Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Jawaban yang Tepat


__ADS_3

Masih memegang testpack di tangannya Satria tersenyum sendiri. Benar-benar tidak menyangka bahwa hadiah yang diberikan istrinya doubel. Bukan hanya membuat bahagia, nikmat, tapi tentunya juga penuh haru.


"Hm, jadi firasatku kok sakitku kayak orang hamil benar dong, Sayang?" tanya Satria lirih.


Indi kemudian tertawa perlahan dan menganggukkan kepalanya. "Iya, Mas kena kehamilan simpatik. Bakalan lama kayaknya, Mas. Bisa di trimester pertama. Namun, sebaiknya tetap periksa supaya dapat obat pereda mual," balas Indi.


Satria menganggukkan kepalanya. Firasatnya sudah mendapatkan jawaban yang tepat. Jadi ini bukan hanya masuk angin, tapi adalah kehamilan simpatik.


"Baiklah, Sayang. Jadi kamu periksa kapan? Kita memberitahu kedua orang tua kita setelah kamu periksa saja, Sayang. Biar pasti hitungannya sudah berapa minggu. Selain itu, kantung janinnya berkembang bukan Bligthed Ovum," balas Satria.


Indi menganggukkan kepalanya. Apa yang dikatakan oleh suaminya benar adanya. Setidaknya sudah mengetahui berapa minggu usia kehamilannya dan juga tahu bahwa janin di dalam kantung janin benar-benar berkembang. Setelah semuanya fixed, barulah memberitahu kepada kedua keluarga besar yaitu keluarga Hadinata dan keluarga Negara.


"Iya, Mas. Aku ngikut Mas Satria aja. Yang penting nanti kita periksakan. Biar segera mendapatkan vitamin dan obat lainnya untuk babynya," balas Indi.


"Itu benar juga, Sayang. Walau kehamilan kedua, tetap saja harus dijaga."


"Sini, Mas. Testpacknya biar aku simpan lagi. Masak sejak tadi dipegangi terus," balas Indi.


Satria tersenyum. Jujur saja kejutan ini rasanya membuatnya bahagia. Seingatnya Indi juga tak pernah jauh-jauh darinya, tapi Indi bisa melakukan test sendiri tanpa diketahui olehnya. Bukankah itu ajaib?


"Aku aja yang simpan. Buat kenang kenangan kado ulang tahunku. Seneng banget, dapat hadiah indah banget dari kamu. Selamanya aku gak akan lupa," balas Satria.


Bagi Satria hadiah yang istrinya berikan tahun ini benar-benar istimewa. Bukan sekadar peraduan di ranjang yang benar-benar beratmosfer hangat, tapi juga dengan kejutan bahwa dia akan memiliki buah hati lagi. Walau tanpa perencanaan, tapi Satria dan Indi sudah siap untuk menambah momongan.


"Mas Satria ikhlas enggak kalau mengalami Couvade Sindrom itu? Aku baca-baca katanya bisa sampai Trimester pertama kehamilan loh, Mas," kata Indi.

__ADS_1


Satria menghela napas panjang. Kalau mau jujur mual dan muntah setiap pagi itu memang tidak nyaman. Akan tetapi, Satria akhirnya menganggukkan kepalanya. "Oke, aku ikhlas Sayang ... penting sih kamunya sehat. Babynya di dalam sini juga sehat. Ini baby made in mana yah?" tanya Satria dengan terkekeh geli.


"Made in Jogja mungkin. Seistimewa Jogjakarta," balas Indi dengan terkekeh dalam tawa.


"Kalau enggak ya Made in Solo, pas kita ke rumah Rama dan Ibu itu, Yang."


"Harusnya Made in Amsterdam kok, Mas. Jadi, sapa tahu ada wajahnya yang Eropa dikit-dikit," balas Indi dengan bercanda.


Satria juga tertawa. Sudah tengah malam, tapi mata keduanya enggan terpejam. Menjeda aktivitasnya, akhirnya Satria dan Indi memilih untuk mandi terlebih dahulu. Semalam atau sedini hari apa pun mereka bercinta, tetap saja mereka akan membersihkan diri dengan mandi bersama. Sekarang juga waktu tidur malam Nakula dan Sadewa lebih nyenyak, sehingga terkadang rasanya banyak waktu untuk Indi dan Satria untuk membangun waktu berkualitas bersama.


"Dingin enggak, Sayang?" tanya Satria ketika Indi sedang mengeringkan rambutnya.


