
Sepeninggal Satria dan Indi, banyak teman-teman yang menyayangkan sikap Rinda. Bukan hanya Rendi, tapi juga beberapa teman yang hadir di sana. Bisa-bisanya Rinda melakukan body Shaming secara terang-terangan.
"Kebangetan kamu, Rin. Tidak melihat istrinya Satria baru hamil, malahan body shaming."
"Gak sopan, kalau aku istrinya Satria, udah tak gampar bibirmu, Rin."
"Pernikahanku jadi perpecahan temen SMA sendiri. Tega kamu, Rin."
Sampai mempelai wanita pun menyesalkan tindakan Rinda. Apa yang Rinda lakukan sebenarnya banyak dijumpai di sekitar kita. Sadar atau tidak sadar memang banyak orang yang melakukan body shaming dan membully ibu hamil. Ya, ibu hamil yang mengalami kelonjakan berat badan, tak jarang muncul stretch marks, wajah yang bisa berjerawat atau kusam, dan beberapa hal lainnya. Semua itu tak terjadi dengan tiba-tiba, tapi pengaruh hormon dalam tubuh.
Tak jarang body shaming juga datang dari keluarga sendiri. Orang terdekat yang seharusnya menenangkan dan memberi rasa aman, justru merendahkan dan melakukan body shaming.
Usai mendapatkan ucapan dari teman-temannya barulah Rinda merasa menyesal. Tak biasanya, Satria sampai marah. Bahkan selama di SMA, Satria tak pernah marah. Namun, sekarang Satria benar-benar marah.
"Maaf, Sayang. Kamu justru diperlakukan buruk kayak gini," kata Satria dengan rasa menyesal.
Memasuki mobil suaminya barulah Indi terdiam. Berusaha menenangkan diri, tapi kalau teringat ucapan Rinda yang membandingkannya dengan Karina membuat hati Indi seketika terasa sakit dan kesal. Bagaimana pun, Indi juga manusia yang bisa merasa kesal dan sebal.
"Untung dia wanita, kalau cowok udah adu jotos," kata Satria lagi.
Satria tahu istrinya diam pastilah kesal dan sebal. Setelahnya, Satria menggenggam kedua tangan istrinya. Waktu itu memang Satria baru menghidupkan mesin mobilnya saja. Belum mulai mengemudikan mobilnya.
"Maaf yah," kata Satria.
"Mulai sekarang, kalau ada acara di teman-temannya Mas Satria mending Mas sendiri aja. Untuk apa aku mendampingi kalau cuma menerima body shaming dan dibanding-bandingkan," balas Indi.
__ADS_1
Ditambah gejolak hormon karena sedang hamil, Indi merasa sedih dan kesal. Dia merasa selama ini selalu menjaga mulutnya, tidak pernah berkomentar buruk tentang orang lain. Akan tetapi, sekarang dia justru menerima perlakuan yang tidak mengenakan.
"Aku tahu perasaanmu, Sayang. Maaf yah," kata Satria.
Indi masih diam, semua itu karena dia memang sebal. Sebenarnya Indi mengakui bahwa banyak lipatan lemak di badannya. Bagian pipi, lengan, paha, dan pantat yang lebih besar. Tak hanya itu, Indi juga mengalami kerontokan rambut. Hal ini juga alamiah karena perubahan hormon signifikan sehingga mengakibatkan rambut menjadi rapuh dan mudah rontok. Biasanya kerontokan rambut ini berlangsung sejak usia kandungan lima bulan, hingga masa menyusui nanti. Namun, kadang kala orang sibuk membully dan melakukan body shaming begitu saja. Tidak melihat semua yang dialami Bumil.
Tak berselang lama, grup chat SMA Satria pun menjadi ramai. Bahkan temannya yang menjadi pengantin wanita sampai meminta maaf kepada Satria dan Istrinya. Beberapa teman yang lain juga menyayangkan sikap Rinda.
"Ada temenku yang minta maaf, Sayang. Aku juga meminta maaf yah. Aku tahu kamu sebel dan marah. Tolong jangan dimasukkan hati yah," pinta Satria.
"Kita pulang saja, Mas," balas Indi.
