
Hari yang berbahagia tiba. Ya, hari ini akan digelar Ijab Qobul Satria dan Indi di kediaman keluarga Hadinata. Acara ini dilangsungkan tertutup dan hanya dihadiri keluarga saja.
Sejak semalam, Ayah Pandu sudah mellow karena anak gadisnya akan menikah. Dia sampai tidak bisa tidur nyenyak semalam. Selain itu, ada kesedihan di hati Ayah Pandu karena tidak bisa menjadi wali nikah untuk Indi. Sebab, Indi tidak bernasab. Praktis, wali hakim lah yang akan menjadi wali kala akad dilangsungkan.
Sekarang, di kediaman Hadinata terutama di pendopo sudah dipasang janur kuning. Janur sendiri adalah daun kelapa. Untuk orang Jawa sendiri janur memiliki makna "Sejatining Nur" (sejatinya cahaya, cahaya illahi, cahaya sejati, cahaya penerang). Warnanya yang putih kekuningan melambangkan cahaya terang dan harapan yang memiliki hajat agar niat nya diridhai Allah, diberi cahaya terang dalam hidupnya kedepannya, diberi kemudahan di masa-masa mendatang.
Sementara sekarang, Indi sudah berhias di dalam kamar. Gadis ayu itu mengenakan kebaya putih dan juga mengenakan paes khas Solo di keningnya. Paes adalah hiasan di kening pengantin putri yang dibuat dengan menggunakan pidih berwarna hitam. Untuk make up, Indi memilih natural saja tidak terlalu bold. Sebab, pikirnya hanya akan melangsungkan ijab qobul saja.
"Cantiknya, Mbak Didi ...."
Bunda Ervita dan Eyang Tari Hadinata menengok Indi yang sedang bersiap di kamar. Keduanya sepakat bahwa Indi memang begitu cantik. Manglingi, sangat cantik. Walau riasannya natural dan hanya mengenakan paes saja.
"Nda ..., Eyang," balas Indi.
"Sudah siap, Mbak?" tanya Eyang Tari.
"Insyaallah, Eyang. Berikan restu untuk Indi yah, Eyang. Maaf, Indi mendahului cucu-cucunya Eyang dengan menikah terlebih dahulu," kata Indi.
Eyang Tari menganggukkan kepalanya. "Tidak apa-apa, Mbak Indi. Berarti dari keempat cucunya Eyang, memang kamu yang dekat dengan jodohnya. Doanya Eyang, kamu dan Mas Satria bahagia selalu yah," balas Eyang Tari.
Sementara di pendopo, pihak Satria sudah datang. Pemuda itu mengenakan baju beskap putih dengan lilitan jarik di pinggang hingga kakinya. Selain itu, ada blangkon juga yang bertengger di atas kepalanya. Begitu gagahnya Satria tiba dengan didampingi Eyang Dirja dan Ibu Galuh. Selain itu, adik kandung Satria yaitu Sitha juga turut datang.
Pihak pengantin pria datang dengan membawa seserahan atau paningset untuk Indi. Semua seserahan sudah ditata di meja-meja yang sudah disiapkan. Keluarga Hadinata juga menerima kedatangan keluarga Satria, minus Rama Bima yang memang tidak hadir.
Selain keluarga Hadinata, datang pula orang tua Bunda Ervita dari Solo, bersama keluarga adiknya. Lantas ada tamu spesial yang diundang khusus yaitu keluarga Pak Firhan atau ayah biologis Indi. Bahkan untuk mengundangnya, Ayah Pandu dan Bunda Ervita yang datang sendiri ke Solo.
__ADS_1
Pak Firhan menitikkan air matanya. Anak yang dari kandungan sudah dia tolak, ketika dewasa dan tahu segala mau memaafkannya, rupanya sekarang sudah akan dipersunting seorang pria. Ayah Pandu menemui Pak Firhan dan mengobrol sesaat.
"Matur nuwun sudah mau datang ke Jogja," kata Ayah Pandu.
"Untuk Indi. Aku merasa bahagia, keluargamu dan Indi mau memintaku untuk datang," balas Pak Firhan.
"Pasti diundang, bagaimana pun Indi putrimu juga," balas Ayah Pandu.
"Makasih yah ...."
Bapak Firhan merasa senang sudah diundang. Untuk menghadiri pernikahan Indi, dia dan istrinya rela datang dari Solo kw Jogjakarta. Ini pun untuk kali pertama Pak Firhan mengetahui kediaman seorang Pandu Hadinata.
