
Kembali ke Jogjakarta ....
Nakula dan Sadewa kian bertumbuh setiap harinya. Bahkan sekarang dua bayi kembar itu sudah berusia sepuluh bulan. Nakula dan Sadewa begitu aktif untuk duduk dan mulai merangkak. Lantaran kedua bayinya semakin aktif, Indi harus ekstra hati-hati untuk mengasuh dan mengawasi keduanya.
"Nakula, merangkaknya jangan jauh-jauh yah. Mama di sini. Ini, ayo main rattle di sini sama Sadewa," kata Indi memanggil Nakula yang memang lebih aktif merangkak.
Yah ... aaa ... aa ....
Suara ocehan bayi dari Nakula terdengar sampai bayi kecil itu mengeluarkan air liur di bibirnya. Indi tertawa sendiri jadinya. Setelah itu, Indi mengambil tissue dan membersihkan bibir putranya itu.
"Nakula mau bicara apa sih sama Mama? Nanti kalau semakin besar Nakula dan Sadewa jadi temannya Mama yah. Ngobrol sama Mama yah," kata Indi.
Sementara itu, Sadewa yang semula duduk dan bermain bola mainan kemudian merangkak dan mendekati Mama serta saudara kembarnya yang lain. Semakin besar, agaknya Sadewa lebih banyak diam, kalem jika orang Jawa berkata. Sementara Nakula yang sangat aktif.
"Sadewa mau dipangku Mama?" tanya Indi.
Bayi berusia sepuluh bulan itu hanya duduk dan bersandar di perut Mamanya. Indi tersenyum. Sekaligus Indi belajar satu hal bahwa sekalipun anak-anak itu lahir kembar, ketika dikandung berada di dalam satu rahim, tapi begitu sudah keluar dan semakin dewasa perilaku dan karakternya akan begitu berbeda. Sama seperti Nakula dan Sadewa di mana Nakula lebih aktif, sementara Sadewa lebih tenang.
Nakula kemudian merangkak lagi, dia heboh ke kanan dan ke kiri mengambili mainan. Sementara Sadewa masih kalem.
"Tumbuh bersama yah anak-anaknya Mama. Semakin besar. Kalian bertumbuh setiap hari, Mama dan Papa juga. Selalu saja ada hal-hal baru yang Mama dan Papa pelajari dari kalian berdua."
Akhirnya sepanjang siang hari, Indi mengasuh anak-anaknya itu. Hingga sore, Indi juga bergegas untuk memandikan kedua anaknya. Sehingga ketika suaminya pulang nanti, Nakula dan Sadewa sudah mandi dan harum.
Sore tiba, Indi mengajak anak-anak mengelilingi kompleks perumahan dengan menggunakan stroller. Terlihat Nakula dan Sadewa yang menunjuk-nunjuk apa yang mereka lihat.
"Ini rumah, Nak ... perumahan. Itu di langit ada burung-burung yang sedang terbang."
__ADS_1
Indi menjelaskan apa yang ada di sekelilingnya kepada Nakula dan Sadewa. Walau anak-anak masih kecil, tapi pembelajaran memang dimulai dari kecil. Lambat laun anak-anak akan belajar dari apa yang mereka lihat, apa yang mereka dengar, dan apa yang mereka cium. Hal ini juga baik untuk memberikan stimulasi untuk panca indera anak-anak. Hingga akhirnya, ada mobil Papa Satria yang masuk ke rumah, Satria segera turun dari mobil dan menghampiri istri dan anak-anaknya.
"Dari mana Nang-Nang?" tanya Satria.
"Jalan-Jalan, Papa. Udah mandi kok. Nyore di kompleks perumahan," balas Indi.
Satria tersenyum. Dia kemudian mendorong stroller yang semula didorong Indi dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Sudah sore, sehingga Nakula dan Sadewa kembali masuk ke rumah.
Di dalam rumah, Satria mandi dulu, sementara Indi menyuapi Nakula dan Sadewa terlebih dahulu. Tidak lupa sudah tersedia Lemon Tea hangat kesukaan suaminya.
"Makan Nang?" tanya Satria yang sekarang menyusul ke meja makan.
"Iya, Papa ... Nang-Nang makan dulu. Diminum Lemon Teanya dulu, Pa. Masih hangat."