Satria menganggukkan kepalanya. Dia memilih melajukan mobilnya sekarang, akan segera menuju ke kota Jogjakarta untuk mengajak Indi pulang. Daripada permintaan Indi tidak dituruti dan nanti Bumil bisa makin bad mood.
Hingga akhirnya, sekarang mereka sudah tiba di Jogjakarta. Hari pun sudah sore. Tak banyak berbicara, Indi memilih mandi dan menyegarkan dirinya. Indi pun memilih keramas berharap dinginnya air bisa mendinginkan kepalanya itu.
Satria sampai bingung sendiri ketika istrinya tiba-tiba diam seperti ini. Akan tetapi, Satri memahami satu hal bahwa diperlakukan tidak enak seperti tadi memang tidak mengenakkan. Membuat kemarahan memuncak dengan sendirinya. Namun, Satria juga bingung kalau istrinya diam terlalu lama.
Usai Indi mandi, Satria juga membersihkan dirinya dulu. Setelahnya menyusul Indi yang duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya. Satria kian khawatir melihat Indi yang menangis.
"Kok menangis," kata Satria dengan lembut.
Indi masih diam dan tidak menjawab. Hingga akhirnya, Satria memeluk istrinya itu. Bagaimana perasaan Indi sekarang, sedikit banyak Satria tahu.
"Aku gak suka dibanding-bandingkan dengan Karin," kata Indi sekarang dengan menangis.
__ADS_1
Pastilah luapan emosi ini karena perubahan hormon di dalam tubuhnya efek dari kehamilan Indi sekarang. Selain itu, semua wanita kalau dibanding-bandingkan dan menerima body shaming rasanya juga sedih.
"Jangan dimasukkan hati. Aku tahu tadi itu membuatmu sakit dan kesal. Jangan menangis, ingat kalau Mamanya nangis, adik Babies di sini juga sedih loh," kata Satria.
"Hamil aku jadi jelek yah, Mas? Enggak cantik lagi," kata Indi.
"Enggak. Jangan dengarkan ucapan Rinda. Kamu selalu cantik di mataku. Kamu juga mendengar sendiri bagaimana aku membelamu. Sudah, Sayang," kata Satria.
Sebagai suami, Satria berusaha memahami sudut pandang istrinya. Satria juga berkata jujur bahwa di matanya Indi selalu cantik. Tidak peduli kalau terjadi kelonjakan berat badan di tubuh Indi sekarang. Lagipula, Indi juga hamil bayi kembar sehingga memang lonjakan berat badannya lebih banyak dibandingkan wanita yang hamil normal hanya satu janin.
Dari sofa, Indi memilih menaiki ranjang. Dirinya sangat lelah, kepala pun rasanya menjadi berat. Lebih baik Indi sekarang beristirahat saja. Sementara Satria memeluk istrinya itu. Sampai malam Satria menunggu dan Indi masih belum bangun, akhirnya Satria memilih membangunkan istrinya perlahan.
"Sayang ... Sayangku, bangun dulu yuk. Minum obat dulu," kata Satria.
Akan tetapi, Indi menggelengkan kepalanya. "Hm, ngantuk."
Satria merasa kasihan. Istrinya tidur dengan hati yang kesal, perut pun kosong sekarang. Satria khawatir kalau esok pagi Indi akan sakit.
"Bangun dulu, lima menit aja."
Indi menggeleng lagi, dia justru menarik selimut untuk menyelimuti tubuhnya. Akhirnya Satria memilih mengalah. Bisa dikatakan ini menjadi Indi bad mood begitu lama. Walau begitu, Satria berharap esok pagi ketika Indi bangun, dia sudah jauh lebih baik.
"Ya sudah, bobok saja. Besok pagi langsung sarapan dan juga minum obatnya. Jangan lama-lama marahnya," kata Satria.
Hingga akhirnya, Satria turut merebahkan dirinya di sisi istrinya. Satria membawa Indi dalam pelukannya. Tidak menyangka mood Indi akan seperti ini. Walau begitu, Satria tetap berharap bahwa esok pagi Indi sudah lebih baik.
__ADS_1