Setelah penghulu hadir, Bunda Ervita dan Eyang Tari, serta Eyang Sri yang menjemput Indi. Gadis ayu itu akan di dudukkan dengan Satria di hadapan penghulu. Sementara Satria sudah berusaha tenang, karena sejak tadi dia sangat grogi sebenarnya.
"Kita duduk saja di belakang wali hakim," ajak Ayah Pandu kepada Pak Firhan.
"Ayo, sama-sama. Aku memang Yayahnya, tapi kamu juga Bapaknya," balas Ayah Pandu.
Bapak Firhan benar-benar terharu. Bahkan keluarga Hadinata juga memperlakukan dia dengan begitu baik. Sekarang keduanya memilih duduk di belakang wali hakim. Sang ayah biologis tidak memiliki hak dan wewenang untuk menikahkan Indi karena tidak memberikan pertanggungjawaban. sementara Ayah sambung dan memang bukan muadzinnya sudah pasti tidak bisa menikahkan Indi. Sehingga keduanya memilih duduk di belakang wali hakim.
Sekarang, Indi sudah berjalan menuju ke depan pendopo. Pengantin pria mengarahkan pandangannya hanya kepada Indi saja. Sungguh, pengantinnya itu sangat cantik. Dengan kebaya putih dan riasan pengantin khas Solo, membuat Indi sangat ayu. Laksana putri keraton. Satria saja sampai tak berkedip memperhatikan Indi. Hingga akhirnya, Indi sudah duduk di sampingnya.
Lantas, Eyang Hadinata memakaikan kerudung putih untuk menudungi Indi dan Satria. Makna dalam pernikahan dua kepala yang sama-sama keras akan disatukan. Menyatukan dua kepala, tentu akan ada benturannya. Akan tetapi, tergantung dari seberapa jauh keduanya berdua untuk berkolaborasi bersama kala membina dan menjalani rumah tangga.
"Bisa kita mulai akadnya sekarang?" tanya penghulu.
__ADS_1
"Ya," jawab pihak Satria dan keluarga.
Bismillahirrahmanirrahim ....
Kemudian wali hakim mulai menjabat tangan Satria. Siap untuk menikahkan Satria dengan Indira.
"Saudara Satria Bima Negara bin Bima Negara, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Indira Hayuningtyas binti Ervita Amalia yang walinya telah mewakilkan kepada saya untuk menikahkannya dengan engkau dengan Mas kawin dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."
Satria mengambil napas dalam-dalam, dia kemudian menjawab qobul dengan sepenuh hati.
"Saya terima nikah dan kawinnya Indira Hayuningtyas dengan mas kawin tersebut tunai."
Tampak penghulu dan saksi menganggukkan kepalanya. "Sah!"
"Alhamdulillah ...."
Satria mengucapkan Alhamdulillah dengan bibirnya saja yang bergerak, tapi tak bersuara sama sekali. Sementara Bunda Ervita, Ayah Pandu, dan Pak Firhan sama-sama meneteskan air matanya. Bu Galuh dan Eyang Putri Dirja juga menangis. Seharusnya keluarga Negara turut hadir. Akan tetapi, dari trah Negara tidak ada satu pun yang hadir.
Lantas dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al'Quran. Satria dan Indi menangkupkan kedua tangannya. Satria dan Indi juga menangis. Walau hari ini indah, memaknai penyatuan mereka berdua, tetapi ada kesedihan karena tidak hadirnya keluarga Negara.
Selain itu memang hanya menggelar akad hanya pihak keluarga saja karena memang para keluarga dan kerabat dekat yang tahu bahwa Indi adalah gadis tanpa nasab. Keluarga memiliki wewenang dalam kasus seperti ini untuk menggelar akad secara tertutup atau terbuka. Sementara keluarga Hadinata dan Satria sudah sepakat bahwa pernikahan ini hanya sekadar Akad saja dengan dihadiri keluarga dan kerabat terdekat.
"Sudah sah, Mas Satria dan Mbak Indira," kata petugas dari Kantor Urusan Agama.
"Terima kasih, Pak ... alhamdulillah," jawab Satria dan Indira dengan tersenyum.
__ADS_1
Ini adalah awal dari perjalanan mereka. Hanya saja semak berdiri yang menunggu mereka. Namun, dalam ikatan cinta ini Satria dan Indi akan semakin kuat dan tidak takut untuk menghadapi apa pun yang terjadi di depan nanti.
Berlanjut malam lagi yah Bestie .... 😋