
Malam harinya di Jogjakarta rasanya suhu udara kali ini begitu dingin. Satria bahkan membaca di media sosial, di daerah Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah saja suhu udara turun hingga -5°C sehingga membuat wilayah di sana diselimuti es batu. Terlebih di kawasan Kompleks Candi Arjuna, Dieng yang berkabut dan suhu begitu dingin di sana.
"Malam ini lebih dingin dari biasanya ya, Sayang," kata Satria kepada istrinya itu.
"Iya, lebih dingin, Mas. Anginnya juga kenceng," balas Adista.
Usai itu Satria menunjukkan kompleks Candi Arjuna yang berada di Dataran Tinggi Dieng kepada istrinya. "Lihat, Sayang ... di Dieng saja suhu udaranya turun hingga -5°C. Sampai membeku loh di sana. Beberapa permukaannya sampai ada es-nya."
"Seriusan, Mas?" tanya Indi.
"Iya, dingin banget di sana. Cuma memang belum bersalju aja," balas Satria.
Indi kemudian mengangguk. Sekarang saja di Jogjakarta kalau malam sudah terasa dingin. Tak bisa membayangkan kalau mencoba berada di suhu yang sampai minus.
"Kalau di sana gak kebayang dinginnya, Mas," balas Indi.
"Gak usah dibayangin, Yang. Pastinya aku akan selalu memeluk kamu kok."
Jawaban yang diberikan Satria seketika membuat Indi tersenyum. Manisnya suaminya itu kala memberikan jawaban. Indi merasa berbunga-bunga karenanya. Tidak dipungkiri terkadang ucapan yang manis seperti ini membuat Indi sangat bahagia.
"Kalau Mas Satria bicaranya kayak gini sih biasanya modus," balas Indi.
Satria seketika tertawa. Sebab, Indi sangat mengerti dirinya. Belum juga Satria memulai, tapi Indi sudah bisa mengetahui bahwa suaminya itu memang hendak modus dengan istrinya.
"Yah, ketahuan. Padahal baru ngajak pacaran," balas Satria.
"Kalau pacaran gak boleh kayak gini dong, MasE."
"Bolehnya cium punggung tangan aja yah? Officially, aku berani cium bibir kamu aja setelah menikah. Gak berani macam-macam," balas Satria.
__ADS_1
Indi kemudian menganggukkan kepalanya. "Itu malahan bagus, Mas. Pacaran itu kan menjaga. Harus ada batasannya dengan menikah. Bagiku loh yah, mungkin aku terkesan kolot atau kaku. Akan tetapi, aku memang berkomitmen menjadikan suamiku sebagai pemilik diriku secara utuh dan penuh," kata Indi.
Satria menganggukkan kepalanya. Justru dia merasa senang sekali dengan komitmen yang dimiliki Indi. Itu berarti memang Indi adalah gadis baik-baik yang bisa menjaga dirinya. Memberikan kehormatannya untuk suaminya, sebagai pasangan yang halal dalam bingkai pernikahan.
"Justru bagus, Sayang. Ketika zaman semakin bergerak ke post modern dan kesucian seorang gadis sering dinilai relatif. Aku bersyukur banget menjadi yang pertama dan satu-satunya untuk kamu. Berkah pertama pernikahan kita," balas Satria.
Indi tersenyum. Kali ini dia tidak merespons apa pun. Akan tetapi, sesaat kemudian Indi mengedikkan bahunya mana kala Satria mengecup sisi lehernya. Geli rasanya.
"Mas," kata Indi perlahan.
"Mumpung Nang-Nang sedang tidur dan malam ini begitu dingin," balas Satria lagi.
Indi lagi-lagi tersenyum. Dari ucapan dan tindakan suaminya sudah jelas bahwa suaminya itu sedang mencoba untuk mereka bermuara bersama menyusuri perjalanan dari hulu menuju ke hilir. Lagipula, kalau memang tidak berhalangan juga Indi tidak pernah menolak suaminya.
Satria mulai membuat istrinya itu berhadap-hadapan dengannya. Seolah tidak ingin lagi menunggu, Satria mulai mendaratkan bibirnya di bibir istrinya. Memberikan kecupan demi kecupan kecil di sana. Dua mata masih saling beradu dengan binar yang hangat. Hingga akhirnya, ada tarikan napas panjang yang Satria lakukan, kedua kelopak mata pria itu meredup lantas dia pagut perlahan bibir istrinya.
Dada berdebar-debar dengan jantung yang berpacu melebihi ambang batasnya. Sementara ketika bibir bertemu dengan bibir, rasa yang menyapa adalah kehangatan. Satria sekarang tak akan ragu lagi. Dia mulai memagut dan mengusap lipatan bibir istrinya. Saling menyapa dalam kesan hangat. Saling mengusap dalam jejak basah. Ini memang bukan yang pertama, tapi Indi selalu berdebar-debar ketika Satria mencium dan menyentuhnya seperti ini.
Tak sampai di sana, tangan Satria pun mulai membelai lekuk-lekuk feminitas di tubuh istrinya. Terlebih sekarang Indi sudah mendapatkan kembali berat badan idealnya, Satria rasanya kian mabuk kepayang saja dengan istrinya itu.
