Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Tetap Menjaga Hati


__ADS_3

Karina, wanita cantik itu mendekat ke Satria dan memeluk pria tampan itu. Akan tetapi, kedua tangan Satria luruh. Sama sekali tidak membalas pelukan Karina. Justru sorot mata Satria sepenuhnya hanya terarah kepada Indi saja.


"Wah, kebetulan kamu datang, Satria. Karina juga sudah tiba. Sekalian Rama membuat pengumuman bahwa Karina akan menjadi calon tunanganmu," kata Rama Bima.


Ucapan sang Rama terasa seperti disengaja. Terlebih di sana ada Indi. Supaya Indi mendengar dan melihat sendiri wanita seperti apa yang cocok untuk Satria.


"..., tapi Rama," balas Satria.


"Kenapa, Sat? Aku bersedia kok. Aku bahkan terbang dari Holland ke Jogjakarta untuk menemui kamu. Lagipula, aku pasti mau dipersunting putra Ningrat seperti kamu," balas Karina.


Jika secara manusiawi siapa juga yang akan menolak Satria. Pria itu tampan, pintar, dan putra tunggal Bima Negara yang memiliki PT Sido Mulya. Sementara sebagai putra Miliarder pastilah seluruh harta kekayaan Rama nya akan jatuh kepadanya.


"Satria tidak mau, Rama," balas Satria sekarang.


Setidaknya Satria berbicara jujur tentang perasaannya. Toh, dia sama sekali tidak menyukai Karina. Walau Karina bukan orang asing baginya. Satria sudah mengenal Karina sejak kecil. Kedua orang tuanya sudah saling mengenal sejak lama.


"Why, Sat? Apa yang kurang dari aku ini?" tanya Karina.


Gadis tampak mempertanyakan kenapa Satria sampai menolaknya. Padahal selama ini, Karina juga tidak menolak andai saja dijodohkan dengan teman sejak kecilnya itu. Justru Karina senang bisa dipinang keluarga yang sejajar dengannya. Sama-sama dari kalangan bangsawan.


"Apa yang kurang dari Karina, Sat? Lihatlah, dia cantik, modern, lulusan Leiden Belanda, dan dia setara dengan kita. Kurang apa lagi coba?" tanya Rama Bima.


Kini, Satria dengan mantap menggelengkan kepalanya. "Bukan kurangnya Karina, tapi hati Satria tidak menginginkan dia," balas Satria.


Karina semakin bingung jadinya. Apa yang membuat Satria bersikap begitu dingin kepadanya. Padahal dulu Satria adalah teman kecilnya yang baik dan lucu. Sekarang, Satria terang-terangan menolaknya.


"Sudah kamu silakan pergi saja, Sat ... Rama kan bukankah sudah bilang bahwa kamu tidak diperkenankan ikut campur projek ini?"

__ADS_1


Memang beberapa hari sebelumnya Rama Bima sudah berbicara dengan Satria bahwa dalam projek ini Satria tidak akan dilibatkan. Sebagai gantinya, Karina yang baru saja datang dari Leiden, Belanda yang akan bertanggung jawab untuk projek ini. Yang dilakukan Rama Bima tentu untuk memutuskan benang cinta antara Satria dengan Indi. Semakin sering bertemu, justru akan membuat ikatan di antara keduanya semakin kuat. Lebih dari itu, tanpa sepengetahuan Satria, Rama Bima juga ingin menjodohkan Satria dengan Karina. Sudah hal yang lazim di kalangan bangsawan menjodohkan putra dan putri mereka.


"Loh, kenapa Rama kok Satria tidak dilibatkan?" tanya Karina.


"Tidak apa-apa, Satria akan bertanggung jawab untuk hal yang lebih besar," balas Rama Bima.


Indi yang sejak tadi tertunduk, agaknya sudah tahu arah skenario ini. Memang sengaja bukan Satria yang ditugaskan. Ada saja cara yang dicari. Akan tetapi, biarkan saja. Urusan Indi di sini adalah untuk bekerja, bukan mencari Satria.


