Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Tes Rahasia


__ADS_3

Usai berbicara dengan Bunda Ervita dan mendengarkan bagaimana Bunda Ervita mengandung Irene dulu. Kali ini, Indi sedikit yakin bahwa mungkin saja suaminya itu tengah mengalami kehamilan simpatik. Akan tetapi, semua harus dibuktikan terlebih dahulu dengan tes kehamilan dengan testpack terlebih dahulu.


Namun, kali ini Indi terpikirkan sesuatu saja yang dia susun di otaknya, tanpa harus diketahui oleh siapa pun. Bunda Ervita pun kemudian berbicara kepada Indi.


"Nakula dan Sadewa juga sudah 3,5 tahun sekarang, Mbak. Sudah pas nanti kalau menjadi kakak di usia empat tahun. Sudah bisa dikasih tahu, oh ini yang namanya Adik," kata Bunda Ervita.


Indi kemudian menganggukkan kepalanya. "Benar juga, Nda. Ya semoga nanti segera diberikan sama Allah," balasnya.


"Aamiin. Yang pasti lakukan tiga hal yaitu doa, usaha, dan ikhtiar. Semoga saja Allah dengar dan jabah semuanya yah," balas Bunda Ervita.


Indi menganggukkan kepalanya. Sembari tersenyum sendiri sebenarnya. Namun, ada yang Indi pikirkan juga, kalau sekarang hamil lagi, mungkinkah akan ada satu kantung janin atau dua kantung janin. Jika, ada dua kantung janin, hanya dalam dua kali hamil, dia sudah memiliki empat anak. Tergolong banyak untuk pasangan muda sepertinya. Namun, sekali lagi anak-anak juga adalah anugerah dari Allah. Sehingga patut untuk disyukuri dan dibesarkan dengan penuh tanggung jawab.


Setelah itu, Bunda Ervita menyempatkan waktu bermain-main dengan Nakula dan Sadewa terlebih dahulu. Sungguh, bagi Bunda Ervita bermain dengan cucunya selalu memberikan kebahagiaan untuknya. Bukannya membuat Bunda Ervita melupakan Irene, tidak. Anak bungsunya itu selalu ada di hati dan pikirannya, tapi kala bermain dengan Nakula dan Sadewa membuat Bunda Ervita melupakan sejenak kesedihan dan kesepiannya.


"Kapan Nakula dan Sadewa mau menginap di rumah Eyang Nda lagi?" tanya Bunda Ervita.


Sadewa yang ditanyai demikian, lantas memandang wajah Mamanya dan bertanya. "Kapan Mma?"


"Kalau akhir pekan dan menunggu Papa sehat yah. Kan Papa baru kurang sehat. Doakan Papa sehat selalu," balas Indi.

__ADS_1


"Nggu Ppa cehat, Yang," balas Sadewa.


Bunda Ervita malahan tertawa sekarang. Sebab, cara berbicara Sadewa terbilang lucu. Bunda Ervita juga tidak membandingkan Nakula dan Sadewa walau Sadewa yang lebih banyak menguasai kosakata dan aktif berbicara. Sementara Nakula tidak. Semua itu karena Bunda Ervita juga percaya bahwa setiap anak itu spesial dengan kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Kembar bukan berarti sama persis, tumbuh kembangnya pun juga berbeda. Walau lingkungan tumbuh kembang, nutrisi, bahkan pengasuhnya sama.


Siang hingga sore hari Bunda Ervita berada di kediaman Indi. Hingga akhirnya Ayah Pandu menjemput istrinya. Sekaligus berpamitan dengan Indi, Nakula, dan Sadewa.


"Yayah langsung yah, Mbak? Nanti malam ada perkumpulan bapak-bapak RT," kata Ayah Pandu.


"Iya, Yah. Hati-hati ya Yah," balas Indi.


Setelah Ayah Pandu dan Bunda Ervita pulang, tidak berselang lama giliran Papa Satria yang pulang. Wajah Satria masih terlihat lelah, bahkan sekarang Satria pulang dengan menggunakan masker. Indi sudah menerka bahwa mungkin saja suaminya itu usai mual lagi.


"Halo, udah ganteng dan wangi nih, Nang-Nangnya Papa," balas Satria menyambut hangat sapaan ceria dari kedua putra kembarnya.


"Yang Nda adi kecini, Ppa," cerita Sadewa.


"Wah, senang dong Nakula dan Sadewa kalau Eyang Nda ke sini. Bisa main-main sama Eyang Nda," balas Satria.


Nakula dan Sadewa kompak menganggukkan kepalanya. Kemudian sekarang giliran Indi yang bertanya kepada suaminya.

__ADS_1


"Kok memakai masker, Mas? Kerasa mual yah?" tanyanya.


"Enggak, cuma tadi ada penjual di depan kantor yang aromanya menyengat. Untuk berjaga-jaga, lebih baik aku memakai masker. Hidungku baru sensitif dengan bau, Sayang. Lebih baik berjaga-jaga," balas Satria.


Syukurlah itu artinya memang suaminya lebih memilih untuk menjaga diri daripada mual tak tertahan. Kemudian Satria berpamitan dengan istri dan anak-anaknya untuk mandi terlebih dahulu. Dia merasa tidak nyaman ketika pulang kerja tidak buru-buru mandi. Kuman dari luar yang menempel di tubuh bisa saja tidak baik untuk Nakula dan Sadewa. Oleh karena itu, Satria memilih untuk mandi terlebih dahulu.


...🍀🍀🍀...


Menjelang Pagi ....


Sebelum alarm di handphonenya berbunyi, Indi terbangun lebih dahulu. Sebelum beranjak dari tempat tidur, Indi menatap wajah suaminya yang masih berbaring dengan mengenakan selimut itu. Wanita itu tersenyum tipis dan mengusap perlahan helai rambut suaminya.


Akhirnya, dengan pelan-pelan Indi beranjak dari ranjang. Dia segera menuju ke dalam kamar mandi dengan benda pipih untuk memprediksi kehamilan atau testpack. Setelah itu, Indi mengambil gelas takar untuk menampung urine. Wanita itu sebenarnya deg-degan juga dan merasa tidak begitu yakin. Hingga akhirnya, Indi memasukkan testpack itu ke dalam gelas takar.


Sembari menunggu, Indi menutup matanya beberapa kali. Takut dengan hasilnya. Hingga akhirnya, Indi memilih mondar-mandir di dalam kamar mandi bahkan saking deg-degannya, keningnya sampai berkeringat.


"Ya Allah ... Kira-kira apa hasilnya? baik negatif atau positif, hamba percaya semuanya sudah ada di dalam garis takdirmu, ya Allah."


Menunggu beberapa saat, akhirnya muncul hasilnya di dalam benda pipih itu. Buru-buru Indi membereskan semuanya. Testpack itu juga dia bersihkan dengan air dan segera menyimpannya.

__ADS_1


Sebelum keluar dari kamar mandi, Indi menyeka air mata yang sempat mengalir dan juga menyeka bulir keringat di keningnya. Setelahnya, Indi buru-buru menyimpan testpack dengan hasil yang hanya Indi ketahui. Kira-kira apakah hasilnya? Kenapa Indi berniat melakukan test ini secara rahasia dan sembunyi-sembunyi?


__ADS_2