Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Ngunduh Wohing Pakarti


__ADS_3

Indi sebenarnya cemas melihat Rama Bima yang datang menjenguknya. Akan tetapi, dia berusaha tenang. Lebih dari itu, jam besuk tinggal beberapa saat lagi, jadi sudah pasti Rama Bima tidak akan berada di sana terlalu lama.


"Sayang, Rama datang," kata Satria.


"Iya," jawab Indi singkat.


Satria kemudian mengatur brankar yang Indi tempati dengan remote kontrol, supaya Indi menjadi lebih nyaman. Sekarang, Indi seolah sedang duduk di brankar itu. Walau tidak nyaman, tapi itu dirasa jauh lebih sopan, daripada jika dia hanya sekadar berbaring saja.


"Bapak ...."


Indi menyapa. Memang selama ini dia lebih memilih memanggil Bapak Bima Negara. Belum memanggil Rama, karena dulu Rama suaminya itu dengan terang-terangan menolaknya dan tidak merestui pernikahannya dengan Satria. Supaya bisa tetap menghormati, Indi memilih memanggil Bapak saja, panggilan lazim untuk orang yang lebih tua darinya.


"Bagaimana kondisinya Mbak Indi?" tanya Rama Bima.


"Lumayan," jawab Indi.


Rama Bima tahu, dari kondisi Indi saja terlihat istri putranya itu tengah kesakitan sekarang. Akan tetapi, Indi berusaha kuat, dan tidak menunjukkan rasa sakitnya. Melihat Indi yang seperti ini membuat Rama Bima semakin merasa bersalah jadinya.


"Rama bawakan bubur," kata Rama Bima.


Sekadar mengatakan itu saja, suara Rama Bima terdengar bergetar. Tidak mudah untuk menatap Indi dengan kondisi seperti ini. Terlebih seolah ada rasa hutang budi.


"Terima kasih," balas Indi dengan mengangguk perlahan.


Setelah itu, Rama Bima menyerahkan kantung plastik dengan dua wadah mika di dalamnya yang berisi bubur. Setelah itu, Rama Bima duduk di sofa yang ada di ruangan VIP itu. Berhadapan dengan Satria.

__ADS_1


"Sat, Rama ingin meminta maaf. Video CCTV sudah Rama selidiki, dan ternyata ada kesalahan orang atau human eror di sana. Tumpukan kardus panel yang terlalu tinggi adalah perintah Karina," cerita Rama Bima.


Mendengar bahwa ada karena kesalahan Karina di sana, Satria menjadi sangat kesal. Dia belum mengecek rekaman video CCTV, tetapi seharusnya memang kardus panel kayu tidak ditumpuk terlalu tinggi. Bisa menyebabkan kecelakaan kerja. Terbukti, itu terjadi juga.


"Selain itu, Rama mendengar umpatan, kata-kata kotor dari Karina," cerita Rama Bima lagi.


Rama Bima menunjukkan sebuah video dua hari yang lalu kepada Satria. Terlihat jelas Karina yang mengumpat dirinya dan Indi. Maka, Satria pun menekan tombol putar pada video tersebut.


"Udah tua bangka terlalu idealis, sama dengan menantunya yang sok-sokan gak tahu diri."


Itu adalah sepenggal ucapan Karina yang terdengar dari video CCTV. Sekarang pepatah yang tepat untuk. Rama Bima adalah Ngunduh Wohing Pakarti. Ngunduh itu artinya memetik, wohing itu adalah buah, dan pakarti artinya adalah perbuatan. Sehingga arti dari pepatah Jawa Ngunduh wohing pakarti berarti memetik buah akibat perbuatan. Perbuatan baik maupun buruk semua akan mendapat balasan. Waktunya bisa seketika atau nanti.


Ya, Rama Bima dulu memuji Karina sebagai wanita yang baik, lulusan luar negeri, dan berdarah biru. Satu-satunya wanita yang dinilai cocok untuk Satria. Rupanya, Karina yang menyuruh pegawainya menumpuk kayu panel terlalu tinggi memang tujuannya untuk menjatuhi Rama Bima. Oleh karena itu, jangan menilai orang hanya dari tampilan luar dan juga dari keturunannya yang darah biru.


"Rama sudah memetik perbuatan Rama sendiri yang salah. Maafkan Rama, Sat ...."


Satria dan Indi sama-sama bisa mendengarkan ucapan Ramanya itu. Namun, keduanya tidak menghakimi. Cukup mendengarkan sebagai seorang anak.


"Lalu, apakah Rama akan menindak tegas Karina?" tanya Satria.


"Ya, Rama langsung memecatnya. Memang itu diatur supaya menimpa Ramamu yang dinilainya terlalu idealis ini."


Berarti memang itu disetting sedemikian rupa untuk menimpa dirinya. Hanya saja memang yang menjadi korbannya justru adalah Indi. Rama Bima pun segera mengambil tindakan untuk memecat Karina.


"Maaf, Sat ... Rama salah menilai orang. Orang yang Rama kira baik dan dari kalangan darah biru, ternyata justru seperti itu. Sekali lagi maafkan Rama."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Rama. Anggap ini memang kecelakaan kerja. Walau begitu, Satria akan memperingatkan Karina untuk tidak berani menyentuh Indi," balas Satria.


Rama Bima menganggukkan kepalanya. Setuju dengan tindakan Satria. Di matanya, semua suami pun akan melakukan yang sama untuk orang yang mereka kasihi.


"Baiklah, Rama pamit ...."


Tidak langsung keluar, Rama mendekat ke brankar Indi. Melihat kondisi menantunya yang seolah memang babak belur itu. Pedih hatinya, seharusnya dia yang berbaring di sana, tapi justru Indi yang menjadi korbannya.


"Maafkan Rama, Mbak Indi," kata Rama Bima.


"Tidak apa-apa, Bapak. Tidak perlu meminta maaf kepada Indi," jawab Indi.


Usai itu, Rama menatap Indi. Pria paruh baya itu kembali berbicara. "Jangan panggil Bapak, kamu menantunya Rama ... istrinya Satria adalah menantunya Rama."


Indi menatap Rama Bima dengan pandangan seolah tak percaya. Pun Satria yang terdengar kaget. Satria sampai membuka telinganya lebar-lebar, supaya tidak salah dengar.


"Mulai sekarang panggil Rama, jangan panggil Bapak," kata Rama Bima lagi.


Di sana mulailah kedua mata Indi berkaca-kaca. Dia tidak salah mendengar bukan? Apa yang dia dengar sekarang nyata bukan?


"Coba, panggil Rama ... Ra ... ma."


Ah, air mata Indi seketika berlinang. Begitu juga dengan Satria yang menitikkan air matanya. Apakah itu berarti Ramanya sudah memberikan restu untuk mereka berdua?


Namun, itu hanya isi hati Satria. Sebab, Ramanya belum mengatakan apa-apa. Walau begitu, permintaan Rama Bima sudah menyentuh hati Indi dan Satria. Benarkah restu itu sudah diberikan sang Rama kepada mereka berdua?

__ADS_1


__ADS_2