Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Sakit Dadakan


__ADS_3

Satria agaknya benar-benar tidak mengerti dengan kondisi badannya sekarang. Yang pasti badannya sangat tidak enak. Tengah malam sampai Satria terbangun. Jika sebelumnya dia mengeluh seperti masuk angin, sekarang Satria merasa tubuhnya menggigil kedinginan. Satria sampai menarik selimut dan mengcover seluruh tubuhnya. Biasanya dingin, cukup menyelimuti diri dan sudah hangat. Akan tetapi, sekarang rasanya justru bertambah dingin.


Ketika Satria ingin membangunkan Indi, dia sendiri merasa tidak tega. Istrinya itu pasti juga kecapekan. Terlihat tidur Indi yang sangat lelap. Akhirnya, Satria berusaha tidak mengusik tidur istrinya itu. Dia bersembunyi di balik selimut dan meringkuk kecil.


Akan tetapi, gerakan Satria itu rupanya membangunkan Indi. Ya, wanita itu terbangun dan memperhatikan suaminya. Dia elus perlahan lengan suaminya dan bertanya.


"Kamu kenapa, Mas? Kebangun jam segini?" tanya Indi dengan suaranya yang serak.


"Aku kok ... kedinginan banget sih, Yang," keluhnya dengan menunjukkan tubuhnya yang bergetar lantaran kedinginan.


Indi pun terbangun. Kemudian dia menyentuh lagi kening suaminya. Berniat untuk mengecek suhu tubuh suaminya itu. Saat Indi meraba kening Satria, pria itu tak demam. Akan tetapi, kenapa bisa kedinginan. Indi pun bangkit dia mengambil minyak kayu putih dan mengusapkan minyak kayu putih itu di dada, perut, dan punggung suaminya. Setelahnya, Indi bahkan membuatkan sendiri Jahe Gepuk. Walau tengah malam, Indi berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi suaminya. Sembari Indi mengingat-ingat lagi makanan apa yang sudah dimakan oleh suaminya. Sebab, bisa saja Satria salah makan atau sebagainya.


Kembali ke kamar dengan membawa segelas Jahe Gepuk. Kemudian, Indi membantu Satria untuk duduk, meminum jahe Gepuk itu. Setidaknya kandungan jahe bisa menghangatkan tubuh.


"Diminum dulu, Mas," kata Indi.


"Hm, iya. Makasih Sayang ... maaf, merepotkan kamu malam-malam," kata Satria.


"Tidak apa-apa. Tadi siang Mas makan apa? Takutnya kalau salah makan," kata Indi perlahan.


"Beli Soto di depan kantor kok, Sayang. Biasanya juga sering makan itu. Kenapa yah? Biasanya aku gak pernah sakit," balas Satria.


Memang sebenarnya Satria adalah seorang pria yang memiliki daya tahan yang cukup baik. Dia juga terbilang jarang sekali sakit. Indi juga bingung. Kalau suhu tubuhnya tinggi, bisa saja demam. Namun, suhu tubuh Satria sama sekali tidak tinggi, tapi kenapa bisa kedinginan menggigil.


"Ya sudah, istirahat ... untung besok weekend, jadi Mas bisa istirahat dulu," kata Indi.


Kembali Satria meminta dipeluk oleh istrinya itu. Bahkan Indi juga tidak tidur, dia memastikan suaminya bisa tidur terlebih dahulu. Sebab, Indi sendiri merasa khawatir dengan kondisi suaminya. Satria yang mendapatkan usapan di kepalanya perlahan-lahan tertidur. Dingin di badannya juga berkurang, Satria pun mulai bisa tidur dengan nyenyak.

__ADS_1


Setelah Satria bisa tertidur barulah Indi mulai memejamkan matanya. Sembari banyak doa yang dia ucapkan dalam hati supaya suaminya bisa segera sehat. Sebab, Indi sendiri juga kepikiran dengan Satria yang tiba-tiba sakit.


Rasanya baru tidur beberapa jam, rupanya alarm di handphone Indi sudah berbunyi. Tandanya hari sudah pagi. Begitu bangun yang dilakukan Indi adalah mengecek suhu tubuh suaminya terlebih dahulu dengan meraba bagian keningnya. Rupanya Satria tidak demam. Syukurlah, Indi menjadi lega rasanya.


Setelah itu, dia menuju ke dapur dan membuat sarapan. Lantaran suaminya baru tidak enak badan, lebih baik memasak Sup. Bisa untuk suaminya dan sekaligus untuk anak-anaknya.


