya yang masih terengah-engah. Tangan Indi kemudian meraih benda pipih kecil yang dia simpan di dalam laci nakas. Lalu, dia memberikan benda itu kepada suaminya.
"I have a surprise for you."
Satria benar-benar tak menyangka dengan surprise yang dimaksudkan oleh istrinya. Namun, Satria tersenyum dan berurai air mata. Kejutan yang indah. Kado yang super-super indah untuk Satria.
"Serius, Sayang?" tanya Satria.
Indi menganggukkan kepalanya sembari dia masuk ke dalam pelukan suaminya. Dengan tubuh polos yang hanya tercover selimut saja.
"Ya, ada baby di dalam sini. Makanya tadi aku meminta supaya pelan-pelan. Baby lagi. Adik untuk Nakula dan Sadewa," kata Indi.
"Ya Tuhan, kejutan darimu benar-benar bertubi-tubi malam ini. Makasih, Istriku. I Love U. Aku bahagia banget."
Ya, Satria sangat bahagia. Malam pertambahan usia yang sangat istimewa untuknya. Terlebih dengan kado terindah yang Indi berikan kian membuat Satria begitu bahagia.
__ADS_1