Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Respons Kedua Orang Tua


__ADS_3

"Kalau pria itu pernah gagal sebelumnya bagaimana Yayah dan Nda?" tanya Irene.


Terlihat Indi dan Satria yang terdiam. Kali ini memang bukan ranahnya untuk berbicara. Oleh karena itu, mereka menunggu jawaban Ayah Pandu dan Bunda Ervita terlebih dahulu.


"Gagal bagaimana, Rene?" tanya Bunda Ervita. Sekarang Bunda Ervita mengamati putri bungsunya itu. Sebab, kata gagal yang digunakan oleh Irene memiliki makna yang tidak jelas. "Gagal berarti du ... da?" tanya Bunda Ervita perlahan.


Irene terdiam, sebelum menjawab maksud dari Bundanya, dia seolah menatap wajah kedua orang tuanya terlebih dahulu. Walau jujur ada rasa takut juga bagi Irene.


"Bisa jadi, Bunda," balas Irene lirih.


Tampak Ayah Pandu dan Bunda Ervita saling pandang. Kemudian Bunda Ervita mempersilakan Ayah Pandu untuk memberikan jawaban terlebih dahulu. Bagaimana pun seorang ayah adalah imam dan kepala, jawaban dan pandangannya sangat berguna untuk anak-anaknya.


Kendati demikian, dalam diamnya Irene percaya bahwa Ayahnya adalah sosok yang bijaksana. Irene teringat dua tahun lalu, kala kakak iparnya datang meminang kakaknya. Ya, kala itu Satria datang meminta untuk meminang Indi, walau belum ada restu dari orang tua. Kala itu saja pandangan Ayah Pandu sangat bijaksana. Kali ini, Irene juga sangat yakin dengan Ayahnya.


"Apa pun pasangan kamu, pendamping kamu yang pasti yang utama dan terutama satu iman. Miliki pondasi yang kuat. Pernikahan juga adalah ibadah terpanjang dan terindah dengan pasangan kita. Oleh karena itu, Ayah menginginkan anak-anak Ayah memiliki pendamping hidup yang seiman. Setelahnya tentu dia harus memiliki pekerjaan, memiliki karakter yang baik," kata Ayah Pandu.


Irene, Indi, dan Satria sama-sama menganggukkan kepalanya. Jawaban Ayah Pandu sama seperti biasanya, selalu bijaksana. Biasanya akan muncul stigma negatif apabila dipersunting duda atau mereka yang sebelumnya pernah gagal berumahtangga.


Selalu ada syarat khusus yang Ayah Pandu utamakan. Pertama, adalah satu iman. Kedua, memiliki karakter yang baik. Ketiga, memiliki pekerjaan yang tetap. Sementara status lajang atau tidak, latar belakang keluarga, dan sebagainya adalah hal yang tak begitu prioritas.

__ADS_1


"Bunda bagaimana?" tanya Ayah Pandu sekarang.


"Jawaban dari Yayah kamu sudah mewakili jawaban Bunda. Lagipula, Bunda mendapatkan Yayah kamu ketika Bunda banyak dosa. Bunda banyak kekurangan. Bunda adalah orang yang gagal di masa lalu. Bunda memang bukan janda, karena Bunda tak pernah menikah dan juga pernah bercerai. Bunda adalah ibu tunggal, garis takdir Bunda jauh lebih menyedihkan daripada mereka yang janda. Seorang janda terlihat jelas siapa mantan suaminya, siapa ayah dari anak yang dia kandung. Sementara Bunda tidak."


Menyampaikan hal itu kepada keluarganya dan ada Satria juga membuat suara Bunda Ervita seperti bergetar. Sekaligus Bunda Ervita merefleksikan kepada dirinya sendiri bahwa dulu dia banyak dosa dan kekurangan. Menjadi janda memang tidak, tapi sebagai wanita yang hamil di luar nikah nasibnya jauh lebih malang.


"Bunda bukan orang suci, anak-anakku. Banyak luput, dosa, dan kekurangan Bunda di masa lalu. Namun, lihatlah ... ada keluarga yang baik, keluarga yang menyayangi Bunda dengan tulus, keluarga yang menganggap Bunda bukan sebagai seorang pendosa melainkan dianggap sebagai keluarga sendiri. Itu adalah keluarga Hadinata. Keluarga yang tak menghakimi Bunda, tapi mendorong Bunda untuk terus melakukan yang baik. Bunda dan Yayahmu tentu menginginkan hal seperti itu juga. Jangan menghakimi orang dari masa lalunya," kata Bunda Ervita lagi.