Hampir satu jam menyelesaikan untuk membuat sarapan, sekarang Indi naik lagi menuju ke kamar atas. Dia menuju ke kamar Nakula dan Sadewa terlebih dahulu. Rupanya kedua putranya itu masih tertidur. Kemudian, Indi menuju ke kamarnya sendiri, rupanya Satria sudah bangun. Tidak ada Satria yang berbaring lagi di tempat tidur.


Samar-samar Indi mendengar suara dari dalam kamar mandi. Suara seseorang sedang mual dan muntah. Dengan gemericik air di sana. Tanpa berpikir panjang, Indi segera mendorong pintu kamar mandi. Rupanya benar, suaminya tengah berusaha mengeluarkan isi perutnya. Wajah Satria tampak memerah, satu tangannya memegangi perutnya.


"Kenapa Mas? Muntah yah?"


"Iya, Sayang. Duh, cuma mengeluarkan air saja sakitnya kayak gini," kata Satria.


Indi kemudian memijat bagian tengkuk suaminya itu. Berusaha melegakan rasa mual yang diderita oleh suaminya. Bahkan Indi juga mengambilkan beberapa tissue.


"Tidak apa-apa, Mas. Aku kan istrimu. Tidak apa-apa."


Beberapa menit di depan wastafel dan mengeluarkan seluruh isi perutnya, lidah dan tenggorokan Satria rasanya sampai pahit. Setelah itu, Indi menggosokkan lagi minyak kayu putih ke dada, perut, dan punggung suaminya. Rasanya benar-benar kasihan dengan Satria.


"Ke Dokter aja yuk, Mas?" ajak Indi kepada suaminya.


"Enggak usah, Sayang. Palingan aku hanya masuk angin kok. Bentar lagi juga pasti akan sembuh," balasnya.


"Kok sejak semalam loh, Mas. Aku menjadi kepikiran," balas Indi.


"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja kok, Sayang. Cuma butuh istirahat aja," balas Satria.

__ADS_1


Baru saja Satria mengatakan demikian, ada dua langkah kaki yang menuju ke dalam kamar mereka. Rupanya Nakula dan Sadewa sudah bangun. Indi kemudian memeluk kedua putranya itu.


"Pagi, Nakula dan Sadewa ...."


"Agi, Mma," jawab keduanya dengan kompak.


Kemudian giliran Satria yang memberikan pelukan untuk Nakula dan Sadewa. Walau sakit dan badannya tidak karuan, Satria tetap menyambut kedua putranya itu.


"Pagi ..., putra-putranya Papa," sambut Satria.


"Agi, Ppa ...."


"Papa kurang sehat, Nakula dan Sadewa hari ini maen sama Mama dulu yah. Papa harus banyak istirahat dulu, biar Papa cepet sembuh," kata Indi kepada kedua putranya.


Dua pasang mata yang bening itu menatap Satria. Keduanya juga tahu sekarang adalah hari Sabtu. Waktunya Nakula dan Sadewa bisa bermain seharian dengan Papanya. Akan tetapi, Mamanya sudah mengatakan bahwa Papanya sedang sakit.


"Ke Okter, Mma ... njuss ... cuntik," kata Sadewa.


Ya, Sadewa hanya sering melihat entah itu di buku atau channel Youtube kalau seseorang sakit akan ke Dokter dan disuntik. Indi pun tersenyum dan mengusap perlahan puncak kepala Sadewa.


"Kalau nanti sakitnya Papa belum berkurang, Mama akan mengajak Papa ke Dokter. Makasih Sadewa," kata Indi.


"Atit, Ppa?" tanya Nakula.


Satria kemudian menganggukkan kepalanya. "Agak sakit, Nakula. Doakan Papa yah, biar Papa cepet sembuh. Kalau sudah sembuh, Papa bisa main-main sama Nakula dan Sadewa."


Akhirnya dua putra kembarnya itu mulai memeluk Satria bersamaan. Indi tersenyum. Walau kadang terbentur dengan kosakata yang belum banyak dikuasai oleh Nakula dan Sadewa, tapi terlihat keduanya peduli dan sangat sayang dengan Papanya. Satria juga memeluk kedua putranya itu. Hatinya menjadi menghangat, dan juga Satria termotivasi ingin cepat sembuh supaya bisa bermain dengan Nakula dan Sadewa.

__ADS_1


__ADS_2