"Enggak kok, Mas. Kan tadi juga mandi memakai air hangat. Badannya Mas gimana? Sakit atau ngerasa mual enggak?" tanya Indi.


Indi tersenyum lagi. Walau sudah menikah cukup lama, tapi ketika suaminya berbicara manis seperti itu, rasanya Indi malu juga. Walau di dalam hati juga suka mendengar ucapan suaminya.


"Firasatku kemarin berarti enggak salah, Sayang. Di mataku, kamu ini makin cantik. Jangan-jangan babynya cewek ini," kata Satria.


"Cewek atau cowok kita terima saja yah, Mas. Jangan terlalu berharap. Nanti kalau kita mengharapkan cewek, tapi Allah memberikan cowok lagi, ujung-ujungnya bisa kecewa. Jadi, sedikasihnya Allah saja," balas Indi.


Dengan cepat Satria menganggukkan kepalanya. Benar apa yang dikatakan istrinya. Urusan buah hati, manusia hanya berusaha, berikhtiar saja. Sementara jenis kelamin itu adalah pemberian dari Allah. Kecuali dengan proses Bayi tabung, di mana sel pria dan sel ovum akan dipertemukan di luar sehingga bisa inkubasi embrio terlebih dahulu dan tinggal memilih embrio mana yang akan ditanam di dalam rahim. Sehingga kedua pasangan sudah pasti tahu gender reveal dari bayinya.


"Iya, Sayang. Sedikasihnya Allah saja. Cewek Alhamdulillah ... kalau cowok lagi ya Alhamdulillah. Tidak apa-apa," balas Satria.


Satria memang mengatakan demikian, tapi di matanya kali ini aura istrinya itu lebih memancar. Terlihat begitu ayu saja istrinya itu. Membuat Satria seolah menjadi tambah bucin dengan istrinya.

__ADS_1


"Benar, Mas. Begitu saja. Apa pun itu kan dia adalah anak kita. Buah cinta kita berdua, adiknya Nakula dan Sadewa," balas Indi.


"Setuju ... nanti orang tua kita pasti seneng banget kalau memiliki cucu lagi. Rama, Ibu, Bunda, dan Ayah pasti seneng. Soalnya mereka sudah menunggu-nunggu," kata Satria.


"Papa Satria seneng enggak?"


"Seneng ... seneng banget. Aku juga seneng. Sebab, memang pengennya aku punya banyak anak. Rumah kita ini biar rame, Sayang. Nanti kalau Nakula dan Sadewa sudah semakin besar dan misal ingin kuliah ke luar kota, masih ada anak yang lain di rumah. Jadi, kita gak kesepian," balas Satria.


Mungkin Satria berbicara seperti itu karena melihat Bunda Ervita dan Ayah Pandu yang sekarang merasa kesepian. Terlebih ketika Irene sudah bekerja di luar kota. Jika masih ada anak yang berada di rumah, suasana di dalam rumah rasanya juga tidak begitu sepi.


"Kayak Ayah dan Nda sekarang yah, Mas?" tanya Indi.


"Walau Ayah dan Bunda tidak berbicara banyak, ada saat-saat di mana keduanya merasa rumah menjadi sepi, Sayang. Mungkin nanti kalau Ayah dan Bunda bercerita, anaknya yang menjadi kepikiran. Mengingat hubungan Ayah dan Bunda yang sangat kuat, aku yakin bahwa banyak yang mereka sharingkan bersama, tanpa harus mengungkapkannya kepada kamu atau Irene," balas Satria.


Indi merasa apa yang dikatakan oleh suaminya itu benar adanya. Ada yang dikatakan oleh Ayah dan Bundanya, semata-mata supaya Indi atau Irene tidak terlalu kepikiran. Sebab, setiap pasangan memiliki ruang privasi tersembunyi, sebuah ruangan yang hanya bisa dimasuki oleh keduanya saja.


"Benar sih, Mas. Aku juga merasanya begitu."


"Sudah, jangan kepikiran. Besok kita ke Dokter yah?" ajak Satria kemudian.


"Ha, besok?" tanya Indi.


"Iya, biar tahu sudah berapa week, selain itu biar tahu kondisi debaynya," balas Satria.


Indi tertawa dan geleng-geleng kepala sendiri. Kalau Indi sedang hamil, selalu Satria yang bersemangat untuk mengajaknya ke Dokter Kandungan. Selalu ingin tahu bagaimana kondisinya dan juga janin sekarang ada di dalam rahimnya.

__ADS_1


__ADS_2