
Mendinginkan suhu tubuh yang semula memanas dan menetralkan deru napas yang masih sama-sama terengah-engah, Satria menggulingkan tubuhnya. Dia berbaring di sisi Indi. Dia peluk istrinya itu dan memberikan kecupan di keningnya. Hal yang selalu Satria lakukan usai bercinta dengan istrinya. Apa yang selalu Satria lakukan membuat Indi merasa dicintai oleh suaminya.
"Menekan perut kamu enggak, Sayang?" tanya Satria. Bukan sekadar bertanya, tapi Satria membawa telapak tangannya mengusap perlahan perut Indi yang belum terlihat membuncit itu. Jujur saja, ketika Indi hamil, sebenarnya Satria sedikit takut kalau berhubungan dengan istrinya. Namun, bagaimana lagi aura Bumil kadang membuat Satria bisa benar-benar berhasrat.
"Enggak sama sekali, Mas. Babies kita baik-baik saja di dalam sini kok," balas Indi.
"Yakin?"
"Aku membaca buku, sebenarnya kalau Mama dan Papanya sedang berhubungan, dia aman kok, Mas. Cuma, dia bisa mendengarkan suara-suara kita. Sebab, indera pendengaran bayi itu mulai berfungsi sejak berada di dalam kandungan. Jadi, Babies pasti dengar kalau Papanya memekik kepuasan," kata Indi dengan tertawa.
Satria juga turut tertawa. Ada pengetahuan baru lagi yang disampaikan oleh istrinya terkait dengan bayi yang aman kalau Mama dan Papanya sedang bercinta. Hanya saja, bayi bisa mendengarkan suara-suara dari kedua orang tuanya. Sama seperti ketika memberikan usapan di perut dan melakukan sounding kepada baby.
"Waduh, gawat dong kalau ampe denger suara macam-macam dari Papanya," balas Satria yang masih tertawa.
Membayangkan bagaimana lenguhanya dan pekikan Satria kala berhubungan dengan Indi membuat Satria terkekeh sendiri. Ada rasa malu juga kepada baby nya sendiri nanti. Akan tetapi, bagaimana lagi kalau memang sounding itu memang didengar oleh bayinya.
"Kenapa geli gitu yah, Mas?"
"Geli dan malu," balas Satria.
__ADS_1
Sekarang justru giliran Indi yang tertawa. Wajah Indi yang masih berpeluh kini bertambah merah lantaran tertawa dan melihat ekspresi lucu dari suaminya. Namun, waktu bonding usai bercinta seperti ini selalu saja dimanfaatkan keduanya, entah itu saling berpelukan atau membahas berbagai macam. Sama seperti sekarang, Satria yang selalu khawatir kalau janin di dalam rahim istrinya merasa tidak aman.
"Aku membaca sih, usai bercinta kadar gula darah naik, ibunya bisa bahagia. Kalau ibunya bahagia, janin di dalam rahim juga bahagia. Kan perasaan bayi yang ada di dalam kandungan itu terkoneksi dengan perasaan ibunya, Mas," kata Indi lagi.
"Lalu, kamu bahagia enggak usai bercinta denganku?" tanya Satria.
Sungguh, itu adalah pertanyaan yang absurd. Sebenarnya, tanpa bertanya pun Satria juga sudah mendapatkan jawabannya. Ekspresi wajah dan juga reaksi alamiah Indi bukankah menunjukkan semuanya itu.
"Retoris, gak perlu dijawab deh," balas Indi.
Satria lagi-lagi kembali tertawa. Dia mengeratkan pelukannya kepada istrinya itu. "Memang gak perlu kamu jawab, aku juga sudah tahu jawabannya. Namun, kalau kamu menjawab pun, aku mendengar saja juga bahagia. Kadang pria itu suka mendengar pengakuan, Sayang. Seriusan, gak hanya cewek yang suka dengar pengakuan. Cowok pun sama. Merasa senang kalau bisa membahagiakan wanitanya," balas Satria.
Indi mengangguk perlahan. Apa yang disampaikan oleh suaminya benar adanya. "Hm, aku selalu suka kok, Mas. Kamu selalu memperlakukan aku dengan baik," balas Indi.
"Seumur hidup, aku akan selalu membahagiakanmu, Sayang. Memberikan hati, cinta, dan hidupku hanya kepadamu. Membagi hidup denganmu dan anak-anak kita," kata Satria dengan sungguh-sungguh.
Yang Satria sampaikan benar-benar menghangatkan hati Indi. Tak ada keraguan di dalam hati Indi, walau nanti banyak aral melintang dalam kehidupan rumah tangganya, tapi Indi yakin bisa menjalani semuanya.
"Ya sudah, mandi dulu yuk, Mas. Jangan sampai keburu datang ngantuknya dan nanti malahan kita berdosa karena belum membersihkan diri," kata Indi.
__ADS_1
"Barengan aja," kata Satria.
"Gantian aja."
"Enggak, aku maunya barengan."
Satria segera berdiri terlebih dahulu. Dia segera mengulurkan tangannya dan mengajak Indi menuju ke kamar mandi. Setiap kali bercinta akan ditutup dengan mandi bersama. Seakan ini sudah menjadi ritual untuk keduanya. Bonding dan menjaga keharmonisan, karena mandi bersama memang disarankan untuk menjaga keharmonisan pasangan suami istri. Menunjukkan perhatian misalnya dengan menggosok punggung, atau memberikan pelukan. Banyak bonding dan kegiatan menjaga keharmonisan rumah tangga yang tanpa mengeluarkan ongkos. Yang penting adalah kesediaan untuk memanfaatkan waktu.
Hampir setengah jam kemudian, keduanya sudah keluar dari kamar mandi dan dalam keadaan bersih. Satria lantas memeluk istrinya lagi, dengan telapak tangannya yang kembali mengusap perut Indi. Lagi-lagi, dia bertanya.
"Seriusan bayi kita aman?" tanya Satria lagi.
"Iya, jadi sebenarnya gak ada tekanan. Bayi di dalam rahim sangat aman dari tekanan kok. Justru dia bahagia, Mas. Cuma dia bisa mendengarkan suara kita aja," balas Indi.
"Syukurlah. Aku maunya kamu dan babies kita aman. Lahir cukup waktu. Rumah kita biar semakin ramai dengan kembar dua pasang," kata Satria.
Sudah terlintas dalam benak Satria bagaimana rumahnya nanti akan semarak dengan empat anak. Rumah yang akan menjadi lingkungan tumbuh kembang untuk Nakula, Sadewa, dan Adik-adiknya nanti. Impiannya memiliki banyak anak terwujud sudah.
"Nakula, Sadewa, dan dua adeknya. Ya ampun, empat anak di rumah. Waktu Irene pulang ke Jakarta nanti, kita periksakan kandunganku yah Mas? Harusnya sih waktunya kita mengetahui apa jenis kelamin babies twin kali ini," kata Indi.
__ADS_1
"Iya, siap Sayang. Kita akan periksakan kandungan kamu pekan depan. Semoga ada baby girlnya. Biar ada yang manja-manja sama Papa."
Indi dan Satria memilih menikmati liburan dulu dengan Irene. Lagipula, hanya tinggal sepekan saja bagi Irene berada di Jogjakarta. Sementara setelahnya, Irene aman kembali lagi ke Jakarta. Baru nanti, Satria dan Indi akan memeriksakan kandungannya dan kali ini mereka berharap akan mendapatkan bayi perempuan.