"Padahal Karin gak keberatan kalau Satria ikutan," balas Karina.


"Tidak bisa, Karin ... ada hal lain yang perlu dikerjakan Satria. Baiklah, silakan dilanjutkan bekerjanya. Maaf waktu kalian tersita karena semua ini."


Usai itu, Indi berkomunikasi dengan staf yang di sana. Dia memetakan bagian mana yang harus didesain dan dikerjakan terlebih dahulu. Akhirnya disepakati bahwa dikerjakan dari belakang ke depan. Dengan demikian, tidak akan berdebu. Display di ruangan depan pun bisa tetap bagus karena tidak terkena beberapa material yang nanti akan didatangkan.


"Maaf nih, saya manggilnya apa ya enaknya. Masih muda banget ternyata desainernya," kata Jaya kepada Indi sekarang.


"Panggil nama tidak apa-apa. Santai saja," balas Indi.


"Kalau itu pasti sih, Mas. Kan saya lihat bangunannya dulu. Desain kan disesuaikan dengan model bangunannya," jawab Indi.


"Oh, iya ... benar-benar, Mbak. Supaya tahu realitanya seperti apa. Melihat penempatan dan sebagainya," balas Jaya.


Indi mengangguk perlahan. Memang itu yang dia lakukan sekarang. Seorang desainer interior juga membuat skala pengukuran juga. Tidak boleh asal saat memperindah ruangan atau bangunan.


"Wah, pinter nih desainernya. Seneng kalau kerja sama dengan orang pinter," balas Jaya.


Hingga akhirnya Indi dan Jaya sama-sama tersenyum. Namun, obrolan dan senyuman keduanya terlihat oleh Satria. Sehingga Satria menginterupsi keduanya.

__ADS_1


"Ehem, permisi ... boleh mengganggu sebentar," kata Satria.


Didatangi putra pimpinan, membuat Jaya ciut nyali. Pemuda itu pun undur diri. Jaya tahu pasti Pak Satria ingin berbicara dengan Desainernya.


"Dik," sapa Satria perlahan ketika Jaya sudah pergi meninggalkan mereka.


"Ya, Mas ... ada apa?" tanya Indi.


"Kamu ingat janji kita kan? Bagaimana pun, aku akan berjuang. Juga, kumohon jangan dekat dengan pria mana pun, termasuk Jaya. Jangan senyam-senyum seperti itu," kata Satria terdengar begitu posesif.


"Kamu bahkan tadi dipeluk Mbak Karina," balas Indi dengan menghela napas yang terasa begitu berat.


"Aku tidak membalasnya. Tolong, Dik ... kita sama-sama menjaga hati. Tenang saja, aku akan menolak. Aku tidak mau dijodohkan dengan siapa pun," kata Satria sekarang.


"Tidak usah memberikan janji, Mas. Terkadang janji juga tidak berarti apa pun," balas Indi.


Satria sekarang menganggukkan kepalanya. Dia sangat tahu bahwa Indi menginginkan bukti nyata. Kalau memang harus memberi bukti, Satria berharap Indi bisa bersabar dan nanti bukti itu akan dia wujud nyatakan.


"Pasti. Maaf, impian kita untuk bekerja bersama dan sering bertemu sirna. Maafkan aku, tapi aku usahakan sering ke sini," kata Satria.


"Iya, tidak apa-apa," balas Indi.


Satria menghela napas. Sesak dadanya. Gadis yang dia cintai ada di hadapannya, tapi menggapainya saja rasanya begitu sukar.


"Aku pamit yah, Dik. Selalu kabarin aku. Please, jaga hatimu untukku," pintar Satria.


"Mas Satria bisa menjaga hati juga?" tanya Indi.

__ADS_1


Dengan cepat Satria menganggukkan kepalanya. "Tentu, pasti. Jangan khawatir. Hanya kamu, Dik."


Benar-benar tidak enak rasanya. Namun, bagaimana pagi. Keduanya hanya bisa menjaga hati. Dengan terus menyemai harapan semesta akan menyatukan keduanya.


__ADS_2