"Makasih, Mama," balas Satria.
"Besok Posyandu, Pa. Nimbang berat badannya Nakula dan Sadewa," kata Indi.
Satria kemudian menganggukkan kepalanya. "Maem yang banyak, Nang ... besok biar ndut kalau ditimbang."
"Gak perlu terlalu ndut, penting Nakula dan Sadewa sehat, Papa."
Indi mengatakan demikian. Terkadang tak dipungkiri bahwa tolok ukur bayi yang lucu dan menggemaskan itu adalah bayi yang ndut dengan pipinya yang chubby. Sementara Indi lebih berorientasi kepada kesehatan anak-anaknya.
"Benar banget, Mama Indira. Nang-Nang harus sehat dulu, bonusnya ndut. Gak terlalu ndut asalkan sehat juga bagus," balas Satria.
Setelah itu, semuanya selesai makan, Satria yang berdiri terlebih dahulu. Pria itu berinisiatif untuk mencuci peralatan makan yang semula kotor.
__ADS_1
"Biar aku saja, Pa ...."
"Gak usah, Sayang. Kamu seharian udah capek ngurus Nakula dan Sadewa. Gantian aku aja," balas Satria.
Indi tersenyum lagi. Dia tahu kalau suaminya juga capek setelah bekerja seharian. Akan tetapi, Satria ketika di rumah tak segan untuk membantu pekerjaan rumah tangga, mengasuh anak-anak pun bisa dan membersihkan pup anak-anak juga mau. Sungguh, Indi bersyukur dan beruntung sekali rasanya.
"Sudah selesai. Yuk, main sama Papa. Mama biar nyantai dulu."
Satria langsung menggendong Nakula dan Sadewa. Setiap sore walau lima belas menit hingga setengah jam seolah Satria memberikan waktu untuk Indi me time. Dalam waktu itu kadang Indi bisa mendesain interior, kadang bisa menikmati camilan, menonton televisi, atau bahkan mandi. Sebab, tak dipungkiri ketika menjadi ibu, sekadar menggunakan toilet itu sangat sukar. Tidak biasa leluasa. Sehingga kadang Indi memanfaatkan untuk mandi keramas tanpa gangguan.
"Bisa mandi keramas deh," kata Indi.
"Mandi yang bersih dan wangi, Sayang. Nanti malam biar Papa suka," kata Satria.
Indi tertawa dan mencubit dada suaminya itu. "Kan minggu lalu udah, Pa," balas Indi.
"Nanti malam lagi yah, kalau Nakula dan Sadewa udah tidur," balas Satria.
Namun, beberapa detik kemudian Satria berbicara lagi. "Ah, gak usah direncanakan deh. Biasanya kalau direncanakan malahan Nakula dan Sadewa enggak tidur cepat kok. Kalau Papanya berencana dan mendambakan Mamanya, matanya Nakula dan Sadewa masih bening, malahan enggak ngantuk."
Keduanya kemudian tertawa. Yang dikatakan Satria ada benarnya. Sebab, ketika sudah merencanakan sesuatu dan benar-benar mendamba yang ada malahan Nakula dan Sadewa tidak segera tidur. Memang tidak rewel atau tantrum, tapi keduanya tidak segera tidur.
"Makanya tidak usah berencana, Mas," balas Indi.
"Iya, Nang-Nang pinter kok. Mamanya cuma boleh buat mereka berdua. Papanya mendamba malahan gak bisa. Mama Indi sudah dikuasai Nang-Nang cakep ini," balas Satria dengan menciumi Nakula dan Sadewa.
"Inilah lika-liku pasangan baru tanpa babysitter, Mas ..., tapi aku seneng bisa mengasuh Nakula dan Sadewa sendiri. Bisa mencurahkan kasih sayang secara langsung untuk mereka berdua. Tahu tumbuh kembang mereka setiap hari. Memang kalau mau perlu dengan Papa harus menunggu waktu, tapi itu serunya," balas Indi.
__ADS_1
Memang ketika sudah memiliki anak dan tidak ada yang berbeda. Namun, selalu saja ada sisi positifnya. Nanti kalau anak-anak sudah dewasa juga akan rindu dengan masa ketika anak-anak masih kecil.