Semua yang ada di sana menganggukkan kepalanya. Sangat setuju dengan apa yang disampaikan Bunda Ervita. Seringkali manusia terlalu picik kala menghakimi masa lalu orang lain. Merasa diri yang paling suci dan paling benar. Padahal satu-satunya yang benar dan suci hanya Allah semata.


"Jadi, apa putri Yayah ini dekat dengan seseorang yang gagal di masa lalu?" tanya Ayah Pandu.


"Benarkah?" tanya Ayah Pandu lagi.


Dengan cepat Irene menggelengkan kepalanya. "Benaran kok, Yah. Belum ada. Hanya mencoba bertanya saja kepada Yayah dan Nda. Irene nanti kayak Mbak Indi aja, begitu ada yang serius, Indi minta untuk menemui Yayah dan Nda."


Indi dan Satria akhirnya sama-sama tersenyum. Dulu, sebelumnya Indi tidak pernah ada pria yang berada datang ke rumah. Begitu sudah yakin, dan Satria ingin melangkah ke jenjang yang lebih serius barulah Satria datang ke rumah. Menyampaikan niat baiknya secara langsung kepada Yayah Pandu dan Bunda Ervita.


"Mengikuti jejaknya Mbak Indi?" tanya Bunda Ervita.

__ADS_1


"Iya, Bunda. Yah, kalau serius lebih baik datang ke rumah. Berbicara dan mengutarakan niat dengan baik-baik kepada Yayah dan Nda. Setuju kan Mas Satria?" Sekarang Irene bertanya kepada kakak iparnya itu.


Satria yang sejak tadi diam akhirnya mengangguk perlahan dan memberikan jawaban. "Benar, Rene. Niat baik jangan ditunda-tunda. Mas sendiri juga datang dengan tangan kosong. Pernah datang dan tidak membawa restu dari orang tua Mas Satria sendiri. Untunglah Ayah dan Bunda mau menerima Mas Satria."


"Restu bisa diusahakan, Sat ... kamu adalah pemuda yang baik, jujur, dan terlihat sangat mencintai Indi. Itu sudah menggerakkan hati kami," balas Ayah Pandu.


"Makasih, Yah. Memang Satria sangat mencintai Indi. Doa kami bisa menua bersama seperti Yayah dan Bunda. Memiliki kehidupan rumah tangga yang harmonis. Sampai kaken-inen-inen," kata Satria. Artinya ingin menua bersama sampai menjadi kakek dan nenek.


"Aamiin ...."


Sekarang Ayah Pandu dan Bunda Ervita mengaminkan hal itu. Juga berharap doa dan harapan baik menantunya dijabah oleh Allah.


"Rene, Mas Satria hanya memberikan saran. Nanti kalau ada cowok yang dekatin kamu. Kenalan dulu, pahami bagaimana karakternya. Jangan terburu-buru. Kalau sudah merasa kenal dan yakin, segera ceritakan kepada Ayah dan Bunda. Setidaknya orang tua itu siapa yang dekat dengan anaknya. Apalagi untuk anak gadis yang harus lebih dijaga," kata Satria kepada adik iparnya.


Irene menganggukkan kepalanya. Tidak tersinggung dengan ucapan kakak iparnya. Akan tetapi, Irene menganggap baik nasihat dari kakak iparnya itu.


"Yang disampaikan Mas Iparmu benar, Rene. Kenal dulu, sampai pahami karakternya seperti apa. Ayah sih berdoanya anak-anak Yayah memiliki suami yang berakhlak baik. Bisa menjadi Pengayom dan Pengayem. Bisa memimpin dan memberikan rasa nyaman untuk istri dan anak-anaknya kelak. Proses mengenal pasangan itu lama. Bahkan yang sudah menikah lama pun masih dan harus mengenal pasangannya," kata Ayah Pandu.


Irene tersenyum lagi dan kembali menganggukkan kepalanya. "Iya, Yayah. Terima kasih banyak. Irene memiliki keluarga yang positif, terbuka, dan supportif. Pastilah Irene akan melakukan saran dan nasihat dari Yayah, Bunda, Mbak Didi, dan Mas Satria. Makasih banyak."

__ADS_1


Irene justru bersyukur karena keluarganya bukan keluarga yang kaku dan kolot. Melainkan keluarga yang berpikir terbuka dan juga tidak mudah menghakimi orang lain. Irene pasti melakukan apa yang sudah dinasihatkan dengan baik oleh keluarganya itu.


__ADS_2