
Kurang lebih dua pekan ini Indi berusaha melakukan advice dari dokter Arsy. Mulai dari menung-ging supaya posisi bayinya benar dan segera masuk ke tulang panggul, juga senam kegel. Selain itu, Indi juga lebih banyak meminum air putih supaya air ketuban dalam rahimnya juga cukup.
Di Trimester kedua ini memang dokter Arsy menyarankan agar Indi melakukan pemeriksaan setiap dua pekan sekali. Sehingga sekarang Satria sudah mengantar istrinya untuk memeriksakan kandungannya lagi.
"Semoga pemeriksaan nanti baik ya Mas ... posisinya Babies juga sudah benar," kata Indi.
"Aamiin, Sayangku. Semoga yah ... kamu juga sudah berusaha maksimal. Jadi, semoga Babies mau kerja sama dengan kita," balas Satria.
"Cuman, aku merasa deg-degan aja, Mas."
Tidak seperti biasanya, kali ini Indi merasakan benar-benar deg-degan saat akan berangkat periksa. Padahal biasanya tidak sama sekali. Dari rumah ke kediaman orang tuanya, Indi juga hanya diam dan juga mengajak berbicara Nakula dan Sadewa.
Begitu sudah tiba di kediaman orang tuanya, Indi dan Satria menitipkan Nakula dan Sadewa terlebih dahulu.
"Yah, Nda ... Indi titip Nakula dan Sadewa dulu yah? Kami mau ke klinik lagi untuk periksa kehamilan," pamit Indi.
"Tentu saja boleh. Banyakin doa yah Mbak Indi, biar posisi bayinya kali ini sudah bagus. Sudah mau 38 minggu juga," balas Bunda Ervita.
"Doain juga ya, Nda. Indi sendiri sih deg-degan banget. Kenapa rasanya kehamilan sekarang beda banget dengan waktu hamil Nakula dan Sadewa," balasnya.
"Banyakin doa, sebut nama Allah. Kiranya Allah yang lancarkan semuanya ya Sayang."
Usai menitipkan Nakula dan Sadewa, Satria kemudian mengantarkan Indi menuju ke klinik dokter Arsy. Dalam perjalanan masih saja Indi tidak banyak berbicara. Padahal, Satria sudah berusaha untuk mencairkan suasana.
"Tendangan bayinya masih kerasa enggak, Yang?" tanya Satria sekarang.
__ADS_1
"Masih kok, Mas. Ini malahan abis bergerak Babiesnya," jawab Indi.
"Ya sudah, kita cek dulu saja bagaimana kondisinya Babies. Kamu jangan kepikiran, nanti dampaknya ke Babiesnya loh. Dinikmati saja alurnya dari Allah."
Satria mengingatkan istrinya untuk tidak terlalu kepikiran karena bisa memicu stress. Selain itu, Bumil memang harus menghindari stress agar tekanan darah stabil. Terlebih bisa dikatakan menuju persalinan hanya menunggu beberapa minggu saja.
Begitu sudah tiba di klinik, Satria yang mendaftarkan istrinya seperti biasanya. Sementara Indi duduk dan mengamati suaminya itu. Hingga akhirnya, Satria kembalu duduk dan menemani istrinya sampai nanti nama Indi dipanggil.
Ada beberapa obrolan yang mereka bicarakan. Ada juga candaan ringan supaya istrinya itu tidak cemas. Kurang lebih setengah jam, barulah nama Indi dipanggil. Keduanya kemudian memasuki ruang pemeriksaan bersama dokter Arsy.
"Malam dokter," sapa Indi dan Satria bersamaan.
"Malam, bagaimana sudah banyak senam kegel belum? Semoga kali ini posisi bayinya sudah benar yah," balas dokter Arsy.
"Semoga dokter, setidaknya saya juga sudah berusaha. Semoga saja posisi Babiesnya sudah baik," jawab Indi.
"Kita lihat dengan USG, baik ... sekarang posisi bayinya sudah baik, Mom."
Mendengar bahwa posisi bayinya sudah benar dan tidak lagi melintang tentu saja Indi merasa sangat lega. Seolah rasa cemas yang selama ini dia rasakan berkurang. Sebab, memang Indi menginginkan posisi bayinya bisa kembali normal.
"Ke detak jantung bayi-bayinya dulu yah," kata dokter Arsy.
Mulailah terdengar detak jantung bayi kembar yang sekarang berada di dalam rahim Indi. Sama seperti biasanya, mendengar detak jantung bayi-bayinya membuat Indi dan Satria sangat terharu.
"Masih bagus yah detak jantungnya. Cuma, ada kabar buruknya ini, Mom."
__ADS_1
Baru sesaat kecemasan Indi berkurang karena posisi bayinya yang sudah tidak melintang. Akan tetapi, sekarang dia kembali cemas. Kabar buruk apa lagi yang terjadi sekarang?
"Ketubannya Mom kok berkurang banyak yah? Mom merasakan rembes tidak? Takutnya merasakan rembes ketubannya, tapi enggak kerasa. Ini ketubannya sedikit banget, bahkan nyaris kering," kata dokter Arsy.
Seketika Indi merasa lebih khawatir. Ada pikiran buruk yang memenuhi kepalanya sekarang. Bahkan mata Indi sudah berkaca-kaca.
"Jadi, bagaimana dok? Kayaknya enggak rembes deh, dok ... saya cuma lebih sering buang urine saja," balas Indi.
"Kehamilannya Mom sekarang sudah 38 minggu. Kita lahirkan saja ya, Mom? Sudah cukup dan siap untuk lahir juga Babiesnya," kata dokter Arsy.
Seketika Indi merasa begitu kalut. Bagaimana bisa air ketuban tiba-tiba berkurang dengan begitu banyak, bahkan advice yang diberikan dokter Arsy adalah untuk melahirkan bayinya.
"Malam ini, Mom Indi langsung ke Rumah Sakit yah? Masuk malam ini dan besok kita lakukan operasi caesar," kata dokter Arsy.
Rasanya semuanya begitu mendadak. Indi belum persiapan sama sekali, dan sudah harus diminta ke rumah sakit. Bahkan Indi sempat menawar kepada dokter Arsy.
"Kalau saya ke rumah sakit besok aja gimana, dok?" tanyanya.
"Sekarang saja ya, Mom. Ketubannya sudah habis soalnya. Kasihan Babiesnya."
"Duh, saya deg-degan tuh, dok."
"Tidak apa-apa, Mom. Tenang saja, besok sudah akan bertemu dengan bayi kembarnya. Mom ini pulang dulu dan persiapkan barangnya dulu, terus langsung ke rumah sakit yah? Saya berikan surat pengantar saja, nanti langsung diurus di sana."
Indi saja sudah panik. Satria yang turut mendengarkan juga sangat panik. Namun, Satria harus tenang supaya dia bisa menenangkan istrinya. Jika kedua belah pihak sama-sama panik, hasilnya juga tidak akan bagus.
__ADS_1
Sungguh, ini bukan kondisi yang baik. Kondisi yang benar-benar tak terduga. Bahkan advice dari dokter Arsy saja meminta Indi untuk ke Rumah Sakit sekarang juga. Sekali lagi Indi mengalami tekanan di mentalnya. Sungguh, kehamilan keduanya ini rasanya tidak mudah.