Satria mulai melepaskan kancing demi kancing di piyama yang ada di piyama istrinya. Wajah Satria kian turun dan memberikan jejak-jejak basah di tulang belikat hingga ke tulang selangka istrinya. Indi mendesis karenanya.
"Sssshhhs, Mas Satria ...."
Indi benar-benar limbung sekarang. Suhu tubuhnya saja meningkat dengan sendirinya. Selain itu, tangan Satria pun bergerak semakin nakal. Bahkan membuat Indi terengah-engah karenanya. Ketika Indi hendak berinisiatif seperti biasanya, Satria menolak. Dia seakan ingin memegang kendali penuh malam ini.
Pengait besi yang ada di balik punggung istrinya dia lepaskan, lantas Satria jatuhkan kecupan-kecupan demi kecupan di bulatan indah istrinya. Kali ini tidak ada area yang Satria hindari. Puncak bulatan indah itu pun tak terhindar dari usapan, hisapan, dan gigitan Satria. Seketika Indi meremang. Indah sekali ketika suaminya membuainya. Terlebih sudah begitu lama puncak bulatan indah miliknya tak terjamah suaminya. Sekarang dengan usapan lidah suaminya saja menghadirkan sejuta sensasi untuk Indi.
Kedua matanya kian terpejam dengan tangan yang meremas helai demi helai rambut suaminya. Reaksi yang Indi tunjukkan justru seakan dia ingin membenamkan wajah suaminya itu di sana. Oh, sangat indah.
__ADS_1
Satria sangat tahu, istrinya benar-benar menikmati apa yang sekarang tengah dia lakukan. Sekarang, Satria tak ingin terburu-buru. Memuaskan istrinya tentu saja akan dia lakukan step by step. Terlepas sejenak dari bulatan indah istrinya dengan puncaknya yang menegang, lantas Satria bergerak turun. Dia sapa cawan surgawi di bawah sana dengan lidahnya. Bagian terdalam dan sukar terjangkau pun, bisa Satria sapa dan usap perlahan dalam kesan basah.
"Mas ... Satria ... hh, iya ... astaga!"
Indi meracau dengan geliat meliuk dari tubuhnya. Mata terpejam rapat, dengan napas terengah-engah. Sungguh luar biasa rasanya. Namun, Satria seolah tak memberikan ampun, dia terus melakukan invansi dan menunjukkan bahwa dia mengetahui titik-titik sensitivitas di tubuh istrinya. Titik-titik yang ketika dia telusuri membuat istrinya terbakar.
Usai itu, barulah Satria meloloskan sendiri busana yang dia kenakan. Dia memberikan instruksi kecil kepada istrinya.
"Basahi saja, Sayang," katanya.
Akan tetapi, Indi melakukan lebih. Dia sapa dan kesan hangat dan basah pusaka suaminya. Satria pun menengadahkan wajahnya, menikmati kehangatan yang membaluri pusakanya. Sensasinya selalu luar biasa. Di dalam benak Satria, istrinya selalu saja pintar dan selalu bisa membuatnya laksana menghisap bubuk candu.
"Nikmat ... kamu pinter ... Sayang!"
Pujian itu meluncur dari bibir Satria. Sebab, hanya istrinya saja yang bisa menyentuhnya dan membuat Satria berhasil menggapai Swargaloka. Hingga akhirnya, Satria meminta istrinya untuk menyudahi aksinya. Dia mulai merapatkan dirinya perlahan, memberikan tusukan berpadu dengan hentakan. Kehangatan dan rasa penuh seketika keduanya rasakan.
Indi meracau hingga kadang kala wanita itu menggigit bibir bagian dalamnya sendiri. Penuh dan padu. Hangat dan erat. Sekarang tidak ada lagi malam yang dingin. Yang ada justru sensasi hangat yang kian lama hingga memabukkan. Gerakan pinggang Satria dalam bentuk hujaman, tusukan, dan hentakan pun kian menjadi-jadi hingga Indi benar-benar kehilangan dirinya sendiri. Indi menunjukkan reaksi alamiah dari gerakan seduktif yang dilakukan suaminya.
Satria juga tidak menahan. Hentakannya kuat, tusukannya kian dalam, dan juga maju dan mundur dalam paduan yang kian terukur. Sungguh padu. Laksana ani-ani yang menumbuk padu. Kian melesat, kian meluncur, tanpa ada halangan.
Hingga di batas Satria menggeram karenanya. Rahangnya tampak mengeras, dengan mata yang kian terpejam rapat. Pria itu menengadahkan wajahnya, sekarang Satria sangat tahu dirinya siap meledak. Darahnya seakan berdesir dari ujung kaki ke ujung kepala. Yang Satria coba tahan sekarang benar-benar meledak dan pecah.
Ya, lava pijar yang seketika memenuhi cawan surgawi milik Indi. Hangat, erat, tumpah, dan meluap. Sungguh luar biasa, hingga untuk beberapa detik Satria seperti kehilangan fungsi pendengarannya karena gendang telinganya seakan berdenging.
"Nikmat sekali, Sayang ... nikmat."
Satria mengatakan semuanya itu dengan tubuh yang bergetar hebat. Sementara Indi terengah-engah dengan memeluk erat suaminya. Keduanya laksana bunga api yang berhamburan ke udara.
Pecah.
__ADS_1
Meledak.
Tanpa sisa.